RATUKAN IBUMU

Bilsyah Ifaq
Chapter #6

Kejutan untuk Sang Ratu

Aroma kayu bakar dan sisa hujan semalam masih bergantung di udara saat Saka merapikan kerah kemejanya yang mulai memudar warnanya. Tangannya yang kasar akibat kerja keras di bengkel bergetar pelan saat ia memandangi sebuah kotak beludru kecil di atas meja kayu yang reyot. Baginya, setiap keringat yang jatuh selama bertahun-tahun adalah tabungan untuk satu momen ini, sebuah janji bisu yang ia ikatkan pada langit-langit rumah tua mereka yang bocor.

Saka memiliki kebiasaan unik mengetuk-ngetuk sendi jarinya ke permukaan benda keras setiap kali ia sedang menimbang keputusan besar dalam hidupnya. "Ibu tidak boleh lagi memegang sutil kayu yang sudah menghitam itu," gumamnya dengan nada rendah namun penuh penekanan yang menjadi ciri khas bicaranya. Ia selalu memilih jalan yang paling sulit asalkan itu berarti beban di pundak Ibu Maryam bisa berkurang sedikit demi sedikit setiap harinya.

Di sudut ruangan lain, Dumi sibuk menata kain sutra yang ia beli dengan seluruh gaji pertamanya sebagai asisten perancang busana di kota seberang. Ia tidak banyak bicara, namun gerakannya sangat cekatan saat ia melipat kain itu dengan presisi seorang ahli bedah yang tidak mentoleransi kesalahan sekecil apa pun. Dumi selalu percaya bahwa keindahan adalah hak ibunya, seorang wanita yang selama puluhan tahun hanya mengenakan daster katun yang sudah menipis hingga hampir transparan.

"Kita tidak sedang menyogok Tuhan, Kak, kita hanya sedang membayar hutang rasa yang tidak akan pernah lunas," cetus Dumi saat melihat Saka terus gelisah. Kalimatnya tajam dan langsung pada sasaran, mencerminkan kecenderungannya untuk melihat segala sesuatu sebagai pertukaran nilai yang sakral. Dumi tidak suka basa-basi; baginya, memuliakan ibu adalah sebuah proyek besar yang harus dieksekusi dengan standar kesempurnaan tertinggi tanpa ada ruang untuk kegagalan.

Tirta, si bungsu yang paling tenang, duduk di ambang pintu sambil memandangi sertifikat tanah yang baru saja ia tebus dari tengkulak desa dengan tetesan air mata yang tertahan. Ia sering kali mengusap telinga kanannya saat merasa emosional, sebuah gestur yang ia warisi dari almarhum ayahnya ketika sedang merasa sangat bangga. Tirta memutuskan untuk melepaskan beasiswa luar negerinya demi memastikan Ibu Maryam tidak perlu lagi mencangkul di sawah milik orang lain yang sering kali memperlakukannya dengan tidak adil.

Suasana mendadak tegang ketika suara langkah kaki Ibu Maryam terdengar mendekat dari arah dapur, menyeret sandal jepitnya yang sudah tipis di atas lantai semen. Ketiga bersaudara itu saling berpandangan, menyadari bahwa rahasia besar yang mereka simpan selama berbulan-bulan akan segera terungkap di hadapan wanita yang menjadi napas hidup mereka. Ketegangan memuncak saat pintu kayu tua itu berderit terbuka, menampilkan sosok wanita tua dengan gurat kelelahan yang abadi namun memiliki binar mata yang tetap teduh.

Tiba-tiba, Saka berlutut di depan ibunya, namun tangannya justru tidak menyodorkan kotak beludru itu, melainkan sebuah surat usang yang selama ini disembunyikan di bawah bantal Ibu Maryam. "Ibu, siapa sebenarnya pria yang setiap bulan mengirimkan uang atas nama hamba Allah ini?" tanya Saka dengan suara bergetar, memicu sebuah pengakuan yang akan meruntuhkan seluruh fondasi pengabdian yang selama ini mereka bangun dengan susah payah. Ibu Maryam terdiam membeku, wajahnya memucat saat rahasia kelam tentang asal-usul mereka mulai terkuak satu per satu.

