RATUKAN IBUMU

Bilsyah Ifaq
Chapter #8

Cahaya di Masa Senja

Lampu minyak yang temaram menari-nari di dinding kayu rumah mereka yang mulai lapuk, memantulkan bayangan Saka yang sedang mengasah parang dengan ritme yang monoton. Setiap gesekan besi pada batu asah seolah-olah menjadi detak jantung rumah itu, sebuah rutinitas yang ia lakukan tanpa banyak bicara demi menyembunyikan jemarinya yang gemetar. Saka selalu memiliki kebiasaan mengetukkan telunjuknya tiga kali pada gagang kayu sebelum memulai pekerjaan, sebuah ritual bisu untuk menenangkan badai di dadanya.

Ibu Maryam duduk di sudut amben, jemarinya yang kasar terus bergerak lincah merajut sisa-sisa kain perca menjadi keset, meski penglihatannya kian memudar dimakan usia yang tidak lagi muda. "Waktu itu seperti air di sungai, Saka, dia tidak pernah mengalir mundur untuk menyapa bebatuan yang sama dua kali," ucap Ibu dengan suara serak namun tenang, sebuah kalimat yang sering ia ulang setiap kali anak-anaknya mulai merasa cemas akan masa depan. Saka hanya terdiam, ia lebih memilih untuk menunduk dalam-dalam agar Ibu tidak melihat matanya yang mulai memerah.

Dumi datang dari arah dapur, membawa segelas teh hangat yang uapnya mengepul tipis, lalu meletakkannya dengan sangat hati-hati di samping tempat duduk sang ibu. Gadis itu terbiasa merapikan ujung jilbabnya berkali-kali saat merasa gelisah, sebuah tanda bagi siapa pun yang mengenalnya bahwa ada sesuatu yang sedang ia tahan di ujung lidah. "Setiap pertemuan memang indah, Bu, tapi kenapa perpisahan harus terasa sesak seperti debu yang masuk ke kerongkongan secara tiba-tiba?" tanya Dumi dengan nada yang bergetar.

Tirta, si bungsu yang biasanya paling ceria, kali ini hanya bersandar di ambang pintu sembari menatap langit malam yang kelam tanpa taburan bintang satupun. Ia memiliki kecenderungan untuk memutar-mutar cincin perak pemberian almarhum ayahnya ketika sedang berhadapan dengan pilihan sulit yang menguras emosi dan logika. Tirta memutuskan untuk tetap berangkat ke kota esok pagi, sebuah keputusan berisiko tinggi demi mengubah nasib keluarga, meski itu berarti ia harus meninggalkan ibunya dalam waktu yang sangat lama.

Suasana berubah menjadi tegang saat Saka tiba-tiba menghentikan asahannya dan menatap kedua adiknya dengan tatapan tajam yang tidak biasanya ia tunjukkan di depan Ibu Maryam. "Jangan ada yang menangis di depan Ibu, karena air mata kita hanya akan menjadi beban tambahan bagi pundaknya yang sudah terlalu lelah menggendong beban hidup," bentak Saka dengan suara tertahan. Ia selalu mengambil keputusan untuk menjadi tameng yang keras bagi adik-adiknya, meski hatinya sendiri hancur melihat kenyataan bahwa mereka harus berpencar.

Ibu Maryam hanya tersenyum tipis, lalu menghentikan rajutannya dan meraih tangan Saka serta Dumi untuk digenggam dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki di hari tuanya. "Kalian adalah napas bagi Ibu, tapi Ibu tahu bahwa napas pun harus dilepaskan agar kehidupan baru bisa terus berlanjut di dunia yang fana ini," bisiknya lembut. Ruangan itu mendadak hening, hanya menyisakan suara jangkrik di kejauhan yang seolah ikut meratapi takdir yang memaksa mereka untuk menghadapi kenyataan pahit tentang sebuah perpisahan.

Saat fajar mulai menyingsing, sebuah rahasia besar terkuak ketika Tirta menemukan surat usang di balik lemari yang menyatakan bahwa rumah mereka telah digadaikan sejak lama. Kenyataan ini membalikkan semua rencana mereka, memaksa Saka untuk memilih antara martabat keluarga atau keselamatan nyawa ibunya yang kini mulai jatuh sakit secara mendadak. Tirta menggenggam erat surat itu, menyadari bahwa perjalanan yang ia rencanakan bukan lagi sekadar mencari kerja, melainkan sebuah pelarian dari kejaran hutang yang selama ini disembunyikan sang ibu.

