RATUKAN IBUMU

Bilsyah Ifaq
Chapter #7

Bakti Tanpa Henti

Saka berdiri di balkon rumah barunya yang megah, namun jemarinya tidak berhenti memutar-mutar tasbih kayu usang milik almarhum Ayah. Kebiasaan memutar benda itu adalah caranya menenangkan diri di tengah hiruk-pikuk kejayaan bisnis yang kini ia genggam erat. Baginya, setiap angka nol di saldo rekening hanyalah titipan yang tujuannya bermuara pada satu senyuman tulus di wajah keriput Ibu Maryam.

"Satu suapan lagi, Bu. Ini bubur sumsum buatan Dumi, masih hangat," suara Dumi terdengar lembut dari arah ruang tengah yang luas. Gadis itu kini menjadi desainer sukses, namun ia selalu menanggalkan ego dan kesibukannya setiap kali matahari mulai condong ke barat. Ritme bicaranya yang cepat saat bekerja seketika berubah menjadi alunan nada yang tenang dan penuh kesabaran ketika menghadapi Ibu.

Ibu Maryam hanya tersenyum tipis, tangannya yang gemetar mencoba meraih ujung daster Dumi, sebuah gestur kasih sayang yang tak pernah berubah sejak mereka masih tinggal di gubuk bambu. Meskipun kini mereka dikelilingi oleh kemewahan dan fasilitas medis terbaik, bagi ketiga saudara itu, kehadiran fisik mereka di sisi Ibu adalah prioritas di atas segala urusan duniawi yang mereka jalani.

Tirta masuk ke ruangan dengan langkah terburu-buru, namun segera mengerem gerakannya saat melihat Ibu sedang beristirahat. Sebagai seorang dokter spesialis, ia memiliki kecenderungan untuk memeriksa denyut nadi Ibu setiap kali mereka bertemu, seolah-olah itu adalah ritual wajib. "Ibu harus kuat, karena lusa kita akan melihat taman bunga yang Ibu impikan dulu," bisiknya dengan nada yang tegas namun penuh haru.

Ketiganya telah sepakat bahwa kesuksesan sejati bukanlah tentang seberapa tinggi jabatan yang mereka raih, melainkan seberapa sering mereka bisa membuat Ibu merasa dihargai. Mereka berbagi tugas dengan jadwal yang ketat agar Ibu tidak pernah merasa kesepian meski hanya sedetik saja. Di mata mereka, memuliakan Ibu Maryam adalah bentuk investasi akhirat yang tidak bisa ditukar dengan tumpukan emas manapun.

Namun, di tengah kehangatan itu, sebuah amplop cokelat tua terselip di bawah bantal Ibu, berisi rahasia tentang masa lalu yang selama ini disembunyikan rapat-rapat dari mereka bertiga. Saka yang menemukannya secara tidak sengaja merasakan jantungnya berdegup kencang saat melihat nama pengirim yang seharusnya sudah mati puluhan tahun lalu. Dunia yang mereka bangun dengan susah payah tiba-tiba terasa goyah oleh sebuah kebenaran yang baru saja terungkap.

Saka menatap Ibu yang tertidur pulas dengan perasaan campur aduk, menyadari bahwa pengorbanan wanita itu jauh lebih dalam dari yang mereka bayangkan selama ini. Ia meremas amplop itu, tahu bahwa keputusan yang akan ia ambil setelah ini akan mengubah dinamika keluarga mereka selamanya. Tanpa suara, ia melangkah keluar ruangan, membiarkan misteri itu tetap tersembunyi sampai saat yang tepat untuk membongkar semuanya tiba.

Sinar matahari pagi menyusup melalui celah gorden sutra, menyentuh permukaan meja jati tempat Saka duduk terpaku. Jemarinya terus mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ritme tiga ketukan pendek yang cepat, sebuah tanda kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan dari kedua adiknya. Di hadapannya, sepucuk surat pengosongan lahan dari pihak bank tergeletak kaku, mengancam istana megah yang baru saja mereka persembahkan untuk Ibu Maryam di hari tuanya.

Dumi berdiri di dekat jendela, berulang kali menarik ujung lengan kemejanya hingga benangnya nyaris terlepas, sebuah kebiasaan lama jika ia merasa terpojok. "Kita sudah menguras seluruh tabungan untuk rumah ini, Kak," suaranya bergetar rendah namun tajam, seolah setiap kata adalah pisau yang mengiris keheningan ruang tamu. Ia menoleh ke arah Saka dengan tatapan yang menuntut jawaban pasti, karena ia tidak sanggup membayangkan wajah ibu jika mereka harus terusir lagi.

