Tubuh Venna mencondong ke depan, matanya tertutup bersiap untuk benturan. Namun sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Untuk sesaat waktu terasa berhenti,Venna mengangkat kepala, matanya perlahan terbuka kembali dan langsung bertatapan dengan mata abuabu yang dingin, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Zevion.
Tangan pria itu masih bertumpu pada pinggangnya, wajah datar yang menyebalkan itu masih terpasang.
“Kau-“
Kesadaran Venna kembali, ia langsung melepaskan dirinya dan mundur selangkah untuk jarak, ia berdehem pelan lalu merapikan gaunnya.
“Aku bisa berdiri sendiri.”
Zevion hanya menghela nafas, ia merapikan jas hitamnya dengan terlatih. Tatapannya turun ke arah penampilan Venna. “Tch, apa gadis sepertimu tidak memiliki pakaian lain?” Sudut mata Venna sedikit berkedut.
“Diamlah, jika ini bukan misi. Aku tidak akan melakukannya.”
Bahu Zevion sedikit terangkat, tatapannya beralih untuk menyapu sekitar para tamu. Kemudian ia berjalan pergi begitu saja tanpa menoleh ke arah Venna sedikitpun.
Di dalam earphone suara kael terdengar.
“Venna, apa kamu baik-baik saja? Itu pertunjukkan yang sangat hebat.” Venna menekan perangkat kecil tersebut.
“Apa itu penting sekarang?”
“Baiklah, tidak.”
“Apa selanjutnya?” tanya Venna.
“Kamu hanya perlu menaiki lift untuk mencapai lantai empat,” jawab kael
“Di mana Sera?”
“Oh, jangan khawatir. Dia baik-baik saja di ruang pelayanan, aku rasa begitu,” balas Kael.
“Kael,”
“Ya.”
“Apa aku boleh menggunakan tangan?”
“Uh… Mr. Romanov hanya mengatakan bertarung jika perlu.”
Venna berdecak pelan, ia menatap ke arah aula pesta, musik masih mengalun, bercampur obrolan para tamu dengan pelayan yang berlalu-lalang. Venna melangkah pergi ke arah lift, ia mencoba mengambil langkah hati-hati kali ini.
Di sisi lain gedung, Sera berdiri dekat meja minuman. Ia mengambil satu gelas minuman dengan cairan berwarna merah dengan wajah santai, ia sedikit memutar gelas di tangannya lalu meneguknya.
“Mmh… strawberry,” gumamnya pelan.
Tatapan Sera kini bergerak ke segala arah, ia mencoba mengamati dan mengingat. Lalu, tatapannya berhenti ketika melihat seorang pria yang memakai jas hitam di sudut aula jauh dari para tamu, tatapannya Sera bergeser lagi hingga menemukan tiga pria dengan pakaian yang sama. Ia bersiul pelan.
“Bingo,” gumamnya.
Ia menekan perangkat kecil di telinganya.
“Kael, apa kamu bisa membuka daftar tamu?” Suara ketika mulai terdengar dari ujung sana.
“Aku akan mencoba.”
Tidak butuh waktu lama daftar tamu terbentang panjang di layar laptop, nama demi nama bergulir saat ia menelusuri data yang berhasil di peroleh.
“Semua tamu dalam gedung tiga ratus dua puluh satu, itu termasuk pengusaha, pejabat, dan juga para investor.”
Kael terus menyisir daftar tersebut, memeriksa identitas, foto, dan catatan yang muncul di samping nama. Beberapa nama tamu ia tandai dengan khusus, namun tatapannya segera menyipit ketika sebuah nama muncul tanpa riwayat atau foto apapun.
Jarinya berhenti di atas touchpad.