Tiga tahun setelah badai musim dingin yang meruntuhkan tatanan lama kekaisaran, musim semi di ibu kota utara kini datang dengan kemegahan yang berbeda. Tidak ada lagi ketakutan yang mencekam atau bayang-bayang kelaparan yang menghantui setiap sudut distrik. Pasar-pasar di sepanjang bantaran kanal hilir mudik dipadati oleh para pedagang yang membawa komoditas dari ujung barat hingga selatan. Ibu kota telah hidup kembali, berdenyut dalam ritme kemakmuran yang stabil.
Di sudut tertinggi menara pengawas gerbang luar istana, Lin Yue’er berdiri bersandarkan pagar pembatas kayu jati. Angin sore yang hangat membawa aroma harum bunga persik yang mekar sempurna di taman-taman istana bawah. Hari ini, dia tidak lagi mengenakan jubah beludru tebal bersulam bulu rubah yang dahulu digunakannya sebagai pelindung dari dinginnya paranoia politik. Berganti dengan jubah sutra tipis sewarna langit senja hasil tenunan para pengrajin Jiangnan, Yue’er tampak begitu menyatu dengan kedamaian yang ada di sekelilingnya.
Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat dengan jelas kemegahan atap-atap genting emas Kota Terlarang yang memantulkan cahaya matahari terbenam. Dahulu, bagi orang-orang seperti Pangeran Long Wei atau Meng Chuqiao, kompleks istana raksasa ini adalah perwujudan mutlak dari sebuah "Rumah". Sebuah tempat di mana dinding-dinding batu yang tebal dicitrakan sebagai perisai, dan tahta emas di dalam aula utamanya dianggap sebagai puncak dari pencapaian hidup.
Namun, Yue’er tersenyum tipis saat meraba permukaan batu menara yang kasar. Dia mengingat kembali bagaimana "rumah" yang diagungkan itu dengan begitu mudahnya berubah menjadi penjara yang dingin dan mematikan ketika badai ekonomi menghantam. Ketika sebuah bangunan megah didirikan di atas fondasi keserakahan, ketakutan, dan air mata rakyat yang kelaparan, maka kemegahan itu tidak lebih dari sekadar makam indah yang menunggu waktu untuk runtuh. Long Wei memenjarakan dirinya sendiri di dalam ambisi, sementara Chuqiao mengunci jiwanya di dalam jubah emas yang tak mampu membelikannya kehangatan sejati.
Bagi Lin Yue’er, makna sebuah rumah telah lama bergeser sejak malam dia diusir melalui pintu belakang istana dengan sebatang tusuk konde giok putih di rambutnya.