Bunyi gesekan kain sarung pada lantai semen yang kasar terdengar terburu-buru saat Tirta berlari menuju kamar Ibu Maryam. Di sana, wanita yang telah membesarkannya itu sedang bersandar pada pilar ranjang kayu, tangannya mencengkeram dada dengan wajah yang pucat pasi. Tirta tidak membuang waktu untuk bertanya, ia segera merengkuh tubuh mungil ibunya yang kini terasa seringan kapas, seolah beban hidup telah mengikis berat badannya selama bertahun-tahun tanpa mereka sadari sepenuhnya.

Saka yang baru saja menutup laptopnya di ruang tengah langsung melompat berdiri saat mendengar teriakan panik Tirta. Jemarinya secara tidak sadar mengetuk-ngetuk bingkai pintu dengan ritme tiga ketukan pendek yang cepat, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali jantungnya berpacu karena kecemasan yang luar biasa. Ia segera menyambar kunci mobil, sementara Dumi berlari di belakangnya sambil mendekap botol minyak kayu putih dan selimut tebal untuk melindungi Ibu dari udara malam yang menusuk tulang.

Mobil hitam mengkilap milik Saka membelah jalanan desa yang sunyi dengan kecepatan yang tidak biasa, meninggalkan jejak debu di bawah sinar lampu jalan yang temaram. Di kursi belakang, Tirta memangku kepala Ibu Maryam, membisikkan doa-doa pendek tepat di telinga wanita itu, sementara tangannya terus mengusap telapak tangan Ibu yang terasa sedingin es. Dumi duduk di samping Saka, matanya sembap namun ia tetap berusaha mengatur napas agar tidak pecah dalam tangisan yang bisa memperkeruh suasana. "Cepat sedikit, Mas Saka, napas Ibu makin pendek," bisik Dumi dengan suara yang bergetar hebat, jemarinya meremas ujung jilbabnya hingga kusut. Saka tidak menjawab, namun rahangnya mengeras dan injakan pedal gasnya semakin dalam, menunjukkan keputusan bulatnya untuk tidak membiarkan maut menyentuh ibunya malam ini. Ia selalu memiliki kecenderungan untuk mengambil kendali penuh dalam situasi krisis, seolah-olah dengan kecepatan mobilnya, ia bisa membalap takdir yang sedang mengejar mereka dari belakang.

Sesampainya di koridor rumah sakit yang beraroma antiseptik tajam, suara roda brankar yang berderit memecah keheningan malam yang mencekam. Para perawat bergerak lincah memindahkan Ibu Maryam ke dalam ruang gawat darurat, meninggalkan ketiga bersaudara itu terpaku di depan pintu kaca yang tertutup rapat. Lampu merah di atas pintu menyala, menciptakan bayangan panjang yang seolah-olah menarik mereka kembali ke masa kecil saat mereka hanya memiliki satu sama lain untuk bersandar.

Dokter keluar beberapa jam kemudian dengan wajah yang menyimpan kelelahan mendalam, melepas maskernya perlahan sebelum menatap Saka, Dumi, dan Tirta secara bergantian. "Kondisi jantung Ibu sudah sangat lemah, ada komplikasi yang selama ini mungkin beliau sembunyikan dari kalian," ujar dokter dengan nada suara yang rendah dan penuh empati. Kalimat itu menghantam dada Saka seperti godam besar, membuatnya terhuyung sejenak sebelum kembali mengetuk-ngetuk permukaan kursi plastik di ruang tunggu itu.

Dumi jatuh terduduk di kursi panjang, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan sementara isak tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah juga. Ia teringat betapa Ibu selalu menolak saat diajak periksa kesehatan, selalu berdalih bahwa dirinya hanya lelah karena terlalu banyak berkebun atau mencuci pakaian. "Ibu selalu bilang dia baik-baik saja, Mas," rintih Dumi di sela isaknya, "kenapa kita begitu bodoh sampai percaya begitu saja pada senyum palsunya selama ini?"

Tirta mendekap adiknya, namun matanya tetap lurus menatap pintu ruang perawatan, seolah pandangannya bisa menembus dinding beton untuk memberi kekuatan pada Ibu. Sebagai anak bungsu, Tirta biasanya adalah yang paling manja, namun malam ini ia menunjukkan ketegaran yang tidak terduga dengan tetap berdiri tegak di tengah badai emosi. Ia tahu bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk menyesal, melainkan waktu untuk memberikan sisa energi mereka demi kesembuhan wanita yang telah memberikan segalanya.

Saka berjalan menjauh dari adik-adiknya, berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke arah kota yang masih terlelap dalam kegelapan. Ia menyadari bahwa kekayaan yang ia kumpulkan dan mobil mewah yang ia kendarai tidak memiliki arti apa pun jika ia tidak bisa membeli waktu tambahan untuk bersama Ibunya. Keputusan biasnya untuk selalu mendahulukan karier demi membahagiakan Ibu kini terasa seperti bumerang yang menghantam nuraninya sendiri dengan sangat keras dan menyakitkan.

