Ratu Tanpa Mahkota

Tethy Ezokanzo
Chapter #15

JEJAK SANG RATU DI ATAS SALJU IBU KOTA

Dinginnya musim dingin di ibu kota utara tidak lagi sekadar menusuk kulit, melainkan telah meresap hingga ke tulang-tulang fondasi Kekaisaran. Salju yang turun tanpa henti selama tiga minggu terakhir mengubur jalanan kota sedalam lutut orang dewasa, membekukan roda-roda kereta logistik, dan menghentikan perputaran roda ekonomi yang memang sudah sekarat. Di pemukiman kumuh distrik luar, suara tangis bayi yang kelaparan berbaur dengan lolongan angin malam yang beringas. Setiap pagi, kereta-kereta kayu pemerintah kota lewat hanya untuk mengangkut belasan mayat kaku rakyat jelata yang tewas membeku akibat tidak mampu membeli kayu bakar dan gandum yang harganya telah melambung hingga tiga puluh kali lipat.

Sementara ibu kota meratap dalam keputusasaan, di sebuah halaman belakang tersembunyi yang terletak di balik dinding tebal Kediaman Sastra Zhao, mantan menteri yang kini menjadi sekutu rahasia Lin Yue’er, kehangatan justru terasa begitu kontras.

Arang bambu berkualitas tinggi menyala tanpa asap di dalam tungku perunggu berkepala naga, menyebarkan kehangatan yang merata ke seluruh sudut ruangan perpustakaan pribadi yang luas. Aroma pekat dari teh melati yang baru diseduh menguar, berpadu dengan wangi tinta pinus segar dari lembaran-lembaran kertas pembukuan yang menumpuk rapi di atas meja kayu cendana.

Lin Yue’er duduk dengan anggun di balik meja tersebut, jemari lentiknya bergerak dengan ritme yang konstan dan menenangkan saat menggeser biji-biji sempoa giok hitam di hadapannya. Klak, klak, klak. Suara benturan halus batu giok itu adalah satu-satunya melodi yang mendominasi ruangan, sebuah melodi yang secara tak kasat mata sedang mengatur runtuhnya sebuah faksi raksasa di istana utara.

Malam ini, Yue’er mengenakan jubah beludru tebal sewarna hijau lumut dengan kerah bulu rubah putih yang membingkai wajahnya yang menawan namun dingin. Tidak ada lagi jejak gadis rapuh yang beberapa bulan lalu melangkah keluar dari gerbang belakang istana dengan air mata tersembunyi. Di kedua matanya yang jernih, kini hanya ada ketajaman seorang arsitek takdir yang sedang menyaksikan seluruh bidak caturnya jatuh tepat di tempat yang telah dia tentukan.

Di seberang meja, mantan Menteri Zhao Ruo duduk dengan secangkir teh di tangannya, menatap gadis muda di hadapannya dengan kombinasi rasa kagum dan ngeri yang mendalam. Sebagai seorang politisi kawakan yang telah mengabdi selama tiga dekade di bawah tiga kaisar berbeda, Zhao Ruo mengira dia telah melihat semua jenis kejeniusan taktikal. Namun, apa yang ditunjukkan oleh Lin Yue’er selama tiga bulan terakhir berada di luar nalar politik tradisional.

"Nona Lin," Zhao Ruo membuka suara, meletakkan cangkirnya perlahan agar tidak mengganggu konsentrasi Yue’er. "Laporan intelijen terbaru dari jaringan warung teh kita mengonfirmasi bahwa Jenderal Meng telah menarik sepuluh ribu pasukan elitnya dari garnisun pinggiran timur untuk mengamankan jalur distribusi pribadi milik Kamar Dagang Meng. Mereka benar-benar panik. Boikot yang Anda lakukan pada pasokan sutra dan garam dari selatan telah memotong jalur likuiditas tunai mereka hingga titik nadir."

Yue’er tidak langsung menjawab. Jemarinya melakukan satu ketukan terakhir pada sempoa, lalu dia meletakkan alat hitung itu dengan gerakan yang sangat halus. Dia mengangkat pandangannya, menatap Zhao Ruo dengan senyuman tipis yang tidak mencapai matanya.

