Kekayaan yang melimpah dari penjualan Sutra Emas Guratan Es tidak membuat Lin Yue’er silau. Di dunia yang penuh dengan pergolakan politik, emas tanpa informasi yang akurat hanyalah umpan manis yang akan mengundang serigala untuk menerkam. Bagi Yue’er, setiap keping emas yang mengalir ke kas Keluarga Lin harus diubah menjadi mata dan telinga yang tersebar di seluruh penjuru daratan.
Langkah taktis berikutnya dalam papan catur yang dimainkannya bukanlah memperluas gudang sutra, melainkan membangun sebuah pusat kendali informasi. Tempat yang paling sempurna untuk mengumpulkan rahasia bukanlah di ruangan tertutup penuh konspirasi, melainkan di tempat paling ramai di mana semua orang melepaskan kewaspadaan mereka: warung teh.
Dalam waktu kurang dari tiga minggu, di bawah pengawasan ketat Lin Feng, sebuah bangunan kayu berlantai tiga berdiri dengan megah di persimpangan jalur perdagangan utama Jiangnan. Tempat itu dinamakan Kedai Teh Qingfeng (Angin Segar).
Lokasinya sangat strategis, tepat di titik temu antara dermaga kapal kargo selatan, jalur karavan berkuda yang menuju ke ibu kota utara, dan penginapan para utusan daerah. Siapa pun yang memasuki atau meninggalkan wilayah Jiangnan, baik itu saudagar kaya, pengantar surat kilat kekaisaran, tentara yang sedang cuti, hingga kuli angkut pelabuhan, pasti akan berhenti di persimpangan ini untuk melepaskan dahaga.
Sore itu, kabut tipis khas Jiangnan mulai turun, menyelimuti atap-atap genting Kedai Teh Qingfeng. Di lantai tiga yang merupakan area privat, Lin Yue’er duduk di balik tirai bambu yang tipis. Dari posisinya, dia bisa melihat dengan jelas ke seluruh penjuru lantai bawah tanpa ada orang yang menyadari keberadaannya.
Di depannya, sebuah meja rendah dipenuhi oleh potongan-potongan kertas kecil yang diikat dengan benang merah, catatan intelijen harian yang disaring dari obrolan para pengunjung di lantai bawah. Di samping meja, berdiri Lin Mu, pelayan setianya yang kini menjabat sebagai kepala pengawas pelayan di kedai tersebut.
"Bagaimana situasi di lantai bawah, Mu’er?" tanya Yue’er sambil menuangkan teh hijau ke cangkir porselen kecilnya. Suaranya tenang, namun penuh fokus.
Lin Mu membungkuk hormat, wajahnya yang biasa jenaka kini tampak serius. "Sesuai dengan cetak biru yang Nona rancang, sistem klasifikasi ruangan kita berjalan dengan sangat sempurna. Di lantai satu, kami sengaja menjual teh melati murah dengan harga beberapa keping tembaga, lengkap dengan camilan kacang gratis. Tempat itu sekarang dipadati oleh para kusir kereta, kuli dermaga, dan pengawal karavan. Dari mereka, kita mendapatkan informasi mentah tentang rute perjalanan, penutupan jalur militer, dan pergerakan logistik Kamar Dagang Meng."
Yue’er mengangguk puas. Orang-orang kecil sering kali dianggap tidak kasat mata oleh para penguasa, padahal mereka adalah urat nadi dari setiap pergerakan fisik di kekaisaran. "Lalu bagaimana dengan lantai dua dan tiga?"
"Di lantai dua, suasananya lebih tenang dan berkelas," lanjut Lin Mu. "Kami menyediakan teh oolong langka dan ruang bersekat untuk para saudagar menengah dan panitera kantor gubernur. Di sana, para pelayan kita yang telah dilatih secara khusus bertugas menuangkan teh dengan gerakan lambat, sengaja memperpanjang waktu berada di dalam ruangan untuk menguping pembicaraan tentang harga komoditas dan kebijakan pajak baru. Sedangkan lantai tiga... hari ini ada tamu khusus yang sedang minum di bilik barat."
"Siapa?" Mata Yue’er sedikit menyipit.