Ratu Tanpa Mahkota

Tethy Ezokanzo
Chapter #14

ISTANA MULAI KELAPARAN

Efek domino dari strategi ekonomi yang dirancang Lin Yue’er di Jiangnan akhirnya menghantam ibu kota utara dengan daya hancur yang tidak terbayangkan. Seperti remasan tak kasat mata yang perlahan namun pasti mencekik urat nadi kehidupan, boikot perdagangan rahasia dan pengosongan lumbung logistik selatan telah mengubah kemegahan Kota Terlarang menjadi sebuah penjara emas yang sunyi dan mencekam.

Ketika musim dingin pertama mulai turun menyelimuti atap-atap genting emas istana dengan salju putih yang tebal, krisis tersebut tidak lagi bisa disembunyikan di balik dinding-dinding tinggi kementerian. Ibu kota kekaisaran, yang biasanya menjadi pusat kemewahan dan kelimpahan, kini mulai kelaparan.

Di dalam Aula Pertemuan Besar Kementerian Keuangan, suasananya terasa sedingin es di luar ruangan. Belasan menteri senior dan panitera pembukuan duduk dengan wajah pucat, menatap tumpukan gulungan laporan keuangan yang semuanya ditandai dengan tinta merah, simbol defisit mutlak.

"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?!" bentak Jenderal Meng, menghantam meja kayu jati di hadapan Menteri Keuangan dengan tinjunya yang kuat. Zirah besinya bergemerincing keras, memecah keheningan aula. "Dua minggu lalu, Anda berjanji akan mencairkan tiga ratus ribu keping emas untuk pengiriman jatah musim dingin Pasukan Panji Hitam di perbatasan barat! Sekarang, para prajuritku di garis depan terpaksa memakan daging kuda mereka sendiri karena pasokan gandum tidak kunjung datang!"

Menteri Keuangan, seorang pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya, gemetar hebat. Dia membungkuk hingga dahinya menyentuh lantai kayu dingin.

"Ampun, Jenderal Agung! Hamba tidak bermaksud menunda!" suara menteri tua itu bergetar menahan kepasrahan. "Kas negara benar-benar telah kosong! Jaringan Kamar Dagang Meng yang biasanya menyumbang empat puluh persen dari total pajak komoditas tahunan kita... mengalami kebangkrutan massal di wilayah selatan. Pasokan kain sutra awan kita mati total karena seluruh petani kepompong di Jiangnan menolak menjual bahan baku kepada kita. Mereka semua mengalihkan pasokan mereka ke jaringan dagang Keluarga Lin!"

"Keluarga Lin lagi?!" Jenderal Meng menggeram, matanya berkilat penuh amarah yang meledak-ledak. "Bukankah aku sudah memerintahkan kantor gubernur selatan untuk menaikkan pajak tanah mereka dan menahan kapal-kapal mereka?!"

"Mereka tidak peduli dengan kenaikan pajak, Jenderal!" timpal seorang panitera keuangan dengan suara cicitan ketakutan. "Keluarga Lin memiliki likuiditas tunai emas yang tak terbatas dari penjualan Sutra Emas Guratan Es. Mereka membayar pajak tiga puluh persen itu tanpa mengeluh sedikit pun! Dan yang lebih parah... tiga lumbung logistik rahasia kita di sepanjang Sungai Yangtze yang seharusnya menampung delapan puluh ribu tan gandum militer... ditemukan kosong melompong!"

Jenderal Meng terbelalak, langkah kakinya mundur satu langkah karena terkejut. "Kosong?! Bagaimana mungkin kosong?!"

"Para perwira pengawas kita di daerah telah berkhianat, Jenderal. Mereka diam-diam menjual gandum-gandum itu ke pasar gelap demi batangan emas tunai. Dan sekarang, mantan Menteri Zhao Ruo telah menggunakan dokumen audit resmi untuk mempublikasikan skandal korupsi ini ke seluruh kementerian dan akademi sastra di ibu kota. Seluruh rakyat menuduh faksi Meng sengaja menimbun dan menggelapkan makanan di tengah krisis musim dingin!"

Mendengar laporan berantai itu, Jenderal Meng merasa kepalanya mendadak pening. Strategi yang dihadapi ini begitu rapi, begitu bersih, dan menyerang dari tiga titik sekaligus: bahan baku, jalur distribusi, dan reputasi hukum. Ini bukan sekadar persaingan dagang biasa; ini adalah sebuah pengepungan militer tak kasat mata yang sengaja dirancang untuk melumpuhkan kekuatannya dari akar rumput.

Sementara itu, di dalam Paviliun Anggrek Barat yang hangat, Permaisuri Baru Meng Chuqiao sedang duduk di depan meja riasnya yang terbuat dari kayu mawar. Namun, tidak ada lagi keangkuhan yang biasa menghiasi wajah cantiknya. Sepasang matanya yang tajam tampak lelah, menatap kosong ke arah hidangan makan siang di atas meja porselennya.

Lihat selengkapnya