Malam semakin larut, Venna melangkah masuk ke dalam apartemennya sebelum menutup pintu itu kembali. Pandangannya tertuju pada lantai dengan membawa map tipis serta kartu alamat pria asing itu.
Gadis itu menghela nafas berat saat duduk di kursi meja makan, tangannya melemparkan map serta kartu alamat itu, ia memiringkan kepalanya sedikit saat menatap kartu alamat itu.
“Karena aku tahu bagaimana rasanya kehilangan keluarga,”
“Kamu tidak akan menemukan mereka hanya bermodal poster,”
Kalimat itu terulang kembali dalam pikiran Venna, ia menggerakkan tangan ke rambutnya dengan frustrasi. Ia menghembuskan nafasnya kembali dengan kelelahan.
“Ayah, ibu. Aku harus bagaimana,” bisiknya pelan, Ia memejamkan mata, punggungnya bersandar pada kursinya.
Suara kendaraan, percakapan orang sekitar, dan hiruk-pikuk kota perlahan menjauh. Lantai itu, darah- merah, terlalu merah, tubuh Mario dan Bella terbaring tak bergerak. Dadanya terasa sesak, nafasnya memburu
Suara sirene ambulans menggema di telinganya, lampu merah dan biru berkelip-kelip di antara kerumunan yang memenuhi lokasi kejadian. Wajah orang-orang berdiri dibalik garis polisi dengan tatapan penasaran serta bisikan yang lebih tajam daripada pisau.
“Kasihan sekali…,”
“Katanya dibunuh…,”
“Anaknya yang menemukan mereka…,”
“Mengerikan…,”
Venna berdiri di tengah kekacauan itu, tidak mampu bergerak, bahakan juga tidak mampu untuk menangis.
Mata Venna kembali terbuka dengan nafas tak beraturan, kenangan itu lagi-lagi menghantuinya, pelipisnya kini mulai berkeringat, ia meletakan kedua tangannya di atas meja dengan kepala tertunduk. Kejadian itu hanya memicu kemarahan dalam dirinya lagi, rahangnya mengeras, tangannya terkepal hingga buku-buku jari memutih.
Tatapannya sedikit terangkat untuk menatap kartu alamat itu lebih lama dari yang sebelumnya, saat itu juga sebuah tangan menyentuh bahunya dari belakang. Tubuh Venna langsung menegang seolah jantungnya melompat ke tenggorokkan.
Ia berbalik dengan cepat, nafasnya tertahan, dan matanya membelalak terkejut. Namun ketegangan itu segera menghilang ketika ia melihat Claudia berdiri di sana dengan wajah bingung, tangan gadis kecil itu menggantung di udara.
Venna menghembuskan nafas panjang, sambil mengelus dadanya, bahunya yang sebelumnya kaku kini mengendur.
“Astaga…,”
“Kamu mengagetkanku saja,”
Venna mengusap wajahnya pelan sambil menggeleng kecil.
“Apa? Kak Venna juga membuatku kaget, aku sudah panggil kak Venna tapi tidak menyahut,” ucap Claudia, Ia berjalan untuk duduk di seberang Venna.
Venna memperhatikan gerakan Claudia saat ingin duduk, tangannya dengan cepat mengambil mamp tipis itu beserta kartu alamat dengan cepat, sebelum memasukkannya ke dalam tas.
“Apa itu?”
“Tidak ada,”
Venna memaksakan senyumnnya saat menjawab,Claudia mengernyit sedikit dan menggelengkan kepala sedikit.
Apartemen itu kembali sunyi, hanya suara tetesan air dari keran. Venna menundukkan kepalanya untuk beberapa saat sebelum mengangkatnya kembali menatap Claudia. Ia menarik nafas sedikit dalam lalu menghembuskan melalui mulut.
“Claudia, aku di pecat,”
Pandangan Claudia sedikit melebar mendengar itu tapi sebelum ia bisa melanjutkan Venna kembali berbicara.
“Aku sudah mencari pekerjaan di berbagai tempat tapi tetap saja tidak ada yang mau menerima,” Venna tersenyum kecil, lalu ia bangkit dari kursi untuk mengambil amplop putih di dalam lemari tempat bumbu dapur.
Ia kembali duduk di kursinya dan menyerahkan amplop putih itu ke arah Claudia.
“Ambillah, dan bayar ujian itu. Kamu harus lulus,”
Claudia menatap amplop putih kusut itu lalu mengambilnya dengan tangan gemetar, ia membuka amplop itu dengan ragu untuk melihat isinya. Mulutnya sedikit ternganga melihat uang yang cukup atau mungkin lebih.
“Itu uang hasil aku bekerja selama dua tahun, aku harap itu cukup,” ucap Venna, Ia menghela nafas pelan lalu bangkit dari kursinya.
“Apa rencana kak Venna selanjutnya?”