Malam perlahan menyelimuti kota Veridia, awan tebal menutupi cahaya bulan dan bintang. Di sebuah trotoar yang membentang di sisi jalan raya Mira dan Evan berjalan berdampingan sambil membawa tas sekolah di punggung mereka.
Mira mengeluarkan ponselnya dari saku rok seragam, jemarinya membuka ruang percakapan Claudia.
“Hmm…” Gumamnya. “Kira-kira Claudia sudah sampai di apartemennya belum?
Tatapannya terpaku pada layar selama beberapa detik, tidak ada pesan baru. Biasanya Claudia akan mengirim satu kalimat singkat.
‘Aku sudah sampai’
Namun malam ini layar ponsel Mira tetap kosong, tidak ada notifikasi pesan masuk atau bahkan sebuah balasan.
Evan melirik layar ponsel yang masih berada di tangan Mira.
“Belum dibalas?”
Mira menggeleng pelan.
“Belum.” Nada suaranya mulai dipenuhi dengan kekhawatiran.
“Apa dia baik-baik saja?”
“Mungkin dia hanya ketiduran, kau tahu? Ujian akan segera tiba, wajar saja jika ia kelelahan karena belajar,” ucap Evan sambil berpikir positif.
Langkh Mira perlahan berhenti di tengah trotoar, ia kembali menatap layar ponsel berharap akan ada pesan baru yang masuk, tapi tetap tidak ada. Ia menoleh ke arah Evan.
“Evan, ayo kita ke apartemennya.”
Evan menatap wajah Mira untuk beberapa saat sebelum mengangguk.
“Baiklah, tapi kita hanya mengeceknya saja. Mommyku akan marah jika aku pulang terlambat.”
Mira mendecak pelan, ia memutar bola matanya seakan itu adalah alasan yang biasa baginya.
“Aku tahu, kita hanya memeriksanya saja.”
Tanpa membuang waktu lagi mereka berdua segera berjalan ke arah yang berlawanan menuju apartemen Claudia. Sepanjang perjalanan Mira dan Evan mencoba mengusir kecemasan dengan beberapa obrolan lelucon.
“Apa yang akan kita lakukan jika Claudia memang tertidur karena kelelahan belajar? Aku akan memintamu untuk traktir mie instan selama seminggu.”
Mira mendengus pelan.
“Bagaimana jika kamu salah? Aku akan memintaku untuk membayar bus selama sebulan.”
“Hei, itu tidak adil. Aku hanya memintamu untuk membayar mie, kenapa taruhanmu selalu begitu besar? Apa kamu mencoba merampok?” Evan menyilangkan kedua tangannya di dada.
Mira hanya tertawa kecil, langkah mereka semakin mendekati gang yang biasa dilewati Claudia. Gang itu tampak jauh lebih sunyi dibandingkan biasanya saat mereka masuk. Lampu jalan berkedip redup, sementara suasana angin malam membawa suasana yang menyesakkan.
“Kenapa Claudia memilih jalan ini untuk ke apartemennya? Emangnya tidak ada jalan pintas lain?” Evan melihat sekitar bangunan-bangunan yang telah kosong, bibirnya sedikit bergetar, bulu kuduknnya mulai berdiri.
Mira hanya menghela napas sambil terus berjalan, ia berada sedikit di depan Evan.
“Diamlah, hanya ini satu-satunya jalan untuk ke apartemen Claudia lebih cepat.” Suara Mira sedikit berbisik, ia sedikit menelan ludah dan terus berjalan sedikit lebih cepat.
Dalam hitungan detik, tiga motor melesat melewati mereka berdua dengan kecepatan tinggi membuat Mira dan Evan sedikit menepi ke tembok bangunan, suara ketiga motor itu meraung keras di atas aspal. Tubuh mereka ditutupi dengan jaket gelap, wajah mereka tertutup dengan helm.
Saat motor terakhir melintas, salah serorang pengendara sempat menoleh ke arah Mira dan Evan dengan tatapan dingin dan tidak memiliki rasa bersalah. Ketiga motor itu akhirnya menghilang di balik tikungan jalan hanya dalam beberapa detik.
Napas Mira tercekat.
“Evan, menurutmu… apa yang pemotor lakukan di gang seperti ini?” tanyanya dengan suara lirih.
Evan menggeleng pelan, tatapannya tertuju pada jalan yang dilewati pemotor sebelumnya.
“Aku juga tidak tahu, apa jangan-jangan…”
Kalimat Evan terputus, mereka berdua saling bertukar pandangan. Dengan jantung berdegup kencang mereka pun berlari untuk memasuki gang lebih dalam, langkah kaki Evan dan Mira menggema di antara dinding beton.
Mata mereka menyapu setiap sudut, hingga…
“Lihat!” Suara Evan terdengar pecah, jarinya menunjuk ke depan.
Mira langsung menoleh ke arah yang di tunjuk Evan.
“Claudia!”
Ia langsung berlari secepat mungkin, lututnya jatuh ke aspal di samping sahabatnya yang tidak sadarkan diri. Tangannya gemetar saat menggenggam bahu Claudia.
“Claudia…”
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.