Mungkin selama ini aku hanya sibuk membelikan Ibu barang-barang mahal, tanpa benar-benar bertanya apakah jantungnya masih sanggup menanggung rindu yang aku tinggalkan.

Suasana di ruang tunggu itu menjadi sangat hening, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah-olah sedang menghitung mundur sesuatu yang tak terhindarkan. Ketiganya berkumpul kembali dalam lingkaran kecil, saling menggenggam tangan dalam doa yang tidak terputus, memohon pada Tuhan agar diberikan satu lagi kesempatan untuk berbakti. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa sekuat apa pun usaha manusia, ada garis takdir yang telah digariskan, namun cinta mereka menolak untuk menyerah pada kenyataan pahit itu.

Tiba-tiba, seorang perawat keluar dengan tergesa-gesa dan memanggil nama keluarga Ibu Maryam dengan nada yang mengandung urgensi tinggi. Saka, Dumi, dan Tirta serentak berdiri, jantung mereka berdegup kencang menanti kabar yang mungkin akan mengubah hidup mereka selamanya. Perawat itu mengisyaratkan mereka untuk masuk, namun wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda kelegaan, melainkan sebuah ketegangan baru yang membuat bulu kuduk mereka berdiri tegak.

Di dalam ruangan, Ibu Maryam tampak sangat kecil di antara kabel-kabel medis yang melilit tubuhnya, namun matanya terbuka sedikit dan mencari-cari wajah anak-anaknya. Ia mencoba menggerakkan bibirnya yang kering, seolah ingin menyampaikan sebuah rahasia besar yang selama ini ia simpan rapat di dalam relung hatinya yang paling dalam. Saka mendekat, menempelkan telinganya ke bibir Ibu, dan seketika itu juga seluruh dunianya terasa runtuh saat mendengar bisikan lemah yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Rahasia yang terucap itu bukan tentang harta atau pesan terakhir yang biasa, melainkan sebuah pengakuan tentang asal-usul mereka yang selama ini terkubur di bawah kesederhanaan rumah tua mereka. Saka membelalakkan mata, jemarinya berhenti mengetuk dan kini mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih karena syok yang luar biasa. Di tengah bunyi monitor jantung yang semakin tidak beraturan, mereka menyadari bahwa pengabdian mereka selama ini hanyalah awal dari sebuah kebenaran yang jauh lebih besar dan berbahaya.

Cahaya lampu neon di ruang rawat kelas tiga itu berkedip redup, memantulkan bayangan lelah di wajah Saka yang kaku. Ia berdiri di sisi ranjang, jemarinya secara otomatis mengetuk pinggiran besi tempat tidur dengan ritme tiga kali ketukan pendek yang cepat. Bau karbol yang tajam menusuk hidung, namun ia bergeming, matanya terpaku pada sosok Ibu Maryam yang tampak semakin mengecil di balik selimut rumah sakit yang kasar.

Ibu Maryam membuka matanya perlahan, mengisyaratkan ketiga anaknya untuk mendekat dengan gerakan tangan yang sangat lemah. Tidak ada lagi permintaan tentang obat herbal atau keluhan tentang biaya rumah sakit yang mencekik tabungan mereka. Wanita itu hanya menatap langit-langit plafon yang mengelupas, seolah sedang membaca catatan takdir yang tertulis di sana, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan sayunya kepada Saka, Dumi, dan Tirta.

"Saka, Dumi, Tirta... dengarkan Ibu baik-baik karena waktu bukan milik kita lagi," suara Ibu Maryam terdengar seperti gesekan daun kering di atas semen. Ia menarik napas panjang yang terasa berat, lalu melanjutkan dengan penekanan pada setiap kata yang keluar. "Jangan pernah kalian biarkan urusan tanah di kampung atau emas yang tersisa ini merobek ikatan darah kalian sendiri. Janjilah, jangan putus persaudaraan hanya karena berebut harta."

Dumi terisak pelan, bahunya terguncang saat ia merapikan letak bantal ibunya dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menyakiti kulit tua yang mulai rapuh itu. Ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata, hanya bisa mengangguk berkali-kali sambil menggenggam jemari ibunya yang dingin. Di sisi lain, Tirta hanya bisa menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan tangis yang menyesakkan dada di balik kerah jaketnya.

Saka menghentikan ketukan jarinya, sebuah keputusan besar tampak mengeras di balik sorot matanya yang tajam namun penuh luka. Ia menggenggam tangan kanan Ibu Maryam dengan mantap, memastikan ibunya merasakan kehangatan dari telapak tangannya yang kasar akibat kerja keras. "Ibu tidak perlu khawatir, semua yang kami bangun adalah untuk Ibu, dan kami akan tetap menjadi satu kepalan tangan yang utuh selamanya," tegas Saka dengan nada suara rendah.

Lihat selengkapnya