RATUKAN IBUMU

Bilsyah Ifaq
Chapter #9

Bakti yang Abadi

Saka berdiri di depan cermin, merapikan kerah kemeja batiknya yang sedikit lusuh namun tetap bersih. Tangannya yang kasar akibat bertahun-tahun bekerja kasar kini bergerak pelan, sebuah kebiasaan kecil berupa ketukan jari di pinggiran meja kayu tua setiap kali ia sedang menimbang keputusan berat. Baginya, setiap langkah yang ia ambil harus berlandaskan pada satu prinsip keras yang selalu ia gumamkan dalam hati: "Jangan biarkan keringat Ibu sia-sia hanya karena malasmu."

Di sudut dapur yang sempit, Dumi sedang sibuk membungkus nasi uduk dengan gerakan yang sangat tangkas dan ritmis. Sambil bekerja, ia seringkali bersenandung kecil, sebuah melodi tanpa kata yang dulu sering dinyanyikan Ibu Maryam saat mereka masih kesulitan mencari sesuap nasi. Dumi memiliki cara bicara yang lugas namun penuh empati, selalu menyisipkan kata "berkah" dalam setiap transaksi yang ia lakukan dengan para pelanggannya di pasar pagi.

Tirta, si bungsu yang kini sudah mengenakan seragam kebanggaannya, duduk di teras sambil menyemir sepatu hingga mengkilap tanpa noda sedikit pun. Ia adalah tipe orang yang lebih banyak bertindak daripada bicara, namun ketika ia bersuara, kalimatnya selalu terukur dan penuh hormat. Keputusan Tirta untuk tetap tinggal di rumah sederhana ini, meskipun kantornya menawarkan mess mewah, adalah bukti nyata dari keberpihakannya pada kedekatan batin bersama ibunda tercinta.

Suasana di rumah itu selalu terasa hangat berkat aroma kayu manis yang menguar dari dapur, tempat Ibu Maryam biasanya menyeduh teh untuk mereka bertiga. Meski dinding rumah mereka mulai mengelupas, tidak ada satu pun dari ketiga bersaudara itu yang merasa kekurangan karena mereka tumbuh dalam didikan yang mengutamakan rasa syukur di atas segalanya. Mereka memahami bahwa kekayaan sejati bukanlah tentang angka di rekening, melainkan tentang seberapa besar bakti yang bisa mereka berikan.

Suatu sore, sebuah tawaran besar datang menghampiri Saka yang bisa mengubah nasib ekonomi keluarga mereka secara instan namun menuntutnya untuk pergi jauh. Saka terdiam lama, jarinya mengetuk-ngetuk meja lebih cepat dari biasanya, sementara pikirannya melayang pada wajah Ibu Maryam yang kian menua. Tanpa perlu banyak berdiskusi, Saka memutuskan untuk menolak peluang emas tersebut karena ia tahu bahwa kehadirannya secara fisik di sisi Ibu jauh lebih berharga daripada tumpukan uang.

Dumi dan Tirta yang mendengar keputusan kakaknya hanya mengangguk setuju, seolah mereka sudah berbagi satu nyawa yang sama dalam hal prinsip hidup. Mereka bertiga kemudian berkumpul di meja makan kayu yang sudah mulai goyang, menikmati hidangan sederhana dengan penuh canda tawa yang tulus. Di mata mereka, kebahagiaan Ibu Maryam adalah kompas utama yang mengarahkan ke mana pun kaki mereka harus melangkah dalam kerasnya dunia luar.

Namun, ketenangan itu terusik ketika sebuah surat misterius terselip di bawah pintu rumah, mengungkap rahasia masa lalu tentang tanah yang mereka tinggali selama puluhan tahun. Ternyata, pengorbanan Ibu Maryam jauh lebih kelam dan menyakitkan daripada yang pernah mereka bayangkan selama ini untuk mempertahankan atap di atas kepala mereka. Kenyataan pahit itu kini menuntut Saka, Dumi, dan Tirta untuk mengambil tindakan yang jauh lebih ekstrem demi menjaga kehormatan sang ibu yang baru saja terancam. Marah dan cinta kini bercampur menjadi satu kekuatan yang siap meledak kapan saja.

