Sorak-sorai memenuhi arena, semua anggota membentuk lingkaran di sekitar arena saat melihat dua wanita yang bertarung sebelumnya. Nafas sera berdiri dengan nafas memburu, bibirnya pecah dan lengannya memar. Ia tersenyum lebar saat dinyatakan menang. Tepuk tangan bergema dari berbagai sudut.
Venna tetap berdiri paling belakang di antara anggota yang bertepuk tangan untuk kemenangan Sera, dua anggota naik untuk membawa wanita yang tidak sadarkan diri di atas ring dengan wajah penuh memar dan darah. Tatapan Venna bertemu dengan Sera, wanita itu menyeringai lalu turun dan berjalan pergi ke arah pintu keluar.
Kerumunan itu segera membela dua seperti lautan untuk membiarkan Sera lewat dan penuh pujian.
“Sera, kamu melakukannya dengan sangat keren,”
“Lain waktu ajarkan aku tendangan seperti itu, ya?”
“kamu keren,”
Sera terus berjalan sambil melambaikan tangannya dan senyum kemenangannya, sudut matanya melirik ke arah Venna hanya seperkian detik sebelum berpaling. Tapi Venna menyadari hal itu, ia tetap berdiri di tempatnya, tidak bergerak sedikitpun karena pikirannya bukan pada Sera melainkan pada tato di tangannya.
“Peserta berikutnya,” suara Veynor menggema.
Arena itu perlahan kembali tenang, kerumunan itu kembali membentuk lingkaran, mereka saling bertatapan, dan saat itu juga seorang pria melangkah maju menuju arena, kerumunan itu membela lagi untuk membiarkan pria itu lewat.
Pria itu naik ke atas arena menghadap ke Veynor, lalu membungkukkan tubuhnya sedikit sebelum berbalik menghadap kerumunan.
“Siapa yang berani menjadi lawanku?!” teriaknya menantang, ia menatap sekeliling kerumunan yang mundur sedikit, lalu bertemu dengan tatapan Venna.
“Hei! Anggota baru, kemarilah dan lawan aku,” pria itu menunjuk ke arah Venna, beberapa orang langsung menoleh ke barisan belakang melihat Venna.
Alis Venna terangkat memperhatikan pria di atas arena, ia menghela nafas lalu elangkah keluar dari tempatnya. Setiap langkah terasa berat, bukan karena gugup melainkan puluhan pasang mata yang mengawasinya.
“Ravenna,”
“Gadis baru itu?’
“Aku dengar dia dilatih khusus pada Mr. Romanov,”
“Benarkah? Bukankah ini akan semakin seru?”
Bisikan-bisikan itu terus datang di sekitar Venna, ia naik ke atas ring dan berdiri di tengah arena, tatapannya bertemu dengan Veynor sebentar sebelum melihat ke seluruh ruangan. Veynor duduk dengan tennag di sofa dekat arena dengan kaki menyilang.
“Hei, kamu gadis yang dilatih bos kita, bukan?” tanya pria itu, ia menatap lurus ke arah Venna. Lalu beralih ke arah Veynor dengan menyeringai.
“Tuan, jika aku mengalahkan murid kesayangan anda ini. Anda harus mengangkatku sebagai senior di sini,” lanjutnya.
Veynor hanya mendengus pelan, kedua tangannya bertautan di atas pangkuannya.
“Silakan,”
Pria itu tertawa kecil, ia segera mengambil posisinya kembali dan menatap ke arah Venna.
Sorak di sekitar semakin keras memenuhi ruangan, peluit akhirnya dibunyikan dan pertandingan dimulai.
Pria itu melangkah maju sambil mengangkat kedua tangannya, senyum mengejek terukir di bibirnya. Venna hanya berdiri di tempatnya mengambil posisi bertarung.
Tinju pria itu melesat cepat ke wajah Venna.
Venna dengan cepat menghindar serangan pertama, tetapi pria itu terus menyerang tanpa henti. Kombinasi pukulan dan tendangan memaksa Venna mundur selangkah demi selangkah.
Satu pukulan mendarat menghantam rusuknya, nafas Venna tercekat. Belum sempat ia pulih, pukulan lain datang menghantam pipinya.
Tubuh Venna terjatuh ke atas kanvas ring, pandangannya berkunang-kunang melihat sekitar yang masih bersorak lebih keras.