Pintu Aula Tahta Utama yang terbuat dari kayu jati berlapis perunggu berderit berat saat didorong terbuka dari luar. Angin musim dingin yang membawa serpihan salju tipis langsung menyeruak masuk, mengusir aroma dupa cendana yang telah lama mengendap di dalam ruangan luas tersebut.
Lin Yue’er melangkah melewati ambang pintu dengan gerakan yang terukur dan penuh keanggunan. Jubah beludru hijau lumutnya menyapu lantai porselen putih dengan desau halus. Di belakangnya, Jenderal Meng Tianheng berjalan dengan kepala tertunduk, diikuti oleh Menteri Zhao Ruo dan Lin Mu yang membawa gulungan-gulungan dokumen pembukuan kekaisaran. Tidak ada satu pun pengawal bersenjata yang menyertai mereka, esensi kekuasaan malam itu telah bergeser begitu mutlak hingga senjata besi terasa tidak lagi diperlukan.
Di ujung aula yang remang-remang, di atas altar tertinggi, Pangeran Long Wei berdiri dengan pedang hias bertatahkan permata yang terhunus di tangan kanannya. Jubah kebesaran kuningnya tampak kusut, dan mahkota rambutnya telah miring, membiarkan beberapa helai rambut hitamnya jatuh berantakan menutupi keningnya yang dipenuhi keringat dingin.
"Berhenti!" raung Long Wei, suaranya bergema parau menembus pilar-pilar besar aula. Ujung pedangnya bergetar hebat saat diarahkan ke arah sosok Yue’er yang terus berjalan mendekat tanpa menghentikan langkah. "Siapa pun yang maju satu langkah lagi, aku bersumpah akan memenggal kepalanya di atas altar suci ini!"
Yue’er menghentikan langkahnya tepat di undakan pertama tangga porselen yang menuju ke kursi naga. Jarak di antara mereka kini hanya terpisahkan oleh sembilan anak tangga. Dia mendongak, menatap pria yang beberapa bulan lalu berdiri di tempat yang sama untuk mengusirnya ke tanah pengasingan Jiangnan.
Di mata Yue’er, tidak ada kilatan amarah, tidak ada pula kepuasan dendam yang meledak-ledak. Yang tersisa hanyalah tatapan dingin dan jernih, seolah-olah dia sedang melihat sebuah angka mati dalam buku neraca perdagangan yang harus segera diselesaikan.
"Pedang itu terlalu berat untuk tanganmu yang gemetar, Long Wei," ucap Yue’er, suaranya mengalir tenang namun memiliki daya tekan yang luar biasa kuat di dalam keheningan aula. "Turunkan senjata itu. Jangan biarkan sisa martabat terakhirmu hancur menjadi tontonan yang menggelikan di hadapan para menterimu."
"Martabat?!" Long Wei tertawa histeris, suaranya terdengar gila dan penuh keputusasaan. Dia menunjuk ke arah Jenderal Meng dengan ujung pedangnya. "Kamu berbicara tentang martabat bersamaku, sementara kamu membawa anjing militer yang telah mengkhianati sumpahnya ini?! Meng Tianheng! Aku mengangkatmu menjadi Jenderal Agung, memberikan kekuasaan atas Pasukan Panji Hitam, dan membiarkan putrimu duduk di paviliun permaisuri! Mengapa kamu berlutut di hadapan gadis buangan ini?!"
Jenderal Meng tidak mengangkat kepalanya. Suaranya terdengar berat dan sarat akan keletihan seorang veteran. "Yang Mulia Pangeran... seorang jenderal tidak bisa memberi makan pasukannya dengan sumpah kesetiaan, dan seorang ayah tidak bisa membiarkan putrinya mati membeku di dalam penjara yang Anda buat sendiri. Nona Lin telah menyelamatkan Chuqiao dan menjamin kelangsungan hidup seratus ribu prajuritku di perbatasan. Di hadapan perut yang lapar, tahta Anda tidak lebih dari sekadar sepotong kayu kering."
Mendengar kata-kata itu, Long Wei merasa seolah-olah seluruh dunia yang dia bangun dengan intrik politik darah selama bertahun-tahun runtuh seketika di bawah kakinya. Dia menatap Yue’er dengan tatapan yang dipenuhi rasa benci sekaligus ketakutan yang mendalam.
"Jadi... ini semua adalah permainanmu sejak awal, Yue’er?" desis Long Wei, napasnya memburu. "Krisis sutra di selatan, hilangnya gandum di lumbung perbatasan, hingga laporan palsu tentang kudeta faksi Meng... kamu yang menulis skenarionya, bukan?!"
Menteri Zhao Ruo melangkah maju satu langkah, mengangkat gulungan dokumen di tangannya. "Ini bukan skenario Nona Lin, Pangeran Long Wei. Ini adalah hasil audit resmi Kementerian Keuangan. Kekosongan kas negara dan hilangnya delapan puluh ribu tan gandum di selatan adalah akibat dari sistem korupsi sistemis yang Anda biarkan tumbuh demi membeli loyalitas militer faksi Meng. Nona Lin hanya mengambil apa yang Anda sia-siakan: hati rakyat dan kendali atas jalur distribusi komoditas hidup."
Yue’er menaiki anak tangga pertama perlahan, sepatunya menimbulkan bunyi ketukan yang ritmis di atas porselen. Tuk. Tuk. Setiap ketukan terasa seperti hitungan mundur bagi sisa kekuasaan Long Wei.