Langit di atas gubuk kayu itu tampak muram, seolah ikut merasakan beratnya napas Maryam yang tersengal di balik kelambu lusuh. Saka, si sulung yang biasanya tegar, hanya bisa terpaku di ambang pintu sambil meremas pinggiran topinya yang sudah memudar warnanya. Aroma minyak kayu putih dan uap rebusan jahe memenuhi ruangan sempit itu, namun tak mampu mengusir hawa dingin yang menusuk tulang.
Saka melangkah mendekat, lalu berlutut di samping dipan kayu yang berderit pelan setiap kali Maryam bergerak gelisah dalam tidurnya. Ia terbiasa melihat ibunya bekerja tanpa lelah, mencuci tumpukan baju tetangga hingga jemarinya keriput dan memutih karena deterjen. Namun hari ini, tangan yang biasanya cekatan itu terkulai lemas, terasa panas saat Saka memberanikan diri menyentuh punggung tangan sang ibu.
"Saka, airnya sudah siap," bisik Dumi dengan suara yang bergetar hebat, nyaris tak terdengar di antara isak tangis yang tertahan. Anak perempuan itu membawa baskom berisi air hangat dan selembar kain bersih, matanya sembab karena terjaga sepanjang malam menjaga sang ibu. Ia yang biasanya ceria dan gemar bersenandung, kini kehilangan suaranya, hanya mampu berkomunikasi lewat tatapan mata yang penuh kecemasan.
Di sudut ruangan, Tirta yang masih kecil tampak sibuk memilah kayu bakar dengan gerakan yang lebih pelan dari biasanya agar tidak menimbulkan suara gaduh. Ia tidak banyak bicara, namun setiap kali Maryam terbatuk, bahunya akan menegang dan ia akan segera mendekat untuk memastikan ibunya tidak kekurangan selimut. Si bungsu itu seolah dewasa dalam semalam, menyadari bahwa pilar utama rumah mereka kini sedang rapuh dan butuh ditopang.
Saka mengambil kain dari tangan Dumi, memerasnya dengan gerakan perlahan, lalu meletakkannya di dahi Maryam yang berkeringat dingin karena demam tinggi. Ia menoleh ke arah adik-adiknya, memberikan isyarat bahwa mereka harus tetap kuat meski badai sedang menghantam atap rumah mereka yang bocor. Tanggung jawab yang selama ini dipikul Maryam sendirian, kini berpindah ke bahu mereka bertiga tanpa ada peringatan sebelumnya.
Dumi mulai menyuapkan sesendok bubur encer saat Maryam sedikit membuka matanya, meski sang ibu hanya mampu menelan sedikit sebelum kembali terlelap dalam sakitnya. Tidak ada lagi tawa di meja makan kayu yang biasanya riuh, hanya ada kesunyian yang mencekam dan doa-doa yang dirapalkan dalam hati masing-masing anak. Mereka sadar bahwa masa kecil mereka telah usai, digantikan oleh kewajiban besar untuk memuliakan wanita yang telah memberikan segalanya.
Saka menatap keluar jendela, melihat tumpukan cucian pelanggan yang masih terbengkalai di pojok sumur, menyadari bahwa mulai besok ia yang harus mengurus semuanya. Ia bertekad tidak akan membiarkan satu tetes air mata pun jatuh dari mata ibunya karena rasa bersalah karena tidak bisa bekerja. Dengan tangan yang gemetar, ia menggenggam jemari Maryam yang kasar, berjanji dalam hati untuk menjadi benteng terakhir bagi keluarga kecil mereka.
Suara batuk Maryam yang kering dan berat kembali menghantam dinding papan yang sudah lapuk, menciptakan gema yang menyakitkan di tengah kesunyian malam. Saka tersentak dari tidurnya, jempol kanannya secara otomatis menekan-nekan bekas luka parut di telapak tangannya, sebuah ritual yang selalu muncul setiap kali kecemasan mulai merayap di dadanya. Ia bangkit perlahan, merasakan lantai semen yang dingin menusuk telapak kakinya, sementara aroma minyak kayu putih yang sudah menguap samar-samar tercium dari arah dipan ibunya.
Di bawah temaram lampu minyak yang sumbunya mulai menghitam, Saka melihat Maryam meringkuk di balik selimut tipis yang sudah berlubang di sana-sini. Tubuh kurus itu menggigil hebat, seolah-olah ada badai salju yang sedang mengamuk di dalam tulang-tulangnya. Saka mendekat, tangannya gemetar saat menyentuh dahi sang ibu yang terasa seperti bara api yang menyala di tengah kegelapan, memberikan sensasi panas yang menyengat hingga ke ujung saraf jarinya.
