RAVENNA

Sucy indah ramadhani
Chapter #14

Chapter 14. Permainan yang sebenarnya

Nox berjalan mendekati pintu, tangannya sudah bersiap untuk membuka “Kita habisi saja mereka semua, tanganku sudah gatal untuk meremuk wajah mereka semua.”

“Jangan,” perintah Zevion

Nox menoleh “Kenapa? Mereka menghalangi kita.”

Tatapan Zevion beralih ke arah bawah pintu, ia dapat melihat bayangan kaki yang berdiri di luar pintu, bayangan kaki itu banyak, tidak terlalu banyak dari yang ia duga.

“Mereka terlalu banyak untuk kita,” ucapnya dengan suara merendah.

Iris mengangkat satu alisnya

“Berapa banyak?”

Zevion mendengus pelan lalu mengalihkan pandangannya ke arah Iris.

“Dua puluh, mungkin lebih.”

Kael memeluk tabletnya dengan erat sambil menelan ludah.

“Dua puluh?! Kenapa setiap misi selalu berubah menjadi percobaan pembunuhan?”

“Tidak, sebagian besar,” jawab sera.

“Itu sama sekali tidak membantu!” bentak Kael, keringat dingin mulai mengelilingi dirinya.

Iris melihat ke arah kael sambil berdecak pelan, senyum miring tipis terukir di bibirnya.

“Lemah sekali,” bisiknya.

Tangan Venna masih terkepal di sisi tubuhnya, ia merasakan sesuatu yang janggal dari balik ini semua.

“Kenapa mereka tidak menyerang kita?”

Zevion mengernyit.

“Apa maksudmu?”

Venna menghela nafas kasar, ia menatap ke arah pintu logam yang masih tertutup.

“Jika mereka ingin menyingkirkan kita, mereka sudah melakukannya sebelum kita terkumpul di sini.”

Mereka semua saling bertukar pandangan, keheningan menyelimuti dalam ruangan penyimpanan.

“Maksudmu… mereka menjebak kita?” tanya sera, Ia menatap ke arah Venna.

Venna menoleh.

“Aku tidak yakin untuk menyimpulkannya, kita yang terjebak atau mungkin-“ Venna tidak menyelesaikan kalimatnya, matanya sedikit melebar seolah menemukan sesuatu.

Ia menatap ke arah Kael yang masih ketakutan.

“Kael, periksa seluruh gedung bangunan ini.”

“Hah? Kenapa?” tanya Kael,

“Periksa saja, cepat!” Suara Venna sedikit meninggi.

Kael mengangguk, ia segera mengambil laptop dalam tas yang sebelumnya. Jarinya bergerak di atas keybord dengan sedikit gemetar, wajahnya seketika memucat.

“Tidak… ini tidak mungkin,” bisiknya, Ia menggigit kuku jarinya menandakan kepanikan.

“Kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Iris.

Kael tidak segera menjawab, jarinya masih bergerak di atas keybord bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Di tengah ketikannya Nox mengambil laptop Kael dengan tiba-tiba. Mata Nox bergerak seolah menelusuri tampilan layar laptop.

Ia segera memutar laptop tersebut ke arah mereka, layar laptop itu menampilkan denah gedung dengan puluhan titik merah tersebar di berbagai sudut bangunan.

Nafas Iris tertahan saat melihat titik merah itu.

“Apa itu?”

Nox menoleh, tangannya masih memegang laptop sedangkan tangan lain menunjuk ke layar laptop.

“Mereka memasang bom di setiap sisi bangunan saat kita lengah.”

“Tapi… para tamu masih di lantai bawah untuk menikmati pesta, kenapa mereka melakukan ini?” tanya Sera.

“Bom tidak peduli apa yang kamu lakukan jika sudah terpasang, Sera. Satu-satunya cara adalah menghentikan bom ini dan menyelamatkan para tamu,” jawab Venna.

Di balik pintu logam, pria misterius itu tertawa kecil lalu menyeringai.

“Aku tidak menyangka didikan Veynor akan membuat kalian cepat menyadari hal itu, terutama kau Putri Alexanderia. Kau lebih cepat tanggap dari yang di bayangkan.”

Mata Venna mengeras.

“Apa kamu sengaja melakukan ini?”

“Tidak, aku hanya ingin bermain dengan kalian. Bermain… kejar-kejaran, mungkin.” Pria itu berhenti sejenak.

Lihat selengkapnya