RAVENNA

Sucy indah ramadhani
Chapter #2

Chapter 2. Awal balas dendam

Hari-hari berikutnya berjalan lambat sejak Venna dan Claudia pindah ke apartemen, kini Venna harus menjalankan pekerjaan ganda hanya untuk bertahan hidup dan biaya sekolah Claudia. Mencuci piring, mengangkat barang, mengantar makanan, dan membersihkan toko, apa saja selama itu menghasilkan uang.

Siang itu terasa panas di kota, Venna berdiri di depan toko dengan sebotol cairan pembersih dan kain lap di tangan. Ia menyeka kaca etalase dari sudut ke sudur hingga bening.

“Hey Venna, apa kamu mau ikut untuk makan malam dengan yang lain nanti,” ucap rekan kerja Venna, Ia berdiri di belakang yang tidak jauh dari jarak Venna dengan memakai seragam kebersihan yang sama seperti Venna.

Tubuh Venna berbalik ke sumber suara hanya untuk menatap rekan kerjanya yang bernama Nancy.

“uh… tidak, aku masih memiliki urusan lain nanti sore di kantor polisi. Mungkin lain waktu aku akan ikut,” jawab Venna dengan senyum tipis di bibirnya.

“Benarkah? Sayang sekali, tapi aku tidak akan memaksamu hubungi saja aku jika kamu berubah pikiran, oke?” ucap Nancy, Ia mengedipkan matanya ke arah Venna sebelum pergi untuk kembali bekerja.

Mendengar itu Venna tidak menjawab, ia hanya mengangguk kecil. Tubuhnya berbalik menghadap kaca etalase saat tangannya kembali bekerja.

Cahaya jingga menyelimuti deretan bangunan dan memantulkan di jendela-jendela toko, setelah menyelesaikan pekerjaannya Venna tidak langsung kembali ke apartemen, ia memilih pergi ke kantor polisi dengan menyimpan harapan untuk sebuah jawaban. Gedung kantor polisi itu berdiri kokoh di ujung jalan.

Venna melangkah memasuki kantor polisi, udara dingin dari AC menyambutnya, berbanding terbalik dengan panas sore di luar.

“Aku ingin melihat perkembangan kasus kematian tiga minggu lalu atas nama Mario dan Bella,” ucap Venna, Ia berdiri di depan meja pelayanan kantor polisi. Meja itu di penuhi dengan berkas lama dan aroma kopi yang hangat.

“Maaf tapi kasus itu di hentikan dua minggu lalu karena kurangnya bukti,” jawab petugas paruh baya sambil membuka map tipis di hadapan gadis itu.

Mata Venna melebar mendengar pemberitahuan itu, nafasnya seolah berhenti di tenggorokannya.

“A-apa?”

“Kasus itu dihentikan karena kurangnya bukti, pihak kami sudah memeriksa setiap sudut lokasi tapi tidak menemukan apa-apa,” petugas itu mengulangi perkataannya kali ini dengan sedikit lambat serta jelas.

Kaki Venna menendang meja kayu itu dengan nafas yang memburu, tatapannya kini menajam menatap petugas polisi itu. Suara itu membuat menarik perhatian polisi lainnya di dalam ruangan.

“Jadi itu saja? Apa itu saja yang aku dapatkan setelah sekian lama menunggu?” tanya Venna dengan suara serak

“Aku sudah katakan sebelumnya bahwa kasus ini tidak bisa di lanjutkan lagi karena tidak ada bukti yang jelas, apa kamu tidak mengerti?” sahut petugas polisi itu dengan tegas

Venna terkekeh pelan mendengar kalimat yang hampir sama ia dengar, ia sedikit menggelengkan kepalanya.

“Tidak ada bukti?” ulangnya dengan suara rendah

Tangan venna dengan cepat merampas map tipis itu dari tangan petugas polisi dan membukanya secara acak hingga beberapa foto berjatuhan ke lantai.

Lihat selengkapnya