"Saka... jangan bangun, Nak. Besok kamu harus kerja di pasar," suara Maryam terdengar serak, nyaris hilang tertelan oleh napasnya yang pendek dan memburu. Saka tidak menjawab, ia hanya mampu menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya sambil terus menekan luka parut di tangannya lebih keras lagi. Ia meraih termometer raksa tua dari atas meja kayu, benda satu-satunya yang tersisa dari kotak P3K peninggalan almarhum ayahnya yang sudah lama rusak.
Angka yang tertera pada batang kaca itu membuat jantung Saka seolah berhenti berdetak sesaat, menunjukkan tingkat panas yang sudah melewati batas kewajaran bagi tubuh manusia. Ia tahu mereka tidak punya sepeser pun uang simpanan di bawah kasur, karena upah buruh cuci Maryam minggu ini sudah habis untuk membayar hutang beras di warung Bu RT. Ketakutan mulai membentuk simpul mati di perutnya, membuat setiap tarikan napasnya terasa berat dan menyesakkan dada.
Dumi terbangun di pojok ruangan, jemarinya dengan gelisah menyisir rambut boneka lusuh yang selalu ia peluk saat tidur, matanya yang bulat menatap Saka dengan penuh tanya.
"Ibu kenapa, Kak? Kenapa Ibu suaranya seperti orang tercekik?" tanya Dumi dengan suara bergetar, mencerminkan ketakutan yang sama yang sedang berusaha Saka sembunyikan di balik wajah datarnya. Saka hanya menggeleng pelan, memberi isyarat agar adiknya tetap diam sementara ia memutar otak mencari jalan keluar.
Tirta, yang biasanya paling keras kepala, kini hanya berdiri mematung di ambang pintu dapur yang gelap, tangannya terus-menerus memutar-mutar kancing bajunya yang longgar. Suasana di dalam rumah kecil itu mendadak terasa sangat sempit dan mencekam, hanya diisi oleh suara napas Maryam yang berat dan detak jam dinding tua yang seolah menghitung sisa waktu. Saka tahu bahwa ego remajanya yang selama ini membenci kemiskinan harus ia kubur dalam-dalam malam ini juga.
Harus ke dokter sekarang, apa pun taruhannya, meski aku harus merangkak ke rumah Pak Mantri.
Saka melangkah menuju lemari kayu tua di sudut ruangan, tempat ia menyimpan satu-satunya benda berharga yang selama ini ia jaga dengan nyawanya: sebuah jam tangan perak rusak milik ayahnya. Ia selalu berkata pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah melepaskan jam itu, bahkan jika ia harus kelaparan selama berhari-hari di jalanan. Namun, melihat wajah Maryam yang kian pucat, prinsip yang ia pegang teguh itu mendadak terasa sangat tidak berarti dan konyol.
"Tirta, jaga Dumi dan Ibu. Aku harus pergi keluar sebentar," ucap Saka dengan nada bicara yang datar namun penuh penekanan, sebuah pola bicara yang muncul saat ia sudah mengambil keputusan bulat. Ia menyambar jaket lusuhnya, mengabaikan angin malam yang mulai menusuk melalui celah-celah dinding kayu yang tak lagi rapat menutup. Keputusannya sudah final, dan ia tidak akan membiarkan keraguan sedikit pun menghambat langkah kakinya yang kini mulai berlari kencang.
Langkah kaki Saka beradu dengan tanah becek di luar rumah, menciptakan suara cipratan yang berirama di tengah kegelapan desa yang sunyi senyap tanpa penerangan. Ia berlari menuju rumah majikan tempat ia biasanya mengangkut barang di pasar, berharap pria itu mau memberikan pinjaman meski ia tahu risikonya sangat besar. Pikirannya berkecamuk antara rasa malu karena harus mengemis dan rasa takut kehilangan satu-satunya sosok yang paling mencintai mereka di dunia ini.
Namun, saat ia sampai di tikungan jalan yang menuju rumah majikannya, sebuah mobil hitam mewah melintas perlahan dan berhenti tepat di sampingnya, memecah kegelapan dengan lampu sorotnya yang tajam. Kaca jendela mobil itu turun perlahan, menampakkan sosok pria paruh baya yang terlihat sangat familiar namun juga sangat asing di mata Saka yang sedang panik. Pria itu menatap Saka dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah-olah ia sudah menunggu pertemuan ini terjadi sejak bertahun-tahun yang lalu.
