Keesokan paginya, matahari terbit dengan cahaya yang pucat dan samar, tertutup oleh lapisan awan kelabu yang menggantung rendah di atas ibu kota. Salju tidak lagi turun dengan lebat, namun sisa-sisa badai semalam meninggalkan lapisan es yang tebal di atas jalanan batu. Kota Terlarang tampak seperti raksasa batu yang membeku, sunyi namun menyimpan ketegangan yang siap meledak kapan saja.
Di depan gerbang utama istana, lautan manusia telah berkumpul sejak fajar menyingsing. Ribuan rakyat jelata, buruh pelabuhan yang kehilangan pekerjaan, hingga para janda prajurit perbatasan berdiri berdesakan dengan tubuh dibungkus kain rombeng. Napas mereka menguap di udara dingin saat mereka menggedor-gedor barikade kayu yang dijaga oleh barisan prajurit kekaisaran.
"Buka gudang kota! Berikan kami beras!"
"Anak-anak kami mati kelaparan, sedangkan para pejabat berpesta di dalam istana!"
"Di mana Pangeran Long Wei?! Mengapa dia bersembunyi?!"
Teriakan-teriakan itu bergema memantul di dinding-dinding batu istana yang tinggi. Para prajurit yang menjaga gerbang menatap kerumunan itu dengan tatapan mata yang tidak kalah lelah dan cemas. Tangan mereka yang memegang tombak bergetar, bukan hanya karena hawa dingin yang menusuk, melainkan karena perut mereka sendiri pun belum diisi sejak kemarin malam. Jatah makanan untuk penjaga istana telah dipotong hingga batas minimum. Di dalam hati kecil mereka, para prajurit itu tahu bahwa mereka sedang menodongkan senjata ke arah keluarga mereka sendiri yang berada di luar gerbang.
Sementara itu, di dalam Aula Sastra Kediaman Zhao, Lin Yue’er sedang meneliti sebuah peta topografi ibu kota yang terbentang luas di atas meja. Di sampingnya, Lin Feng dan Lin Mu baru saja tiba dengan pakaian yang masih basah oleh sisa-sisa salju yang mencair.
"Yue’er, semuanya berjalan sesuai rencana," kata Lin Feng, menyeka keringat dingin di dahinya meskipun cuaca sangat membeku. "Jaringan kereta logistik kita dari Jiangnan telah mendirikan dua puluh posko bantuan di distrik luar kota. Seratus ribu ton gandum dan sup hangat dibagikan setiap jam. Rakyat benar-benar mengalir ke pihak kita. Mereka tidak lagi melihat istana sebagai pusat kekuasaan, bagi mereka, Kediaman Zhao dan Keluarga Lin adalah satu-satunya sumber kehidupan saat ini."
Yue’er mengangguk perlahan, wajahnya tetap tenang tanpa riak emosi. "Bagaimana dengan pergerakan militer Jenderal Meng?"
Lin Mu melangkah maju, menunjuk ke arah titik merah di pinggiran barat peta. "Jenderal Meng telah kehilangan kesabaran. Penahanan Permaisuri Meng Chuqiao semalam adalah tetes terakhir yang meruntuhkan kesetiaannya. Intelijen kita melaporkan bahwa tiga resimen elit Pasukan Panji Hitam yang berada di bawah komando pribadinya telah mulai bergerak meninggalkan barak mereka. Mereka tidak bergerak menuju perbatasan barat untuk melawan musuh, melainkan berbalik arah menuju ibu kota. Ini adalah kudeta, Yue’er."
"Kudeta yang sangat tepat waktu," bisik Yue’er, sepasang matanya berkilat tajam. "Long Wei memenjarakan Meng Chuqiao karena kepanikan akut, berpikir bahwa dia bisa menekan Jenderal Meng. Dia tidak sadar bahwa dengan melakukan itu, dia justru memaksa seekor macan tutul yang terpojok untuk langsung menggigit tenggorokannya."
Mantan Menteri Zhao Ruo, yang duduk di sudut ruangan, menggelengkan kepalanya dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Nona Lin, jika Pasukan Panji Hitam memasuki kota, pertumpahan darah tidak akan bisa dihindari. Pengawal Kekaisaran yang setia kepada Long Wei mungkin jumlahnya lebih sedikit, namun mereka memiliki benteng istana yang kuat. Ibu kota akan berubah menjadi medan pembantaian."
Yue’er berjalan mendekati jendela, menatap ke arah kepulan asap dari posko-posko bantuan pangan di kejauhan. "Pertumpahan darah hanya terjadi jika kedua belah pihak merasa memiliki peluang untuk menang, Tuan Zhao. Tugas kita adalah memastikan bahwa sebelum pedang pertama ditarik, Long Wei sudah tidak memiliki apa pun lagi untuk dipertahankan."
Yue’er berbalik, tatapannya menyapu kakak-kakaknya dan Zhao Ruo dengan wibawa yang tak terbantahkan. "Feng-ge, perintahkan jaringan kita untuk menyebarkan berita ke dalam barak Pengawal Kekaisaran sekarang juga. Beritahu mereka bahwa Keluarga Lin menjamin keselamatan, makanan, dan pengampunan penuh bagi setiap prajurit yang meletakkan senjata mereka saat Pasukan Panji Hitam tiba. Katakan pada mereka, jangan mati demi seorang pangeran yang membiarkan mereka kelaparan."
"Baik, Yue’er!" Lin Feng segera menjura dan bergegas keluar ruangan.
"Mu-ge," lanjut Yue’er. "Bawa pasokan logistik terbaik kita ke Gerbang Xuanwu. Saat rakyat mulai mendobrak, jangan biarkan mereka merusak kota. Ubah kemarahan mereka menjadi sebuah pengawalan damai bagi masuknya era baru."