"Menaikkan pasukan untuk mengamankan jalur dagang pribadi di tengah krisis nasional?" suara Yue’er terdengar jernih, mengalir seperti air mata air yang dingin. "Jenderal Meng baru saja menyerahkan lehernya sendiri ke dalam jerat yang kita pasang, Tuan Zhao. Di mata rakyat yang sedang kelaparan, tindakan itu adalah bukti mutlak bahwa faksi Meng lebih mementingkan isi perut mereka sendiri daripada keselamatan perbatasan."

Yue’er berdiri dari kursinya, melangkah perlahan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah luar halaman. Di luar, butiran salju tampak menari-nari ditiup angin sebelum mendarat di atas permukaan kolam batu yang telah membeku.

"Bagaimana dengan pergerakan di dalam istana?" tanya Yue’er tanpa berbalik.

Zhao Ruo menghela napas panjang, wajah tuanya tampak menegang. "Pangeran Long Wei telah kehilangan akal sehatnya. Kemarin malam, dia mengeluarkan dekret rahasia untuk mencairkan sisa emas dari dana darurat kuil kekaisaran demi membayar upah Pasukan Panji Hitam di perbatasan barat. Namun, pengiriman itu dicegat oleh badai salju di Pegunungan Taihang, atau setidaknya, itulah laporan resmi yang diterima istana."

Yue’er terkekeh rendah, sebuah tawa kecil yang terdengar sangat dingin di tengah kehangatan ruangan. "Badai salju tidak mencegat emas itu, Tuan Zhao. Badai salju hanyalah alasan yang nyaman bagi para bandit lokal yang sebenarnya adalah mantan prajurit yang desersi karena kelaparan. Logistik yang dikirim tanpa pengawalan ketat di musim dingin seperti ini sama saja dengan melemparkan daging segar ke tengah kawanan serigala yang kelaparan."

"Nona Lin," Zhao Ruo memajukan tubuhnya, suaranya berbisik rendah. "Pangeran Long Wei mulai mencurigai kesetiaan Jenderal Meng. Narasi yang Anda tiupkan melalui selebaran gelap di pasar-pasar ibu kota, tentang bagaimana hilangnya delapan puluh ribu tan gandum di selatan adalah taktik Meng untuk menimbun kekuatan demi kudeta, telah berakar dengan sangat kuat di kepala sang pangeran. Mereka berdua sekarang saling mengawasi bagaikan dua ekor harimau yang terluka di dalam satu kandang yang sempit."

Yue’er membalikkan tubuhnya perlahan, membiarkan cahaya lilin menerangi setengah wajahnya yang tampak begitu tenang namun berwibawa. "Paranoia adalah penyakit yang paling mematikan bagi seorang penguasa yang tidak memiliki dasar pijakan yang kuat, Tuan Zhao. Long Wei memilih Meng Chuqiao karena dia mengira kekuatan militer keluarga Meng bisa memantapkan takhtanya. Dia tidak pernah paham bahwa tentara tidak bertempur dengan janji kesetiaan; mereka bertempur dengan perut yang kenyang. Ketika perut mereka kosong, tombak yang seharusnya melindungi Long Wei akan berbalik mengarah ke dadanya sendiri."

Di saat yang sama, di dalam kediaman resmi Jenderal Meng yang megah di distrik utara, suasana justru berada di ambang ledakan amarah. Ruang aula utama yang biasanya dipenuhi oleh gelak tawa para perwira dan bau harum daging panggang, kini terasa suram dan mencekam.

Jenderal Meng berdiri di depan peta militer raksasa yang tergantung di dinding, wajahnya yang penuh cambang tampak kemerahan oleh kemarahan dan frustrasi yang tertahan. Di sampingnya, beberapa jenderal bawahan berdiri dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap mata sang panglima tertinggi.

"Katakan sekali lagi!" raung Jenderal Meng, suaranya menggelegar hingga membuat debu-debu di balok langit-langit berjatuhan.

Lihat selengkapnya