Tirta yang biasanya tenang, kini meremas pinggiran kursi goyang kosong milik ibu mereka hingga buku-buku jarinya memutih. "Pokoknya, jangan sampai Ibu tahu kalau sertifikat rumah lama yang dia jaga puluhan tahun ternyata kamu gadaikan secara diam-diam untuk modal proyek ini, Kak," desis Tirta dengan nada bicara yang penuh penekanan pada setiap suku katanya. Keputusan Saka untuk mengambil risiko besar tanpa diskusi telah menciptakan jurang kepercayaan yang sangat dalam di antara mereka bertiga.

Suasana mendadak kaku saat langkah kaki Ibu Maryam terdengar mendekat dari arah dapur, membawa aroma teh melati yang menenangkan. Saka segera menyambar surat itu dan menyembunyikannya di balik punggung, memaksa sebuah senyum tipis yang terlihat sangat kaku di wajahnya yang pucat. Ia tidak boleh membiarkan wanita yang telah mengorbankan segalanya itu melihat badai yang sedang menghantam fondasi kebahagiaan semu yang mereka bangun ini.

Ibu Maryam meletakkan nampan dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu menatap satu per satu wajah anak-anaknya dengan kelembutan yang justru terasa menyakitkan. "Kenapa wajah kalian tegang begitu? Seperti sedang memikul beban seluruh dunia saja," ucapnya sambil mengusap pundak Saka, tidak menyadari bahwa di balik punggung anaknya, masa depan mereka sedang berada di ujung tanduk. Saka hanya bisa terdiam, merasakan beratnya pengkhianatan yang ia lakukan demi sebuah gengsi kemewahan.

Ketegangan itu meledak saat seorang pria berseragam muncul di gerbang depan, membawa map merah yang sangat dikenali oleh Saka sebagai surat penyitaan tahap akhir. Tirta langsung berdiri dan menghadang pria itu di depan pintu, sementara Dumi menatap Saka dengan kebencian yang meledak-ledak di matanya. Rahasia besar itu akhirnya pecah berkeping-keping tepat di hadapan Ibu Maryam yang kini terpaku lemas, menyadari bahwa rumah impian ini hanyalah sebuah istana pasir yang siap tersapu ombak.

Suara mesin mobil mewah yang perlahan padam di depan pagar kayu yang mulai lapuk menandakan kepulangan Saka. Ia selalu menyempatkan diri untuk pulang setiap akhir pekan tanpa absen, seolah ada magnet kuat yang menariknya kembali ke rumah sederhana ini. Begitu kaki jenjangnya menyentuh tanah, aroma tanah basah dan melati dari kebun kecil Ibu segera menyambut indra penciumannya dengan hangat.

Di tangan kanannya, Saka menjinjing beberapa kantong kertas berisi makanan enak dari restoran ternama di kota untuk dinikmati bersama di meja makan kayu yang sudah tua. Jemarinya secara tidak sadar mengetuk-ngetuk bingkai pintu dengan ritme tiga ketukan pendek, sebuah kebiasaan lama yang selalu ia lakukan sejak kecil sebelum masuk. Ia tidak pernah merasa perlu menggunakan kunci cadangan selama Ibu Maryam masih ada di dalam sana.

Lampu gantung di ruang tengah yang sedikit berkedip redup memberikan suasana sunyi yang kontras dengan hiruk-pikuk kantornya di Jakarta yang serba cepat. Saka melepas sepatu kulitnya, membiarkan telapak kakinya merasakan tekstur ubin yang dingin, sebuah sensasi yang selalu membuatnya merasa membumi kembali. Meski kini ia memegang jabatan tinggi yang disegani banyak orang, di depan Ibu ia tetaplah Saka kecil yang manja.

"Ibu, Saka pulang membawa martabak kesukaan Ibu yang antreannya sepanjang jalan protokol," serunya dengan nada bicara yang berayun jenaka, jauh dari kesan tegas seorang direktur. Ia meletakkan bungkusan itu di atas meja makan yang tertutup taplak kain rajutan tangan Ibu yang sudah mulai memudar warnanya. Matanya mencari sosok wanita paruh baya yang telah menjadi kompas moral dalam setiap langkah besar di hidupnya.

Mereka sering berdiskusi tentang banyak hal, mulai dari carut-marut politik hingga masalah lingkungan yang sering Saka hadapi di proyek-proyek besarnya. Ibu Maryam selalu mendengarkan dengan saksama, sesekali memberikan tanggapan yang sederhana namun sangat menohok dan penuh kebijaksanaan tradisional. Saka menyadari bahwa berbincang dengan Ibu adalah cara terbaik untuk melepas stres setelah seminggu bekerja keras di bawah tekanan.

