Lima tahun berlalu waktu berjalan lebih cepat dari yang dibayangkan. Bahkan setelah pertarungan Venna terus melatih dirinya tanpa berhenti, hingga itu mengubah dirinya menjadi tak tersentuh, rambutnya juga lebih panjang dari yang sebelumnya. Namun, satu hal yang tidak berubah, tujuannya.
Pagi itu seluruh anggota berkumpul di aula utama, suasana lebih ramai dari yang sebelumnya. Barisan itu terbelah menjadi dua, senior dan junior. Venna memperhatikan para senior satu per satu, ia melihat rambut berambut pendek dengan tatapannya yang tajam, mulutnya mengunyh permen karet dan tangan menyilang, Iris.
Tatapan Venna beralih lagi dengan pria jangkung yang terlihat menyebalkan baginya, Nox. Kemudian tatapannya beralih lagi pada pria yang berambut pirang kecokelatan, Zevion. Tatapan kosong itu sama seperti dilihat Venna beberapa bulan lalu.
Pintu aula terbuka memperlihatkan Veynor masuk ke dalam, dengan asistennya yang mengikuti di belakang. Semua anggota mendadak diam menghadap ke depan melihat Veynor.
“Selamat pagi.” ucap Veynor.
“Pagi!” jawab anggota dengan serempak.
Veynor mengangguk, tatapannya beralih ke asistennya yang berdiri di sebelahnya. Asisten itu segera mengangguk, ia membuka tablet di tangannya lalu menekan tombol di atas layar, mendadak lampu di aula terpadam, kegelapan itu membuat para anggota berbisik sambil melihat sekitar dengan rasa ingin tahu.
“Apa yang terjadi?”
“Apa kita akan bertarung melalui kegelapan?”
“Mana aku tahu.”
Bisikan-bisikan itu terus datang dalam kegelapan, lalu asisten Veynor menekan tombol lagi menampilkan layar besar yang menyala di belakang Veynor, layar itu menunjukkan sebuah bangunan gedung pencakar langit dan gambar flashdisk.
“Perhatikan semuanya, hari ini kalian akan mendapatkan misi di tempat ini,” jari telunjuk Veynor menunjuk ke arah bangunan gedung tersebut. “Misi kalian adalah mencari sebuah Flashdisk di dalamnya dan dapatkan.”
“Tidak ada persyaratan apapun, boleh berbohong, licik, dan bertarung jika perlu,”
Asisten Veynor menakan tombol untuk menguah gambar pada layar, layar besar itu kini menunjukkan peta dalam gedung tersebut dan terdapat titik merah di satu tempat.
“Peta ini akan di kirim melalui jam tangan khusus pada kapten tim kalian.”
Semua anggota di barisan saling bertatapan, Veynor menatap ke arah asistennya. Asistennya segera menggangguk lalu melangkah maju sedikit ke depan.
“Kalian akan di buat dalam tim, masing-masing tim terisi dalam tiga orang dengan keahlian yang berbeda-beda,” Asisten Veynor menatap tabletnya, layar besar itu berubah menjadi nama-nama yang para anggota yang muncul.
Ruangan langsung ramai, para anggota saling bertatapan dan berbicara. Namun Venna tetap melihat ke layar besar itu, matanya sedikit menyipit untuk melihat lebih jelas namanya terletak di antara nama Sera dan Kael. Di tengah keributan itu seorang pria dengan kacamata bulatnya mengangkat tangan, semua orang beralih padanya.
“Mr. Romanov. Saya ingin mengajukan keberatan dalam tim saya!”
Veynor mengangkat alisnya.
“Keberatanmu bisa di simpan jika misi sudah selesai.”
Ruangan itu pecah menjadi tertawa kecil, lampu di aula kini menyala kembali, pintu aula itu terbuka lagi ketika beberapa pria atau wanita dengan jas hitam mereka melangkah mencampuri barisan. Mereka memasangkan jam khusus pada masing-masing kapten tim termasuk Venna. Setelah terpasang mereka langsung pergi.
“Baiklah, kalian bisa mulai sekarang!” Suara Veynor terdengar lagi dengan suara tegas.
Semua anggota berlarian meninggalkan aula, tapi tidak dengan Venna. Ia masih berdiri di barisannya menatap jam di tangannya. Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya, Venna mendongak hanya melihat Sera dan Kael datang menghampirinya.
“Aku tidak menyangka kita satu tim, Venna. Apa yang kamu pikirkan?” tanya Sera dengan alis terangkat sebelah.
“Jarang sekali Mr. Romanov membuat misi dalam bentuk tim, biasanya selalu menyerahkan misi secara individu,” ucap Kael, tangannya memegang sebuah tablet.
“Hei, bukankah kamu pria yang mengajukan pertanyaan tadi? Aku penasaran kenapa kamu keberatan dengan kami, hm…” tubuh Sera sedikit mencondong ke arah Kael sambil menyilangkan tangannya di dada.
“Itu bukan urusanmu, lagipula Mr. Romanov tidak marah jika aku mengajukan pertanyaan,” jawab Kael, Ia membenarkan kaca matanya dengan jarinya.
Saat itu juga terdengar suara langkah kaki lain mendekat, saat mereka bertiga mendongak hanya untuk melihat Zevion dengan dua anggotanya, Iris dan Nox di belakangnya. Kini mereka saling berhadapan.