Suara sirene meraung memecah malam, mobil pemadam kebakaran memasuki halaman gedung dengan kecepatan tinggi, di susul beberapa ambulans yang berhenti di depan keruntuhan. Kobaran api masih melahap sebagian bangunan sementara kepulan asap hitam membumbung tinggg ke langit malam. Petugas berteriak memberikan instruksi.
“Selang ke sisi timur!”
“Pastikan tidak ada korban yang masih terjebak!”
Semburan air bertekanan tinggi menghantam kobaran api, menciptakan uap putih yang memenuhi udara.
Di sisi lain Venna duduk di atas tandu ambulans bersama seorang tenaga medis membalut luka pada lengan kirinya. “Beruntung ini hanya luka luar, tidak ada yang patah.” Venna mengangguk singkat.
Di samping ambulans lain Zevion menolak saat petugas hendak memasang infus.
“Aku baik-baik saja, ini hanya luka ringan.” Ia menarik tangannya kembali.
“Tapi kamu mengalami luka bakar, setidaknya biarkan kami memeriksanya,” ucap tenaga medis itu dengan menyakinkan.
“Aku masih bisa berdiri, jangan memaksaku.” Zevion mengambil jasnya yang tergeletak di sampingnya lalu pergi.
Petugas itu hanya menghela napas pasrah, ia tidak memanggil Zevion dan memeriksa korban lain.
Langkah Zevion terhenti beberapa meter tempat Venna duduk di atas tandu salah satu ambulans, ia menatap tangan tenaga medis yang masih membalut tangan Venna sedikit lebih lama sebelum pergi.
“Tch.”
Kael duduk di trotoar memegangi kepalanya.
“Aku benar-benar berpikir akan mati jika kita tidak berhasil keluar.” Sera terkekeh pelan meski pinggir bibirnya sobek.
“Jika kamu mati, kami tidak memiliki waktu untuk mendengar keluhanmu di detik terakhir.”
Bibir Kael mengerucut ke depan, ia memalingkan wajahnya sambil menyilangkan tangannya. Kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat Kael dan Sera menoleh ke sumber suara hanya untuk melihat Iris dan Nox.
“Kalian tidak di periksa?” tanya Iris.
“Kami tidak terluka apapun, hanya Zevion dan Venna yang terluka. Sekarang mereka sedag di periksa,” jawab Sera.
Nox mengangguk pelan, ia menoleh ke arah Kael.
“Bagaimana denganmu? Oh, sepertinya aku salah bertanya. Kamu tidak terluka sama sekali karena orang pertama keluar dari gedung.
“Apa? Aku mungkin tidak terluka tapi kalian juga tidak akan keluar jika aku tidak di sana,” protes Kael.
Sera memutar bola matanya dan menggeleng pelan, Iris dan Nox terkekeh pelan seolah protes Kael hanya lelucon bagi mereka bertiga.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan lokasi seluruh anggota Veynor langsung berdiri tegak. Pintu mobil itu terbukaketika Veynor turun dengan langkah tenang. Tatapannya menyapu reruntuhan bangunan yang masih mengeluarkan asap, ia tidak mengatakan apapun selama beberapa saat.
“Lapor,” ucapnya singkat.
Zevion melangkah maju tanpa ragu.
“Maaf, Mr. Romanov kami gagal, mereka melarikan diri dengan flashdisknya.”
Veynor tidak langsung menjawab, ia hanya menghela nafas sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
“Mengecewakan.”
Semua anggota tertunduk menatap aspal tidak berani menjawab termasuk Zevion, tatapan Veynor beralih ke arah Venna yang masih dalam perawatan di tandu ambulans sebelum berbalik untuk masuk kembali ke dalam mobilnya. Mesin mobil itu menderu saat menjauh dari lokasi.
Keesokan paginya, markas Veynor kembali di penuhi dengan suasana latihan. Tapi kali ini berbeda,seluruh anggota berkumpul di aula utama dalam bentuk barisan. Di atas panggung Veynor berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung.
“Semalam, sebagian dari kalian hampir kehilangan nyawa. Tapi kalian membuktikan bahwa kalian mampu bertindak sebagai sebuah tim.” Tatapan Veynor tertuju pada Venna, Sera, dan Kael.
“Kemarilah kalian bertiga.”
Mereka saling bertukar pandang sebelum melangkah maju ke arah panggung, Veynor menjentikkan jarinya hingga membuat bunyi jentikan tersebut cukup bergema di aula. Tepat saat itu tiga pria memakai jas hitam memegang kotak kecil berwarna hitam, mereka berdiri tepat di belakang Sera, Venna dan juga Kael. “Mulai hari ini, kalian bertiga bukan lagi anggota pelatihan.” Ruangan mendadak menjadi sunyi.
“Kalian bertiga resmi menjadi anggota Veynor, kalian telah membuktikan selama misi dalam bentuk tim.” Mata Kael langsung terbelalak.
“Hah…? Maksud anda kami…”
Sera tersenyum tipis, sedangkan Venna menghela napas pelan. Tepuk tangan mulai memenuhi aula bahkan beberapa anggota senior ikut bertepuk tangan sambil memberi selamat.
Tiga pria sebelumnya kemudian melangkah untuk berdiri di depan Sera, Venna dan Kael. Mereka serempak membuka kotak kecil itu untuk memperlihatkan kartu ATM perak dengan lambang sabit disudut kiri atas.
“Mulai hari ini, semua biaya hidup, perlengkapan misi dan gaji kalian akan masuk ke dalam rekening itu. Dan sebagai anggota resmi kalian mendapatkannya.”
Kael mengangkat kartu itu tinggi-tinggi.
“Wah… akhirnya aku memiliki kartu yang memiliki isi.”
Sera hanya terkekeh, ia mengambil kartu itu juga. Sedangkan Venna hanya memperhatikan kartu tersebut di tangannya.
“Mr, Romanov berapa isi di dalamnya?” tanya Kael.
Salah satu pria itu menjawab dengan singkat.
“Kamu bisa cek sendiri setelah ini.”
Kael hampir melompat kegirangan, ia segera menyimpan kartu itu ke dalam saku celananya. Venna menoleh ke arah Zevion, Iris dan Nox yang masih dalam barisan. “Bagaiman dengan mereka?”
“Mereka tidak menggunakan kartu barum karena gaji mereka langsung terkirim ke rekening mereka masing-masing,” jawab Veynor dengan tenang.
Kael seketika mematung. “Tunggu, itu berarti kami…” Nox menyeringai lebar.
“Selamat datang di dunia yang menyebalkan.”
Iris menyilangkan tangannya dan tersenyum tipis.
“Jangan habiskan semua untuk makanan.”
Kael memegang dadanya.