Semenjak malam perkelahian itu, Venna menjalankan hari yang buruk bahkan lebih buruk. Kemarin ia baru saja dipecat oleh atasannya karena kurangnya ketepatan waktu saat mengantar pesanan makanan pada customer.
Pagi ini, ia sampai di sebuah toko tempat gadis itu bekerja tapi sebelum ia dapat memulai pemilik toko memanggilnya untuk ke ruang belakang.
Pria paruh baya itu dengan perut yang sedikit buncit dari balik pakaiannya, ia duduk di kursi kulitnya dengan satu amplop putih di tangannyaa.
“Venna, aku ingin memberitahumu sesuatu,” ucapnya dengan sedikit tidak nyaman.
Venna menelan ludahnya saat berdiri di depan meja bosnya dengan perasaanya yang mulai tidak enak.
“Y-ya, apa yang ingin anda katakan?” tangannya sedikit meremas ujung kain kemeja kerjanya.
“Aku harus mengurangi jumlah karyawan di sini,” jawab pria paruh baya itu, tangannya terulur untuk menyeret amplop putih di atas meja menghadap Venna.
“A-apa maksud anda, Pak?” tanya Venna sekali dengan kegugupan.
Pria itu menghela nafas panjang, tatapannya kembali untuk menatap Venna. “Maaf, tapi kamu tidak perlu bekerja lagi mulai besok. Ini uang hasil kerja kamu selama dua tahun di sini,” lanjutnya.
Ruangan itu mendadak sunyi, Venna menatap amplop di atas meja tersebut sebelum mengangkat pandangannya ke arah bosnya
“Pak, saya mohon jangan pecat saya. Saya tidak memiliki pekerjaan lagi selain di sini, dan… dan saya tidak tahu harus mencari ke mana lagi, Pak,” suara Venna bergetar sambil memohon.
“Maaf, Venna. Keputusan saya sudah bulat, ini hari teraakhir kamu bekerja dan ambillah uang ini,” balas pria paruh baya itu.
Kepala Venna kembali tertunduk menatap lantai, dengan tangan sedikit gemetar ia mengambil amplop itu, “Terima kasih, Pak.”
Tanpa mengatakan apapun lagi ia berbalik pergi dengan klik pintu yang tertutup di belakangnya, dengan membawa perasaan yang runtuh.
Sore harinya, langit mulai berubah jingga ketika Venna meninggalkan toko tersebut. Langkahnya terasa lebih berat dari biasanya, genggamannya pada amplop putih yang sedikit kusut di sudut. Venna memasukkan amplop tersebut ke dalam tas selempangnya, lalu melanjutkan berjalan menyusuri trotoar yang cukup ramai.
Kendaraan berlalu-lalang di jalan aspal, sementara para pekerja dan pelajar memenuhi halte bus serta pusat peertokoan. Venna terus berjalan sambil memikirkan tagihan listrik, biaya sewa, dan biaya sekolah Claudia yang kini harus di bayar.
Namun di tengah langkahnya seseorang menabraknya dari samping.
“Maafkan aku,” ucap pria itu, ia dengan cepat pergi begitu saja tanpa menunggu Venna bereaksi.
Venna sedikit mengernyit sebelum melanjutkan langkahnya lagi, namun hanya beberapa meter ia berjalan, firasat buruk tiba-tiba menghantamnya, tangannya segera meraba tas selempang yang terasa lebih ringan. Nafasnya langsung tercekat, Venna menghentikan langkahnya di tengah trotoar dengan gerakan panik ia mengecek isi tas selempangnya, amplop itu hilang.
Mata Venna terbelalak, darahnya seakan berhenti mengalir.
“Tidak… tidak…”
Tangannya mengobarak-abrik tas itu lagi dan hasilnya tetap sama, kosong. Jantung Venna berdetak lebih cepat, ingatannya kembali pada pria yang menabraknya beberapa saat lalu. Kepala Venna segera menoleh ke belakang untuk mencari pria tersebut di antara lautan manusia.
Tatapannya segera menemukan sosok pria yaang berjaket abu-abu yang berjalan dengan cepat setelah tatapan mereka bertemu, tangan pria itu segera menyelipkan sebuah amplop putih yang sama seperti Venna ke dalam sakunya.
“Itu dia!”
“Hei, berhenti!” panggil Venna dengan suara meninggi.
Pria itu segera mempercepat langkahnya seolah mendengar suara gadis itu, tanpa pikir panjang, Venna langsung mengejar dengan berlari. Ia menerobos para kerumunan yang membuat orang-orang terkejut di sekitarnya.
“Hei!”