Angin sore berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan harum mawar yang mulai bermekaran di halaman depan. Saka berdiri di ambang pintu jati yang masih berbau pelitur segar, jemarinya secara tidak sadar mengetuk-ngetuk bingkai kayu dengan ritme tiga ketukan pendek, sebuah kebiasaan lama jika ia sedang menata debar jantungnya. Matanya menyapu bangunan megah namun bersahaja itu, sebuah monumen bisu dari peluh dan doa yang mereka rakit selama bertahun-tahun demi satu senyuman wanita paling berharga dalam hidup mereka.

"Cek sudut plafon itu, Tirta, jangan sampai ada debu sekecil apa pun yang tersisa," ujar Saka dengan nada rendah namun tegas, sebuah ciri khas bicaranya yang selalu menuntut presisi dalam setiap tanggung jawab. Ia membetulkan letak kacamatanya yang tidak miring, hanya untuk memastikan pandangannya benar-benar jernih melihat setiap detail rumah ini. Baginya, rumah ini bukan sekadar susunan bata dan semen, melainkan penebusan janji atas masa kecil mereka yang sering kali harus berbagi satu piring nasi di bawah atap bocor.

Tirta, yang sedang bertengger di atas tangga aluminium, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang sudah kotor oleh debu halus. Ia menoleh ke arah kakaknya sambil menyeringai tipis, lalu kembali sibuk menyesuaikan arah lampu sorot yang ia pasang dengan teliti di sudut ruang tengah. Tirta memang punya kecenderungan untuk selalu memberikan sentuhan teknis yang paling mutakhir, memastikan bahwa setiap pendar cahaya di rumah ini mampu menciptakan suasana hangat yang memeluk siapa pun yang melangkah masuk.

"Aman, Mas Saka, lampunya sudah kusetel supaya cahayanya lembut di mata Ibu, tidak akan bikin silau," sahut Tirta sambil menepuk-nepuk lampu tersebut seolah itu adalah benda keramat. Keputusannya untuk menggunakan sistem pencahayaan pintar bukanlah tanpa alasan; ia ingin Ibu Maryam bisa mengontrol suasana rumah hanya dengan satu sentuhan jari. Baginya, memuliakan ibu berarti memberikan kemudahan dan kenyamanan yang tidak pernah dirasakan wanita itu selama puluhan tahun bekerja keras sebagai buruh cuci.

Di sudut lain, Dumi tampak sibuk dengan tumpukan kain satin berwarna krem yang baru saja ia selesaikan proses penjahitannya semalam suntuk. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma kain baru yang sangat ia sukai, lalu mulai menyampirkan gorden itu pada rel besi yang sudah terpasang. Setiap lipatan kain ia atur sedemikian rupa agar jatuh dengan anggun, menutupi jendela besar yang menghadap langsung ke taman mawar kesukaan Ibu Maryam di luar sana.

"Gorden ini harus menutup sempurna saat malam, supaya Ibu merasa aman dan tenang di dalam istananya sendiri," gumam Dumi sambil merapikan rumbai-rumbai di bagian bawah kain. Ia selalu memilih bahan yang paling lembut namun kuat, mencerminkan karakter Ibu mereka yang tampak rapuh dari luar namun memiliki keteguhan hati yang luar biasa. Dumi tidak pernah ragu untuk menghabiskan waktu lebih lama hanya untuk memastikan jahitan pada setiap tepian gorden itu benar-benar rapat dan simetris.

Saka berjalan mendekati meja makan kayu panjang yang terletak di tengah ruangan, tangannya mengusap permukaannya yang halus dengan penuh perasaan. Ia teringat bagaimana dulu mereka hanya memiliki meja kayu lapuk yang kakinya diganjal batu bata agar tidak goyang saat mereka belajar. Sekarang, meja ini adalah simbol kedaulatan keluarga mereka, tempat di mana mereka akan duduk melingkar dan mendengarkan Ibu bercerita tanpa perlu memikirkan tagihan listrik yang menunggak.

Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar berhenti di depan gerbang kayu yang baru saja dicat warna cokelat tua, memecah keheningan sore yang syahdu itu. Ketiga bersaudara itu saling berpandangan, dengan Saka yang pertama kali melangkah menuju pintu depan sambil merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut. Jantungnya berdegup kencang, sebuah sensasi yang jarang ia rasakan bahkan saat ia harus mempresentasikan proyek bernilai miliaran di hadapan dewan direksi perusahaannya.

Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Ibu Maryam yang turun dari mobil dengan bantuan seorang asisten, wajahnya tampak bingung melihat bangunan asing di hadapannya. Saka segera mendekat, mengambil alih tangan ibunya yang terasa kasar namun tetap hangat, tangan yang telah membesarkan mereka dengan penuh cinta di tengah badai kemiskinan. Ia mengecup punggung tangan itu lama, seolah ingin menyerap semua beban yang pernah ditanggung wanita tua itu selama ini.

"Ibu, ini rumah kita, ini tempat peristirahatan Ibu yang sesungguhnya," ucap Saka dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba menahan emosi yang meluap di dadanya. Ia menuntun langkah kecil ibunya melewati jalan setapak di antara hamparan bunga mawar yang sedang mekar dengan indahnya. Ibu Maryam hanya terdiam, matanya yang mulai kabur karena usia tampak berkaca-kaca saat melihat papan nama kecil di depan pintu yang bertuliskan: Istana Ratu Maryam.

Saat mereka melangkah masuk ke dalam rumah, pendar lampu hangat buatan Tirta langsung menyambut mereka, menciptakan suasana yang begitu damai dan sakral. Ibu Maryam menyentuh gorden satin yang dipasang Dumi, jemarinya bergetar saat merasakan kelembutan bahan tersebut di bawah telapak tangannya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya, hanya isak tangis kecil yang kemudian pecah menjadi tangisan syukur yang memenuhi seluruh ruang tengah yang luas itu.

Namun, di tengah suasana haru itu, Saka menyadari sesuatu yang janggal saat ia melirik ke arah tas kecil yang selalu dibawa ibunya ke mana pun mereka pergi. Ibu Maryam tampak mendekap tas itu dengan sangat erat, seolah-olah di dalamnya terdapat rahasia besar yang tidak ingin ia bagikan kepada siapa pun, bahkan kepada anak-anaknya sendiri. Saka mengenal gerak-gerik ibunya; ada kegelisahan yang tersembunyi di balik tangisan syukur itu, sebuah ketegangan yang tidak sinkron dengan kebahagiaan saat ini.

Tirta dan Dumi yang semula ikut menangis haru, kini mulai menyadari perubahan atmosfer yang mendadak menjadi kaku ketika Ibu Maryam menolak untuk duduk di kursi empuk yang sudah disiapkan. Ibu Maryam justru berdiri mematung di tengah ruangan, matanya tertuju pada sebuah foto tua yang terselip di balik bingkai foto keluarga yang baru saja Saka gantung di dinding. Foto itu bukan foto mereka berempat, melainkan foto seorang pria yang selama ini mereka anggap sudah lama tiada dalam ingatan keluarga.

"Kenapa foto itu ada di sini, Saka?" tanya Ibu Maryam dengan suara yang mendadak dingin dan tajam, membuat suasana hangat di ruangan itu seolah membeku seketika. Saka tertegun, tangannya yang semula merangkul bahu ibunya perlahan merosot jatuh saat ia melihat sosok pria di foto itu, pria yang seharusnya tidak pernah kembali ke kehidupan mereka. Rahasia yang selama ini disimpan rapat oleh Ibu Maryam tentang asal-usul kekayaan mendadak yang mereka terima mulai menampakkan bayangannya yang kelam di dinding rumah baru mereka.

Dumi berulang kali memeriksa daftar tamu di ponselnya, memastikan tidak ada satu pun tetangga lama dari gang sempit mereka dulu yang terlewat. Baginya, perayaan ulang tahun Ibu Maryam yang ke-60 bukan sekadar pesta, melainkan sebuah ritual penebusan atas tahun-tahun sulit yang telah mereka lalui bersama dalam kemiskinan.

Saka berdiri di sudut restoran, jemarinya mengetuk-ngetuk pinggiran meja kayu dengan ritme tiga ketukan pendek yang cepat. Ia terus menggumamkan baris-baris pidato yang telah ia susun semalaman, sebuah naskah yang penuh dengan pengakuan dosa dan rasa terima kasih yang selama ini tertahan di tenggorokannya.

Lihat selengkapnya