Langit di atas pemakaman umum itu tampak muram, tertutup arak-arakan awan kelabu yang seolah ikut merasakan duka mendalam. Ratusan orang berdiri menyemut di sepanjang jalan setapak, menciptakan barisan panjang yang tak putus-putus. Mereka semua datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ibu Maryam, sosok wanita bersahaja yang kebaikannya telah menyentuh begitu banyak hati di kampung ini.

Saka berdiri di barisan paling depan, jemarinya secara otomatis mengetuk pinggiran keranda kayu dengan ritme tiga kali ketukan pendek yang cepat. Kebiasaan lama yang muncul setiap kali ia berusaha mengendalikan badai di dalam dadanya. Dengan suara yang berat dan bergetar, ia mulai memimpin shalat jenazah, melantunkan doa-doa yang membubung tinggi ke angkasa, membawa seluruh kerinduan dan rasa hormat kepada sang ibu.

Di sampingnya, Dumi dan Tirta tertunduk dengan bahu yang sesekali berguncang pelan, menahan isak yang nyaris pecah. Para pelayat saling berbisik tentang bagaimana Maryam dahulu sering membagi sebungkus nasi terakhirnya kepada tetangga yang kelaparan. Mereka mengenang betapa tangguhnya wanita itu membesarkan tiga singa jantan tanpa pernah sekalipun mengeluh tentang perihnya kemiskinan yang sempat melilit hidup mereka.

Langkah kaki para pembawa keranda terasa begitu khidmat saat mereka perlahan menuju liang lahat yang telah disiapkan dengan rapi. Saka bersikeras turun ke dalam lubang yang dingin itu, ingin menjadi orang terakhir yang menyentuh tubuh ibunya sebelum tanah menutupinya. "Ibu sudah selesai, sekarang giliran kami yang menjaga janji," bisiknya pelan dengan nada bicara yang tegas namun penuh dengan kelembutan yang menyayat hati.

Tanah merah mulai menutupi papan kayu, dan satu per satu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman setelah menaburkan bunga mawar yang harum. Di atas nisan kayu yang masih baru, terukir nama Maryam dengan sangat indah, sebuah tanda bagi dunia bahwa di sini beristirahat seorang ratu tanpa mahkota. Ia telah berhasil mendidik tiga anak yang tak hanya sukses secara materi, namun juga memiliki integritas dan kerendahan hati yang luas.

Namun, saat suasana mulai sepi, Saka menemukan sebuah amplop tua yang terselip di balik buku yasin milik ibunya yang tertinggal di kursi panjang. Dengan tangan gemetar, ia membuka surat itu dan menemukan sebuah fakta yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Maryam tentang asal-usul mereka. Rahasia di dalam surat itu seketika mengubah seluruh pandangan Saka terhadap pengorbanan yang selama ini ia anggap sebagai sebuah kewajiban semata.

Gedung tua di sudut kota itu kini bersolek dengan cat putih gading yang bersih, memancarkan kehangatan di tengah hiruk-pikuk jalanan yang berdebu. Papan nama kayu jati berukir halus bertuliskan Yayasan Maryam terpasang kokoh di atas gerbang utama, menyambut siapa pun yang datang dengan janji harapan baru. Aroma melati yang samar tercium dari taman kecil di depan teras, sebuah sentuhan personal yang sengaja dihadirkan untuk mengenang bunga kesukaan sang ibu semasa hidupnya.

Saka berdiri di koridor utama, jemarinya secara otomatis mengetuk pinggiran bingkai foto besar Ibu Maryam dengan ritme tiga kali ketukan pendek yang cepat. Matanya menatap tajam ke arah laporan keuangan di tangan kiri, sementara tangan kanannya merapikan kerah kemeja yang terasa sedikit mencekik. Sebagai anak tertua yang memikul beban finansial keluarga sejak remaja, ia memastikan setiap rupiah yang masuk ke yayasan ini benar-benar sampai ke tangan para janda yang membutuhkan.