Dumi biasanya akan muncul dari arah dapur dengan celemek yang masih terikat, membawa aroma bawang goreng yang tajam dan menggugah selera makan siapa pun. "Jangan hanya bicara politik, Saka, bantu aku menata piring jika kau ingin makan dengan tenang malam ini," ujar Dumi dengan nada ketus yang menjadi ciri khasnya. Dumi memiliki kecenderungan untuk selalu mengalihkan pembicaraan serius menjadi tugas praktis yang harus segera diselesaikan.

Tirta, si bungsu, seringkali hanya duduk di sudut ruangan sambil mengamati kakak-kakaknya dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah menyimpan sebuah rahasia besar. Ia kerap memainkan ujung bajunya, sebuah gestur yang menunjukkan kegelisahan tersembunyi yang jarang disadari oleh Saka yang terlalu sibuk bercerita. Suasana malam itu terasa hangat, namun ada sesuatu yang mengganjal di balik tawa renyah yang mereka bagikan di meja makan.

Saka memperhatikan bagaimana Ibu Maryam sesekali memijat pangkal hidungnya, sebuah gerakan kecil yang tidak pernah Ibu lakukan sebelumnya jika hanya merasa lelah biasa. "Ibu baik-baik saja? Wajah Ibu terlihat sedikit pucat di bawah lampu ini," tanya Saka sambil menghentikan ketukan jarinya pada permukaan meja kayu yang kasar. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh kedua adiknya, terutama dari cara Tirta menghindari kontak mata.

"Hanya kurang tidur karena menunggu kepulanganmu, Saka, jangan terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak," jawab Ibu dengan suara lembut yang sedikit bergetar. Saka tidak puas dengan jawaban itu, namun ia memilih untuk menyimpan kecurigaannya di balik senyum yang dipaksakan demi menjaga suasana. Ia tahu betul bahwa dalam keluarga mereka, kejujuran sering kali dibungkus rapi dalam bentuk pengorbanan yang menyakitkan.

Tiba-tiba, Tirta menjatuhkan sendoknya hingga denting logam itu bergema keras di seluruh ruangan yang seketika menjadi hening dan mencekam bagai kuburan. Wajah Tirta memerah, napasnya memburu seolah ada beban berat yang tidak sanggup lagi ia pikul sendirian di pundaknya yang masih tergolong muda. "Sampai kapan kita harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja di depan Mas Saka?" teriak Tirta dengan suara yang pecah.

Dumi segera berdiri dan memegang bahu Tirta dengan kencang, mencoba menenangkan adiknya namun sorot matanya justru memancarkan ketakutan yang mendalam pada Saka. "Tirta, diam! Ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu, biarkan Ibu menikmati makan malamnya dengan tenang," bentak Dumi dengan nada tinggi. Saka terdiam membeku, jemarinya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih karena ketegangan yang tiba-tiba memuncak.

Keheningan yang mengikuti ledakan emosi Tirta terasa lebih menyesakkan daripada kemacetan kota yang baru saja Saka tinggalkan beberapa jam yang lalu di belakangnya. Ia menatap Ibu Maryam, yang kini hanya menunduk dalam, menghindari tatapan menyelidik dari putra sulungnya yang mulai menyadari ada sesuatu yang hilang. Ruangan itu terasa menyempit, dan aroma makanan enak yang tadi ia bawa kini berubah menjadi bau kecemasan yang menyesakkan dada.

Saka berdiri perlahan, langkahnya terasa berat saat ia berjalan menuju lemari tua tempat Ibu biasa menyimpan dokumen-dokumen penting keluarga mereka sejak dulu. Ia menemukan sebuah amplop cokelat besar yang terselip di balik tumpukan kain sarung tua, sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana jika tidak ada rahasia. Dengan tangan gemetar, ia membuka segel amplop itu dan menemukan kenyataan yang selama ini sengaja dikubur hidup-hidup oleh orang-orang tercintanya.

Ternyata, rumah yang selama ini ia anggap sebagai tempat pulang paling aman telah lama diagunkan ke bank untuk menutupi biaya pengobatan rahasia yang tidak pernah ia ketahui. Seluruh uang yang ia kirimkan setiap bulan ternyata tidak pernah sampai ke tangan Ibu, melainkan habis untuk membayar bunga utang yang terus menumpuk. Saka menatap Dumi dan Tirta dengan pandangan yang penuh luka, menyadari bahwa pengkhianatan ini dilakukan atas nama kasih sayang yang salah kaprah.

Lonceng perak di atas pintu butik berdenting halus saat Dumi melangkah masuk. Ia segera merapikan letak manekin di sudut ruangan, jemarinya bergerak lincah memperbaiki lipatan kain sutra yang sedikit miring. Kebiasaannya memeriksa setiap detail kecil sebelum toko dibuka tidak pernah berubah sejak hari pertama usaha ini dirintis dengan modal nekat dan doa ibu.

Lihat selengkapnya