RAVENNA

Sucy indah ramadhani
Chapter #10

Chapter 10. Bara yang tertahan

Bel istirahat berbunyi nyaring, memecah suasana kelas yang sejak tadi dipenuhi suara guru menjelaskan pelajaran. Dalam sekejap, kursi-kursi bergeser dan para siswa mulai keluar kelas, koridor sekolah dipenuhi dengan langkah kaki, tawa, dan obrolan yang saling bersahutan.

Aroma berbagai masakan dari kantin mulai memenuhi udara, mengundang para siswa yang perutnya sudah keroncongan sejak pelajaran pertama. Claudia berjalann berdampingan dengan mira dan Evan menuju kantin sekolah

Wajah Claudia sedikit pucat, lingkaran tipis di bawah matanya masih terlihat jelas, pertanda kurangnya tidur karena bermalaman belajar untuk ujian yang akan datang. Meski begitu, ia tetap tersenyum dengan kedua temannya.

Evan mengusap perutnya sambil mengembuskan napas panjang.

“Akhirnya istirahat juga,” Ia menatap nampan makanannya “aku sudah lapar setengah mati, pelajaran membuat perutku menuntut.”

Mira terkekeh pelan mendengar keluhan Evan.

“Baru saja dua jam pelajaran.”

Evan menggeleng dramatis.

“Tapi rasanya seperti empat puluh delapan jam.”

Claudia tersenyum kecil melihat tingkah mereka.

“Jangan terlalu banyak mengeluh, makananmu akan dingin karena terlalu banyak berbicara.”

“Nah, itu dia,” sahut Evan cepat. “Aku hanya tidak ingin mengambil resiko sebesar- tunggu, kamu baru saja menyuruhku diam dengan halus.”

Mira dan Claudia saling menatap dan tertawa pelan, mereka bertiga akhirnya memilih meja di sudut kantin yang cukup sepi, jauh dari keramaian antrean dan suara siswa yang memenuhi ruangan. Nampan mereka diletakkan di atas meja.

Evan langsung menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.

“Terima kasih untuk makanannya hari ini, aku makan dulu.”

Tanpa menunggu lebih lama, ia langsung menyendok nasi pertamanya. Mira kembali tertawa sambil menggeleng pelan melihat Evan, Claudia ikut mengambil sendoknya, belum sempat ia menyendok nasi pertamanya.

Sebuah benturan keras menghantam meja mereka, gelas minuman berguling hingga jatuh ke lantai membuat es dan air menyebar ke segala arah. Claudia perlahan mengangkat kepalanya hanya untuk melihat tiga siswi yang berdiri di hadapannya.

Siswi yang berada di tengah memiliki rambut pirang pendek yang di potong sebahu, kedua tangannya bersilang di dada sementara bibirnya terukir menjadi senyum sinis.

“Nikmat ya makan siangnya, hm?” Suaranya terdengar cukup keras hingga menarik perhatian para siswa di sekitar mereka.

Perlahan, suasana kantin mulai berubah. Percakapan para siswa mereda, sendok-sendok berhenti bergerak. Beberapa pasang mata diam-diam menoleh ke arah meja Claudia.

Claudia tidak menjawab, ia hanya menarik beberapa lembar tisu lalu membersihkan meja yang basah seolah tidak mendengar apapun.

Melihat dirinya terabaikan, senyum gadis itu semakin lebar.

“Aku dengar keluargamu terkenal,” Ia memiringkan kepalanya dengan tatapan mengejek. “ Tapi… kenapa malah tinggal di apartemen kecil?”

Dua temannya di belakang langsung tertawa kecil.

“Mungkin hartanya sudah habis.”

“Kasihan sekali ya.”

Mendengar ejekan itu Evan langsung berdiri dari kursinya.

“Hei! Itu sudah keterlaluan!”

Ia melangka maju ke depan, namun satu dari mereka berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam.

“Diamlah, ini bukan urusanmu. Duduk.”

Evan mengepalkan tangannya.

Lihat selengkapnya