Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya pucat di ats trotoar yang sepi, angin malam berembus pelan, menyapu rambut Venna yang berantakan, ia berjalan dengan langkah berat sambil memegang perutnyaa yang nyeri.
Venna menggertakkan giginya saat rasa sakit kembali menjalar dari rusuknya, nafasnya sedikit tertahan tapi ia tetap memaksakan dirinya untuk terus melangkah. Saat gedung apartemennya terlihat dari kejauhan, ia sedikit melambatkan lanngkahnya dengan cepat menata rambut dan merapikan pakaian kerjanya sebelum melangkah lagi.
Suara ketukan pintu saat tangannya terangkat untuk mengetuk, Venna mundur sedikit untuk menunggu pintu apartemennya terbuka. Namun, tidak butuh waktu lama pintu itu terbuka Claudia sedikit mengintip dari celah pintu, ia membuka pintu itu sedikit lebar ketika melihat Venna di depan.
Venna tersenyum lalu melangkah masuk, tangannya sedikit terangkat untuk mengusap kepala Claudia.
“Apa aku terlambat hari ini?” tanya Venna, Ia melepaskan sepatunya sebelum meletakkan ke dalam rak.
Claudia menggelengkan kepalanya saat menutup pintu apartemen itu kembali, “Tidak, apa semua baik-baik saja?”
Venna sedikit terdiam, ia sedikit memiringkan kepalanya seolah berpikir, ”Ya, semua baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya,” Venna memaksakan senyumnya sedikit lalu berjalan ke dapur untuk minum.
Claudia mengikuti dari belakang lalu berhenti menyisakan jarak dua meter dari Venna.
“Kak Venna,” panggilnya.
“Hm, Kenapa?” jawab Venna, Ia memutarbalikkan tubuhnya untuk menatap Claudia dengan tangan memegang gelas berisi air lalu meneguknya.
“Sebentar lagi aku akan ujian, dan harus membayar uang ujian. Jika tidak aku akan dinyatakan gagal,” ucap Claudia.
Uhuk! Uhuk!
Venna tersedak, ia meletakkan gelas itu kembali ke meja, batuknya pecah berkali-kali hingga bahunya bergetar, air mata tipis muncul di sudut matanya saat ia berusaha memulihkan nafas.
“K-kau bilang apa?”
Claudia sedikit mengernyit saat melihat Venna tersedak, namun ia tetap berdiri di tempatnya
“Aku harus membayar uang ujian nanti, kak Venna. Jika tidak aku akan dinyatakan gagal,” Claudia mengulangi kalimatnya, Ia melangkah mendekat ke arah Venna.
“Kalau Kak Venna tidak ada uangnya itu tidak masalah, aku akan-“
“Tidak, tidak. Aku mengerti,” sela Venna.
Kakinya melangkah mendekat ke arah Claudia, lalu berhenti di depan sang adik. Kedua tangannya terangkat untuk memegang bahu Claudia lalu sedikit menunjuk hingga wajah mereka sejajar.
“Tidak ada kata gagal, Claudia. Kamu akan ikut ujian itu seperti yang lainnya. Seorang kakak tidak akan membiarkan adiknya gagal dalam hal apapun, oke?” ucap Venna, bibirnya melengkung menjadi senyuman lalu menarik Claudia dalam pelukannya, dagunya bersandar di atas kepala Claudia.
Claudia sedikit terkesiap saat berada dalam pelukan kakaknya, namun dengan kehangatan tubuh Venna ia menutup matanya, tangannya terangkat dengan ragu saat membalas pelukan tersebut.
“Lakukan yang terbaik saat ujian tiba,” bisik Venna,
Keesokan harinya, Venna terbangun dengan rasa nyeri yang masih menjalar dari bahu hingga punggungnya. Ia bergeser untuk duduk di tepi ranjang dengan perlahan lalu menghela nafas sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Ia melihat di sisi lain ranjang menatap Claudia yang masih tertidur, Venna berusaha bangkit dari tempat tidurnya untuk mengambil langkah mendekat ke arah Claudia. Tangannya bergerak untuk menyelipkan rambut Claudia di belakang telinga, senyum tipis terukir di bibir Venna, ntah kenapa ia merasakan kelegaan dalam dirinya hanya melihat Claudia tidur.
Hari itu juga, Venna pergi berkeliling kota untuk mencari pekerjaan baru. Ia melangkah masuk ke sebuah toko roti dan bertanya dengan kasir di sana.
“Permisi, apa di sini membuka lowongan pekerjaan? Aku sangat membutuhkannya, bahkan jika itu hanya menjadi bersih-bersih.
“Maafkan aku, tapi bagian itu telah terisi semalam, kamu bisa cari di tempat lain saja,” ucap kasir itu dengan sedikit empati.
“Ah… begitu ya, terima kasih,” Venna sedikit membungkukkan tubuhnya lalu berbalik pergi keluar dari toko roti tersebut.
Ia menghela nafas panjang, tangannya masih memegang resume yang telah ia siapkan mulai kusut. Dengan harapan tipis ia mencoba untuk pergi ke toko lain.
Sejak pagi itu, Venna berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Minimarket, tempat cuci motor, hingga restoran cepat saji. Dan setiap kali itu pula harapan tersebut dipatahkan dengan kalimat singkat.
“Kami mencari yang berpengalaman,”
“Maaf, kami akan menghubungi jika ada kebutuhan,”
“Kamu bisa cari di restoran lain saja,”
Langkah Venna semakin berat seiring berjalannya waktu, ia memegangi perutnya yang mulai keroncongan, keringat telah membasahi pelipisnya. Namun, ia tetap berjalan sambil memeriksa alamat lowongan lain dalam internet.
“Baiklah, satu tempat lagi. Kamu bisa Venna,” gumamnya pelan.