Cahaya pagi menyelinap melalui celah tirai membentang tipis ke lantai kamar yang sempit.
Suara peluit nyaring memecah kesunyian, Venna mengernyit dalam tidurnya, alis berkerut dengan mata yang masih tertutup. Ia menarik selimut lebih tinggi.
Suara peluit kembali terdengar, kali ini lebih panjang dan lebih keras. Kelopak mata Venna bergerak-gerak sebelum akhirnya terbuka.
“Aku masih mengantuk…,” gumamnya serak.
“Bangun!” Suara Veynor terdengar dari pengeras suara.
“Dunia tidak menunggu orang yang masih ingin tidur,”
Keluhan mulai terdengar dari berbagai kamar, Venna duduk di kasurnya sambil mengusap wajahnya, ia meregangkan tubuhnya yang pegal karena perjalanan semalam. Kakinya turun ke lantai untuk berjalan dan membuka pintu kamar.
Tatapannya menoleh ke kanan dan kiri lorong yang dipenuhi oleh anggota-anggota lain kini berlari menuju lapangan. Mereka semua memakai pakaian oalahraga hitam dengan masing-masing nomor dengan warna yang berbeda.
“Apa kamu Ravenna?” tanya salah satu anggota sambil memegang satu pakaian yang terlipat rapi di tangannya.
Venna menoleh dan mengangguk pelan.
“Y-ya, panggil saja Venna,”
“Mr. Romanov ingin kamu memakai ini sebelum ke lapangan, cepatlah dia sangat ketat tentang ketetapatan waktu,” ucap anggota itu, Ia menyerahkan pakaian yang terlipat itu kepada Venna dengan cap nomor 325 yang berwarna hijau.
Venna pun segera mengambil pakaian itu, ia menatap pakaian itu lebih lama. Lalu kembali ke anggota yang berdiri di depannya.
“Terima kasih, uh…,”
“Sera, itu namaku. Aku tidak menyangka akan ada anggota baru di sini.”
Venna tersenyum kecil lalu mengangguk, sebelum ia bisa menjawab suara Veynor terdengar lagi dari pengeras suara.
“Waktu hanya lima menit lagi!”
Mendengar itu Sera langsung kembali menatap Venna dengan gelagat ketakutan.
“Kalau begitu… sampai ketemu di lapangan, Venna,” Ia membalikkan tubuhnya dan langsung berlari menyusul anggota lain menuju lapangan.
Lima menit kemudian semua anggota berkumpul di lapangan termasuk Venna, ia melihat sekeliling barisan yang memiliki warna berbeda di nomor pakaian mereka, dan Venna baru menyadari bahwa hanya dia yang berwarna hijau, menandakan anggota baru.
Veynor berdiri di depan dengan kedua tangannya di belakang punggung, ia menatap lurus ke depan untuk melihat anggota-anggotanya termasuk menatap Venna.
“Sepuluh putaran,”
Setiap orang di barisan saling memandang dan tidak bergerak dari barisan mereka.
“Apa aku perlu mengulangi?”
Mendengar itu semua mulai bergerak dan berlari untuk mengelilingi lapangan, awalnya Venna masih berdiam diri dari tempatnya masih menatap Veynor, hingga pria itu menyadarinya.
“Kenapa kamu masih di sana?”
“Apa aku perlu melakukannya juga?”
“Dua puluh putaran.”