Rencana pembukaan jalur perdagangan barat yang dirancang di dalam Paviliun Kedai Teh Kediaman Zhao tidak memerlukan waktu lama untuk menjelma menjadi kenyataan. Di bawah kendali penuh Kamar Dagang Keluarga Lin, musim semi kali ini menyaksikan pergerakan logistik terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah daratan utara.
Ratusan kereta kargo berat berlogo bunga lili perak, lambang baru kejayaan Keluarga Lin, berbaris rapi di sepanjang Gerbang Barat Ibu Kota. Kereta-kereta itu dipenuhi oleh gulungan sutra emas Jiangnan yang berkilau, porselen putih kualitas tertinggi, serta teh osmanthus yang dikemas dalam kotak-kotak kayu berlapis lilin agar aromanya tetap terjaga sepanjang perjalanan melintasi gurun pasir.
Di baris paling depan, Lin Feng berdiri di atas kuda jantannya, mengenakan zirah ringan yang nyaman untuk perjalanan jauh. Di sampingnya, sepasang perwira elit dari Pasukan Panji Hitam kiriman Jenderal Meng memberikan penghormatan militer yang khidmat. Jenderal Meng menepati janjinya; demi memastikan aliran logistik untuk pasukannya di perbatasan tetap lancar, dia menugaskan prajurit terbaiknya untuk menjadi pengawal pribadi armada dagang Keluarga Lin.
Dari atas menara pengawas gerbang kota yang tinggi, Lin Yue’er berdiri menyaksikan pelepasan armada tersebut. Angin musim semi yang berembus kencang membuat jubah beludru hijau lumutnya berkibar pelan. Di sampingnya, Lin Mu setia menemani sambil memegang sebuah draf laporan keuangan teranyar yang baru saja selesai dihitung.
"Feng-ge sudah bergerak, Yue’er," kata Lin Mu, matanya menatap debu jalanan yang mengepul di kejauhan akibat langkah kaki ratusan kuda kargo. "Jika perhitunganmu tepat, dalam waktu tiga bulan, emas dan perak dari wilayah barat akan mulai mengalir masuk ke kas kita, dan ketergantungan utara terhadap pasokan modal lama istana akan hilang sepenuhnya."
Yue’er tidak langsung menjawab. Sepasang matanya yang jernih mengikuti sosok kakaknya hingga bayangan armada itu perlahan menyatu dengan garis cakrawala.
"Ini bukan hanya tentang emas dan perak, Mu-ge," ucap Yue’er perlahan, suaranya mengandung ketenangan yang berwibawa. "Jalur sutra barat ini adalah pengikat. Selama perut dan kesejahteraan negara-negara di luar perbatasan itu bergantung pada komoditas yang kita bawa, mereka tidak akan pernah berani mengarahkan tombak mereka ke arah tanah kita. Ini adalah pertahanan terbaik yang bisa dibangun oleh sebuah kekaisaran, sebuah benteng yang tidak terbuat dari batu bata, melainkan dari keterikatan ekonomi."