RAVENNA

Sucy indah ramadhani
Chapter #3

Chapter 3. Siapa pria itu?

Pagi itu kota tampak normal kendaraan mulai memenuhi jalan, toko-toko membuka pintunya dan para pelajar yang bergegas menuju sekolah mereka masing-masing. Dari jendela apartemen lantai enam venna menatap jalanan tanpa berkedip.

Di belakangnya, hampir seluruh dinding ruang tamu telah dipenuhi dengan poster pelaku, potongan koran serta catatan kecil.

“Kak Venna,” panggil Claudia, Ia berdiri di dekat pintu utama dengan seragam sekolahnya dan tas ransel di pundaknya.

Tubuh Venna segera berbalik untuk melihat ke arah Claudia

“Apa?”

Claudia menghela nafas lalu memutar matanya sebelum kembali menatap Venna.

“Apa kak Venna tidak bosan?”

“Bosan apa?” tanya Venna balik dengan sedikit mengernyit.

“Serius? Mau sampai kapan kak Venna berhenti untuk ini semua? Apa kak Venna sadar dengan apa yang kakak lakukan?” tatapan Claudia mengarah pada dinding ruang tamu yang kini penuh dengan foto poster.

“Aku tahu apa yang harus dilakukan, Claudia. Apa kamu pikir aku hanya akan diam saja karena kasus ayah dan ibu kita dihentikan?” jawab Venna, kini suaranya sedikit merendah dan sedikit mengandung ancaman.

“Tapi sampai kapan ini akan berlanjut? Kak Venna juga kurang tidur, ayah dan ibu tidak akan senang jika melihat kakak seperti ini,” ucap Claudia dengan pelan, Tangannya bertumpu pada kenop pintu lalu ia melangkah keluar meninggalkan Venna sendirian.

Apartemen itu kini terasa sunyi lagi dengan suara klik pintu yang tertutup, Venna menundukkan sedikit pandangannya ke lantai tapi ia mengangkat pandangannya kembali untuk menatap poster itu dengan tangan terkepal di sisinya.

“Maaf Claudia, jika ayah dan ibu tidak senang melihatku seperti ini hanya untuk mendapatkan pembunuh mereka maka aku akan melakukannya,” gumamnya pelan, Seringai kecil muncul dibibir Venna memperlihatkan sedikit gigi putihnya.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, namun hasilnya tetap sama tidak ada telepon atau bahkan informasi lebih lanjut tentang tiga pria dalam poster itu. Sampai suatu malam, lift berhenti dengan bunyi pelan di lantai dua belas, Venna melangkah keluar sambil membawa pesanan makanan.

Cahaya lampu koridor yang redup menciptakan bayangan panjang di sepanjang lorong, venna berhenti di pintu apartemen dan mengetuk pelan.

“Pengiriman makanan,” panggilnya, Ia berdiri di depan pintu yang tertutup, saat ia ingin mengetuk untuk kedua kalinya pintu itu terbuka hanya mempelihatkan wanita paruh baya dengan anak kecil di bawah kakinya.

“Apa ini untukku?” tanya wanita itu sambil menunjuk bingkisan makanan yang dipegang oleh Venna.

Venna tersenyum tipis lalu memberikan bingkisan makanan tersebut,

“Ah- iya, ini punya anda, nyonya. Maaf jika saya sedikit terlambat mengantarnya,” ucap Venna, Ia sedikit membungkukkan tubuhnya.

Wanita itu menggelengkan kepalanya, tangannya terulur untuk mengambil bingkisan makanan itu “Tidak apa-apa, terima kasih, Nak. Berhati-hatilah di jalan malam semakin gelap.”

Venna hanya tersenyum kecil sambil mengangguk pelan, “kalau begitu, saya harus pergi. Nikmati makanan anda” katanya pelan, lalu berbalik pergi.

Saat mencapai pintu keluar, Venna menghampiri motornya yang terparkir di halaman apartemen. Ia menghela nafas berat sebelum naik ke motornya dan menjauh dari lokasi. Jalanan yang biasanya ramai kini mulai lengang hanya di terangi oleh deretan lampu jalan.

Angin malam menerpa wajahnya saat motor itu melaju membelah kota, ketika ia melirik kaca spion, Venna baru menyadari bahwa sebuah mobil hitam berada di belakangnya.

Awalnya ia tidak terlalu memikirkan dan mungkin hanya pengendara lain yang kebetulan searah, tapi cengkeraman pada setang menegang, jantungnya berdetak lebih cepat karena mobil itu masih ada bahkan setelah beberapa simpangan dan belokan.

Lihat selengkapnya