"Kita tidak boleh meleset sedikit pun dalam penghitungan ini," gumam Saka dengan nada rendah namun penuh penekanan yang tidak menerima bantahan. Baginya, uang yayasan adalah amanah suci yang tidak boleh ternoda oleh kesalahan administrasi sekecil apa pun, karena di sana terselip keringat dan air mata ibu mereka. Ia selalu memilih jalan yang paling sulit dan transparan jika itu menyangkut integritas, sebuah kecenderungan keputusan yang membuatnya disegani sekaligus ditakuti oleh para staf.

Di ruang aula yang luas, Dumi sedang sibuk menata mesin jahit dan gulungan kain warna-warni dengan gerakan tangan yang lincah namun penuh perhitungan. Ia tidak banyak bicara, lebih sering menggunakan bahasa tubuh dan instruksi singkat yang praktis untuk mengarahkan para ibu yang sedang belajar keterampilan baru. "Guntingnya jangan ragu, tekan saja sampai bunyi 'klik' yang bersih," ucapnya dengan ritme bicara yang patah-patah namun memberikan kepastian pada mereka yang ragu.

Dumi memiliki kebiasaan unik untuk selalu mencium ujung kain sebelum mulai memotongnya, seolah sedang membaca kualitas dan nasib yang akan dibentuk dari serat tersebut. Ia percaya bahwa memberikan keterampilan jauh lebih berharga daripada sekadar memberi uang tunai yang akan habis dalam sekejap mata. Keputusannya untuk menghabiskan seluruh akhir pekannya di aula pengap ini, alih-alih beristirahat, adalah bentuk pengabdian nyata yang ia pelajari dari ketangguhan ibunya saat menghidupi mereka dulu.

Tirta, si bungsu yang selalu punya cara untuk mencairkan suasana, bergerak lincah dari satu meja ke meja lain sambil membawa tumpukan dokumen operasional. Ia adalah jembatan komunikasi yang memastikan semua birokrasi yayasan berjalan lancar tanpa hambatan berarti bagi para penerima manfaat. Sambil berjalan, ia sering kali memutar-mutar pulpen perak di antara jemarinya, sebuah gestur kegelisahan produktif yang selalu muncul saat ia sedang memikirkan strategi ekspansi bantuan.

"Tenang saja, Bu, urusan sekolah anak Ibu biar kami yang pasang badan sampai tuntas," ujar Tirta dengan nada bicara yang mengalun santai namun penuh keyakinan. Ia memiliki kecenderungan untuk selalu memprioritaskan kasus-kasus paling mendesak, bahkan jika itu berarti ia harus bekerja lembur hingga dini hari untuk mengurus dokumen beasiswa. Baginya, setiap anak yang bisa tetap bersekolah adalah kemenangan kecil bagi impian Ibu Maryam yang dulu sering tertunda karena kemiskinan.

Namun, ketenangan itu mendadak pecah ketika Saka menemukan sebuah

ketidaksesuaian data yang fatal dalam berkas yang disodorkan oleh salah satu pengurus kepercayaan mereka. Wajahnya mengeras, urat lehernya menegang, dan ia segera memanggil kedua adiknya ke ruang tengah dengan langkah yang menghentak keras di atas lantai marmer. Ketukan jarinya di meja kayu kini terdengar lebih keras dan cepat, menciptakan suasana mencekam yang membuat udara di ruangan itu terasa mendadak tipis.

"Siapa yang mengizinkan dana operasional ini dialihkan untuk renovasi kantor tanpa persetujuanku?" suara Saka menggelegar, memecah kesunyian sore yang biasanya damai di yayasan itu. Ia menatap Tirta dengan pandangan yang menusuk, menuntut penjelasan atas keputusan yang dianggapnya telah mengkhianati prinsip dasar yayasan. Konflik meledak seketika, menghancurkan fasad kekompakan yang selama ini mereka bangun dengan susah payah di depan publik dan para donatur.

Lihat selengkapnya