Dua minggu berlalu dalam keheningan yang mencekam di distrik barat Jiangnan. Sesuai dengan taktik kelangkaan palsu yang dirancang oleh Lin Yue’er, toko-toko kelontong milik Keluarga Lin sengaja ditutup setengah tiang. Jaringan karavan dagang Lin Feng tidak lagi terlihat hilir mudik di pelabuhan utama, dan gerbang gudang penyimpanan mereka tampak terkunci rapat dari luar.
Di pasar bebas, para antek Kamar Dagang Meng mulai tertawa jemawa. Di kedai-kedai minuman, perwakilan mereka dengan angkuh sesumbar bahwa Keluarga Lin telah bertekuk lutut akibat sanksi sepihak dari kantor gubernur. Mereka mengira kepulangan Lin Yue’er benar-benar membawa sial dan kebangkrutan mutlak bagi keluarga pejabat daerah rendahan tersebut.
Namun, di balik dinding-dinding tinggi gudang rahasia yang terletak di pinggiran terpencil Jiangnan, suasananya justru berbanding terbalik. Tempat itu menjelma menjadi kuali kreativitas yang membara di bawah pengawasan ketat Lin Yue’er.
Sepuluh penenun dan penyulam wanita terbaik yang dipilih oleh Lin Feng bekerja dalam sif tanpa putus. Udara di dalam gudang itu beraroma wangi lilin lebah, minyak pinus, dan uap rebusan daun teh. Di tengah ruangan, Yue’er berdiri dengan tenang, memperhatikan setiap detail gerakan tangan para pekerja. Dia tidak lagi sekadar menggunakan teknik guratan es yang dia demokan sebelumnya; kali ini, dia mengeluarkan kartu as yang jauh lebih mematikan, sebuah rahasia pusaka istana yang dikenal sebagai Teknik Sulam Benang Emas Tersembunyi.
"Perhatikan jarak ketukan jarum kalian," suara Yue’er mengalun tegas, memecah deru mesin tenun kayu. "Di istana dalam, sehelai kain jubah kebesaran tidak dinilai dari seberapa tebal emas yang dipamerkan di permukaannya. Itu gaya orang kaya baru yang norak. Keagungan sejati terletak pada misteri."
Yue’er mengambil seutas benang yang sangat unik. Benang itu bukan berasal dari pilinan logam emas biasa yang kaku dan tebal, melainkan benang sutra putih kualitas tertinggi yang dilapisi secara mikroskopis dengan bubuk emas murni yang dilarutkan dalam minyak cengkih rahasia, sebuah formula yang dia curi dari catatan manufaktur Kementerian Rumah Tangga Kerajaan.
"Jika kalian menyulamnya secara tegak lurus, benang emas ini akan tertutup oleh serat kain sutra dasar yang berwarna gelap," Yue’er mendemonstrasikan gerakan jarumnya sendiri di atas selembar kain sutra hitam legam. Jemarinya bergerak dengan kecepatan dan presisi seorang maestro. "Tetapi, jika kalian menyulamnya dengan sudut kemiringan tiga puluh derajat secara berlapis, benang emas ini hanya akan memantulkan cahayanya ketika kain ini bergerak ditiup angin atau terkena pantulan langsung cahaya lilin malam. Di dalam ruangan redup, kain ini akan tampak seperti kain hitam biasa. Namun, begitu pemakainya melangkah ke bawah cahaya matahari atau lampion perjamuan, pola naga air atau awan emas akan mendadak menyala seolah keluar dari dalam kain."
Para penyulam tua itu menahan napas menyaksikan keajaiban di depan mata mereka. Kain hitam di tangan Yue’er mendadak memancarkan pendaran keemasan yang sangat anggun dan mistis ketika dia memiringkan posisinya ke arah jendela. Pola itu tidak timbul secara kasar, melainkan menyatu di dalam serat kain seperti jiwa yang tersembunyi.
"Ini luar biasa, Nona..." bisik salah satu penyulam senior dengan mata berbinar-binar. "Kamar Dagang Meng bahkan tidak akan mampu meniru ini dalam waktu sepuluh tahun!"
"Mereka tidak akan bisa menirunya, karena formula minyak pelarut emas ini hanya ada di dalam kepalaku," jawab Yue’er dengan senyum tipis yang sarat akan kelicikan strategis. "Dalam tiga hari ini, kita harus menyelesaikan tiga puluh helai jubah wanita menggunakan teknik ini. Kita akan menamakannya Sutra Emas Guratan Es."
Hari Sabtu yang dinantikan akhirnya tiba. Paviliun Bunga Melati, rumah teh termewah di distrik timur Jiangnan, telah dipadati oleh kereta-kereta kuda berhias permata. Hari itu adalah Perjamuan Minum Teh Musim Gugur, sebuah ajang sosial paling bergengsi di mana para istri pejabat tinggi, mak-mak bangsawan dari wilayah tetangga, dan nyonya saudagar kaya berkumpul untuk saling memamerkan perhiasan, pakaian, dan pengaruh sosial mereka.
Gosip misterius tentang "Kain Sutra dari Surga yang Terbuang" yang disebarkan oleh Lin Mu selama dua minggu terakhir telah mencapai puncaknya. Sajak-sajak pendek yang ditempel secara anonim di dinding akademi sastra dan dibisikkan oleh para pelayan rumah teh telah menyulut rasa penasaran yang luar biasa di kalangan wanita kelas atas tersebut. Mereka semua penasaran, barang seperti apa yang dikatakan "hanya layak dipakai oleh mereka yang berselera setingkat permaisuri."
Di aula utama paviliun yang luas, Nyonya Meng, istri dari kepala Kamar Dagang Meng sekaligus sepupu Jenderal Agung di utara, duduk di kursi utama dengan keangkuhan yang meluap-luap. Dia mengenakan jubah sutra merah menyala dengan sulaman emas yang tebal dan mencolok, menatap rendah ke sekeliling ruangan.
"Aku mendengar rumor murahan tentang kain langka yang akan dilelang hari ini," ujar Nyonya Meng sambil mengipasi wajahnya dengan kipas cendana. "Paling-paling itu hanya taktik dagang dari pedagang kecil yang hampir bangkrut untuk menarik perhatian. Di seluruh wilayah selatan ini, tidak ada kain sutra yang bisa menandingi pasokan kain awan milik Kamar Dagang Meng."
Para istri pejabat lain buru-buru mengangguk setuju, tidak berani menyinggung wanita yang memiliki koneksi langsung dengan permaisuri baru di ibu kota tersebut.