Malam Festival Musim Gugur tiba membawa pesona magis di atas langit Jiangnan. Bulan purnama bulat sempurna bersinar terang tanpa penghalang awan, memantulkan cahaya perak yang jernih di atas permukaan kanal-kanal yang membelah kota. Ribuan lampion kertas berbentuk teratai dan kelinci dihanyutkan oleh warga di sepanjang aliran air, menciptakan pemandangan laksana hamparan bintang yang runtuh ke bumi.
Jalanan distrik timur hingga distrik barat dipadati oleh lautan manusia. Aroma kue bulan yang baru dipanggang, wangi pekat arak osmanthus, dan suara tabuhan genderang dari panggung pertunjukan berbaur menjadi satu tirai kemeriahan. Bagi masyarakat Jiangnan, festival tahun ini terasa jauh lebih semarak, bukan hanya karena panen yang melimpah, melainkan karena rasa penasaran yang membuncah. Semua orang tahu bahwa malam ini, seluruh keluarga bangsawan dan saudagar besar akan berkumpul di pelataran luar Kuil Dewi Bulan untuk memamerkan kejayaan mereka.
Di sudut area perjamuan terbuka, Nyonya Meng duduk di paviliun kehormatan dengan wajah yang kaku, meskipun riasan wajahnya sangat tebal. Setelah kekalahan memalukan di lelang Sutra Emas Guratan Es beberapa minggu lalu, dia bertekad untuk merebut kembali panggung sosialnya malam ini. Dia mengenakan jubah sutra merah berlapis sulaman emas terbaik yang tersisa di gudangnya, dikelilingi oleh para istri pejabat lokal yang masih setia mencari mukanya.
"Lihat saja," cemooh Nyonya Meng sambil mengibas kipas sutranya dengan gusar. "Gadis buangan dari Keluarga Lin itu mungkin bisa memanipulasi beberapa puluh gulung kain dengan taktik licik. Namun, di bawah tatapan seluruh rakyat Jiangnan malam ini, sebuah batu kerikil yang terlempar dari istana utara tidak akan pernah bisa menjelma menjadi batu giok berharga. Dia tetaplah seorang wanita tanpa masa depan yang telah kehilangan tahtanya."
Sebelum para istri pejabat sempat menimpali ucapan Nyonya Meng, keriuhan mendadak mereda di ujung jembatan batu utama yang menghubungkan jalan raya dengan pelataran kuil. Suara obrolan ribuan warga di sepanjang bantaran kanal berangsur-angsur senyap, digantikan oleh bisikan penuh kekaguman yang menjalar cepat seperti ombak.
Kerumunan warga perlahan membuka jalan, memberikan ruang bagi serombongan kecil dari Kediaman Lin untuk melangkah maju.
Di baris depan, Lin Feng dan Lin Mu berjalan dengan postur tegak, mengenakan jubah sutra biru tua yang rapi. Namun, pandangan mata semua orang, mulai dari kuli pelabuhan, pedagang kaki lima, hingga para pejabat tinggi daerah, seketika terkunci sepenuhnya pada sosok wanita yang berjalan di antara kedua saudara laki-laki tersebut.
Itu adalah Lin Yue’er.
Malam ini, Yue’er tampil mengenakan pakaian hasil rancangan dan potongan jemarinya sendiri, sebuah mahakarya yang dia beri nama "Jubah Rembulan Di Atas Air". Pakaian itu tidak menggunakan warna merah mencolok yang pamer kekayaan, melainkan perpaduan gradasi warna putih perak di bagian dalam dan kain sutra tipis sewarna biru malam di bagian luar.