"Kamu anak Maryam, kan? Wajahmu persis seperti foto yang selalu disimpan oleh kakakku sebelum dia meninggal di perantauan," suara pria itu berat dan berwibawa, membuat Saka terpaku di tempatnya. Sebuah kenyataan pahit menghantam Saka; pria kaya yang selama ini ia anggap sebagai majikan kejam ternyata adalah paman kandungnya yang selama ini mengabaikan kemelaratan mereka. Amarah yang selama ini terpendam di dada Saka meledak seketika, namun ia tahu ia butuh bantuan pria ini untuk menyelamatkan ibunya.
"Aku tidak peduli siapa Anda, aku butuh uang untuk membawa Ibu ke rumah sakit sekarang juga!" teriak Saka dengan suara yang pecah oleh tangis yang tertahan. Pria itu tidak terkejut, ia hanya mengangguk pelan lalu menyodorkan seikat uang tebal melalui jendela mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebagai bentuk penebusan dosa. Saka menyambar uang itu dengan tangan gemetar, merasakan pengkhianatan yang luar biasa perih karena bantuan yang ia butuhkan justru datang dari orang yang membiarkan mereka menderita selama ini.
Saka berbalik dan berlari kembali ke rumah dengan kecepatan penuh, mengabaikan fakta bahwa seluruh hidupnya baru saja berubah karena sebuah pengakuan yang menghancurkan hatinya. Ia sampai di depan pintu rumahnya dan mendapati Tirta sedang menangis histeris sambil memegang tangan Maryam yang sudah terkulai lemas di pinggir dipan. Saka tertegun di ambang pintu, uang di tangannya terjatuh ke lantai semen, sementara matanya menatap kosong ke arah ibunya yang sudah tidak lagi mengeluarkan suara batuk yang menyakitkan itu.
Matahari sore itu terasa memanggang kulit leher Saka saat ia berdiri di depan gerbang seng bengkel Pak Rahman yang berkarat. Remaja itu berulang kali mengetukkan ujung sepatu ketsnya yang sudah jebol ke tanah yang berdebu, sebuah kebiasaan kecil yang selalu muncul setiap kali ia merasa ragu atau terdesak oleh kebutuhan. Bau bensin yang menyengat dan suara dentuman logam beradu di dalam bengkel menciptakan simfoni kasar yang sangat asing bagi seorang juara kelas yang terbiasa dengan keheningan perpustakaan sekolah.
Saka menelan ludah sembari meraba saku celananya yang kosong melompong, membayangkan wajah Ibu Maryam yang pucat karena kelelahan setelah mencuci baju di tiga rumah tetangga sekaligus. "Pokoknya, upah di sini sistem harian, kalau kerjamu lelet ya jangan harap bawa pulang nasi bungkus," suara berat Pak Rahman tiba-tiba menggelegar dari balik tumpukan ban bekas, membuat Saka tersentak hingga hampir menjatuhkan tas sekolahnya yang sudah mulai memudar warnanya.
Tanpa banyak bicara, Saka segera menggulung lengan kemeja putihnya yang sudah menguning dan mulai berlutut di atas lantai semen yang licin karena tumpahan oli. Jemari panjangnya yang biasanya lincah menari di atas kertas ujian, kini harus berjuang keras mencengkeram kunci inggris yang berat dan dingin. Setiap kali ia merasa otot lengannya mulai bergetar karena beban mesin motor yang harus ia tahan, Saka akan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga rasa sakit itu mengalahkan rasa lelah yang mulai merayap.
Pak Rahman memperhatikannya dari kejauhan dengan mata menyipit, sesekali melemparkan kain lap kumal ke arah Saka tanpa peringatan sebagai tanda bahwa ada bagian mesin yang belum bersih sempurna. "Bersihkan sampai mengilap, Nak, jangan cuma asal sentuh saja kalau mau jadi orang yang dihargai," ucap pria tua itu dengan nada bicara yang datar namun menusuk, memaksa Saka untuk kembali menekan-nekan bagian mesin yang paling sulit dijangkau oleh tangannya.
Waktu seakan berjalan melambat di bawah atap asbes yang memerangkap panas, namun Saka tidak sedikit pun mengeluh meski keringatnya mulai bercampur dengan cairan hitam kental yang menempel di telapak tangannya. Ia terus bekerja dengan ketelitian yang tidak biasa bagi seorang pemula, memastikan setiap baut terpasang dengan presisi seolah-olah hidupnya bergantung pada putaran kunci tersebut. Ritual mengetukkan ujung sepatu kembali ia lakukan saat ia berdiri sejenak untuk mengusap peluh di dahinya yang kini ikut menghitam.