RAVENNA

Sucy indah ramadhani
Chapter #1

Chapter 1. Malam yang tragis

Perjalanan itu terasa jauh lebih lama bagi kakinya mulai gemetar saat siluet rumahnya terlihat. Venna berdiri di depan pintu kayu tua itu dan mengetuk dengan pelan.

“Ibu, Vennna pulang” panggilnya sembari menunggu pintu itu terbuka.

Hening, tidak ada jawaban bahkan tidak ada suara langkah kaki yang mendekat untuk membuka pintu.

“Ibu, tolong buka pintunya. Udara di luar cukup dingin.” panggilnya sekali lagi sambil mengetuk pintu untuk kedua kalinya.

Malangnya itu tetap sama, hanya keheningan yang terasa sunyi dengan angin dingin menusuk kulit, awan perlahan bergerak menutupi bulan hingga membuat langit gelap di atas kota yang sepi.

Bunyi pintu tidak terkunci, perasaan tidak enak mulai muncul dalam dirinya bahkan sejak ia berjalan pulang setelah bekerja. Venna masuk dan segera menutup pintu itu kembali di belakangnya.

“kenapa gelap sekali?” gumam Venna seperti bisikan, tangannya meraba dinding untuk mencari saklar lampu.

Lampu berkedip beberapa kali sebelum terang ketika venna menekan tombol saklar, cahaya lampu itu menyinari ruang tamu dengan kekacauan yang tidak terbayangkan bagi Venna.

“Apa yang terjadi di sini?” bisik Venna dengan pertanyaan yang menggantung di udara.

Tatapannya melihat sekeliling ruang tamu di mana vas bunga pecah yang membuat pecahannya berserakan di lantai, bahkan juga dengan barang-barang lain seolah telah terjadi pergelutan hebat.

“Ayah, ibu. Apa kalian di dalam?” panggil Venna sekali lagi dengan sedikit meninggikan suaranya.

Tidak ada jawaban, keheningan ini terasa aneh dan menyesakkan. Firasat buruk mulai membuat dada gadis itu tidak nyaman. Venna segera berlari ke arah kamar ayah dan ibunya.

“Ayah, ibu, ini Venna… aku baru saja pulang-“ ucapannya terputus di tengah kalimat ketika ia merasakan sebuah cairan di bawah kakinya. Napasnya tertahan, tatapannya perlahan turun menatap lantai yang dipenuhi dengan cairan merah datang dari balik pintu kamar orang tuanya.

Dengan tangan gemetar hebat, ia mencengkram kusen pintu kayu hingga jari-jarinya memutih, pintu itu berderit terbuka, memperlihatkan pemandangan yang akan menghantui pikiran gadis itu.

“A-ayah….”

“I-ibu….”

Tubuh Venna mematung dan bergetar di ambang pintu kamar saat ia melihat tubuh orang tuanya terbaring di lantai bersimbah darah. Mata gadis itu kini telah penuh dengan air mata, ia mendekati jasad orang tuanya dengan langkah goyah.

Lututnya terasa lemas, ia jatuh berlutut di genangan darah yang berbau amis, dengan tangan gemetar ia meraih kepala ibunya, air mata gadis itu perlahan mengalir dalam diam di pipinya.

“Ibu… bangun, jangan tinggalkan Venna….” tangis venna pecah seraya memeluk kepala ibunya dengan erat. Ia kini beralih ke tubuh ayahnya dan mencoba mengguncang bahunya berharap dapat tanda kehidupan.

“ayah, bangun. Kenapa begini? Ayah, ayah bangunlah….” Tangisannya menggema di kamar yang kosong. Ia memeluk kepala ayahnya dengan erat.

Suara alarm dari atas meja nakas mengganggu tidur nyenyak Venna, ia meraba dengan gusar untuk membungkam benda berisik itu saat menekan tombol senyap. Venna meraih bantal untuk menutupi wajahnya dan tidur lagi.

Lihat selengkapnya