Kemenangan diplomasi di depan gerbang kediaman tidak membuat Lin Yue’er terlena. Baginya, kepanikan Kasim Zhao dan tawa kepuasan warga Jiangnan barulah riak kecil di permukaan telaga. Badai yang sesungguhnya sedang bersiap di ibu kota utara. Begitu Kasim Zhao kembali dan melaporkan bagaimana martabat Permaisuri Meng Chuqiao diinjak-injak di hadapan publik selatan, istana tidak akan tinggal diam. Mereka akan menggunakan instrumen yang paling mematikan untuk menghancurkan Keluarga Lin: tekanan ekonomi dan manipulasi birokrasi perdagangan.
Siang itu, matahari Jiangnan bersinar terik, memantulkan cahaya berkilau di atas permukaan kolam ikan di halaman tengah. Namun, di dalam ruang kerja Tuan Lin, suasananya terasa dingin dan tegang.
Di atas meja kayu ek yang besar, bertumpuk belasan buku besar berkaver kain rami cokelat, catatan keuangan dan logistik dari dua lini bisnis utama Keluarga Lin: jaringan karavan sutra distrik barat yang dikelola Lin Feng, dan perkebunan teh hijau di lereng perbukitan Jiangnan yang diawasi langsung oleh Tuan Lin. Di samping buku-buku itu, berserakan lembaran surat tuntutan pajak dari kantor gubernur wilayah dan nota penolakan barang dari berbagai pelabuhan dagang.
Tuan Lin duduk dengan kepala ditopang kedua tangannya, gurat-gurat kelelahan dan usia tua tampak jelas di wajahnya. Di dekat jendela, Lin Feng berdiri sambil mengepalkan tangan, rahangnya mengeras menatap catatan-catatan di atas meja.
"Mereka sudah mulai bergerak," ujar Lin Feng, suaranya berat oleh amarah yang tertahan. "Baru tadi pagi, tiga kapal kargo kita yang membawa teh hijau ke wilayah pesisir ditahan di dermaga utama oleh otoritas pelabuhan. Alasan mereka sangat mengada-ada, pemeriksaan karantina kutu daun. Padahal, semua orang tahu pelabuhan itu sekarang dikendalikan oleh Kamar Dagang Meng melalui sepupu Jenderal Meng yang baru diangkat menjadi pengawas bea cukai selatan."
Tuan Lin menghela napas panjang, suaranya terdengar pasrah. "Bukan hanya itu, Feng'er. Kantor gubernur wilayah juga mengirimkan surat penyesuaian pajak. Mulai bulan depan, pajak tanah untuk perkebunan teh Keluarga Lin dinaikkan sebesar tiga puluh persen. Mereka berdalih ini adalah sumbangan wajib untuk mendanai pemulihan pasca-perang di perbatasan barat. Ini bukan sekadar penyesuaian; ini adalah cara halus untuk mencekik leher kita sampai kita menyerahkan seluruh aset tanah kita kepada Kamar Dagang Meng dengan harga murah."
"Kamar Dagang Meng sengaja melakukan ini untuk membalas dendam atas kejadian kemarin!" bentak Lin Feng, menghantam bingkai jendela. "Mereka ingin membuat kita kelaparan di tanah kelahiran kita sendiri!"
Di tengah keputusasaan dan amarah kedua pria itu, pintu ruang kerja bergeser terbuka tanpa suara. Lin Yue’er melangkah masuk dengan keanggunan yang mutlak. Dia tidak lagi mengenakan kain katun kasar dari kapal dagang, melainkan jubah katun berwarna biru langit yang bersahaja namun rapi. Rambut hitamnya diikat setengah ke belakang dengan tusuk konde bambu sederhana, menampilkan wajah tirusnya yang memancarkan ketenangan yang kontras dengan ketegangan di dalam ruangan.
"Amarah tanpa strategi hanya akan mempercepat kejatuhan kita, Kakak," ucap Yue’er lembut namun memiliki gaung yang kuat, membuat Lin Feng seketika terdiam.
Yue’er berjalan mendekati meja kerja, matanya yang jernih langsung menyapu tumpukan buku besar keuangan tersebut. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, jemari lentiknya yang terbiasa memeriksa dokumen rahasia negara mulai membuka lembar demi lembar buku besar milik keluarga Lin.
Ruang kerja itu hening selama beberapa menit. Hanya ada suara gesekan kertas sutra dan ketukan ritmis jemari Yue’er di atas meja. Tuan Lin dan Lin Feng hanya bisa terpaku, memperhatikan bagaimana mata Yue’er bergerak dengan kecepatan luar biasa, membaca deretan angka dan aksara pembukuan tradisional yang rumit.