Ravana Warisan dalam Bayang

Nurholis Mazid
Chapter #2

Kematian di Malam Sepi

Langit kota Jakarta masih gelap ketika Kirana Maheswari melangkah keluar dari gedung perkantoran tempatnya bekerja. Meskipun Jakarta dikenal dengan hiruk-pikuknya yang tak pernah tidur, malam itu terasa lebih sepi dari biasanya. Hujan turun perlahan, seolah meresapi setiap inci trotoar yang dilalui, dan menghapus jejak-jejak langkah orang-orang yang biasanya bergegas pulang. Payung kecil yang ia bawa hampir tak cukup untuk melindungi tubuh mungilnya dari hembusan angin dingin yang menusuk.

Kirana menarik napas dalam-dalam, berusaha meredakan ketegangan yang semakin menyelimutinya. Ia baru saja menyelesaikan presentasi besar untuk kliennya yang harusnya menjadi pencapaian karir besar, namun hari itu terasa hampa. Tangan kirinya menggenggam erat tas laptop, sementara tangan kanannya sibuk mencari kunci apartemen di dalam tas selempang kecil. Langkahnya pelan, seolah tubuhnya sudah lelah jauh sebelum waktunya.

Ketika sampai di depan pintu apartemennya, bau familiar dari ruangannya menyambutnya, wangi kayu manis yang selalu menguar dari diffuser yang ia hidupkan setiap malam. Ia menghembuskan napas panjang, seakan ingin melupakan segala kepenatan yang menempel sejak pagi. Dengan gerakan otomatis, ia membuka pintu dan melangkah masuk.

Lampu-lampu yang lembut menyala ketika ia menekan saklar di dekat pintu. Tanpa suara, ia meletakkan barang-barangnya-tas, koper kecil, dan jaket basah yang hampir tak berguna lagi. Kirana melangkah ke jendela besar yang menghadap ke kota Jakarta, mengamati gedung-gedung tinggi yang sudah mulai diselimuti kabut malam. Biasanya, ia akan duduk di sana, merenung, menatap bintang-bintang yang jarang terlihat di kota besar ini. Namun, malam ini tidak seperti biasanya. Malam ini, pikirannya penuh dengan keraguan, kebingungan, dan kekosongan yang tak bisa ia jelaskan.

Seperti ada yang hilang, seakan ada bagian dari dirinya yang sudah mati, meskipun tubuhnya masih hidup.

Kirana terdiam di depan jendela, memandang langit yang kelam. Waktu seolah berjalan begitu lambat, dan ia merasa dunia ini tidak berpihak padanya. Beberapa kali ia berusaha menghubungi keluarganya, terutama adiknya, Rizal, yang sudah lama tidak ia temui. Namun, selalu ada alasan yang menghalangi. Hari-hari terakhir ini terasa begitu sunyi, sepi dari kehangatan yang dulu ia rasakan. Ia merasa terjebak dalam rutinitas yang tak memberi arah.

Tanpa ia sadari, malam ini adalah malam terakhirnya di dunia itu.

Lihat selengkapnya