Tiga hari berlalu sejak keributan di kantin, bel sekolah tetap berbunyi seperti biasa, guru mengajar, para siswa belajar, tawa dan obrolan kembali memenuhi lorong-lorong sekolah. Setidaknya begitulah yang terlihat dari luar.
Tidak bagi Claudia, ntah kenapa ia merasakan suasana sekolah tidak lagi sama. Setiap ia melangkah melewati koridor, selalau ada tatapan yang diam-diam mengikutinya. Sebagian dipenuhi dengan rasa penasaran, sebagian lagi sengaja berbisik saat ia lewat.
“Bukankah itu Claudia?”
“Benarkah? Yang berkelahi dengan geng bully itu, kan?”
“Ya, bahkan ia melempar ketua geng itu ke tong sampah.”
Di sudut lain, beberapa siswi yang sering terlihat bersama ketua geng hanya memandangnya dengan senyum tipis dengan sarat akan kemusuhan. Sementara ketua geng itu sendiri tidak lagi mengganggunya secara terang-terangan.
Ia hanya berdiri dari kejauhan menatap Claudia dengan senyum dingin yang menyimpan kebencian, tatapan itu seolah berkata bahwa semuanya kan berakhir.
Saat jam pelarajaran telah usai, Claudia berjalan menyusuri lorong dengan Evan dan Mira. Evan melirik ke belakang memastikan kelompok siswa itu tidak mengikuti mereka, kemudian ia menghembuskan napas panjang.
“Aku tidak suka cara mereka menatapmu, Claudia.”
Claudia menoleh sebentar, senyum tipis terukir di wajahnya. Meski kelelahan masih tampak jelas di kedua matanya.
“Biarkan saja mereka.”
Evan mengerutkan kening.
“Tapi-“
Claudia memotong ucapan Evan dengan tenang.
“Jangan khawatir, aku tidak akan lari dari mereka.”
Langkahnya tetap berlanjut, Mira yang berjalan di sisi kirinya meraih lengan Claudia dengan lembut.
“Tetap saja kamu harus waspada dengan mereka, kalau begitu… saat pulang nanti kita kan bersama.” Ia tersenyum hangat.
Claudia menatap kedua sahabatnya secara bergantian, ada rasa hangat yang perlahan mengusir beban di dadanya, lalu ia mengangguk.
“Ya, terima kasih.”
Bel pulang menggema di seluruh penjuru sekolah, para siswa mulai berhamburan keluar dari kelas memenuhi koridor dengan percakapan tentang rencana mereka sore itu. Claudia merapikan buku-bukunya ke dalam tas, di sampingnya Mira menutup loker kecil miliknya.
“Claudia, maafkan aku. Hari ini aku ada kegiatan di klub.”
Evan mengangguk kecil.
“Ya, aku juga. Latihan musik belum selesai.”
Mira memandang Claudia dengan sedikit khawatir.
“kamu baik-baik saja, kan? Atau kamu tunggu saja kami sampai selesai latihan, ini tidak akan lama.”
Claudia tersenyum tipis sambil menggeleng pelan.
“Aku baik-baik saja, kalian harus menyelesaikan latihan.”
Evan dan Mira saling berpandangan.
“Apa kamu yakin untuk pulang sendiri? Apartemenmu cukup jauh dari sini,” kata Evan, suaranya meneteskan kekhawatiran saat memikirkan Claudia pulang sendiri setelah kejadian tiga hari lalu.