RAVENNA

Sucy indah ramadhani
Chapter #16

Chapter 16. Topeng baru.

Sebuah van hitam berhenti di seberang jalan, mesin kendaraan dimatikan menyisakan keheningan di dalam kabin. Dari balik kaca berlapis film gelap tiga pasang mata mengamati gerbang sebuah sekolah menengah yang berdiri megah di hadapan mereka.

Bangunannya tampak nyaris sempurna, gedung-gedung bertingkat menjulang dengan dinding putih yang terawat. Hamparan taman dihiasi pepohonan rindang dan bunga-bunga yang tertata rapi. Di sisi kanan, lapangan basket dipenuhi suara pantulan bola dan tawa para siswa yang sedang bertanding.

Di jalur pejalan kaki, beberapa siswi berjalan bergerombol sambil berbicara dan sesekali tertawa. Di bawah rindangnya sebuah pohon besar beberapa murid duduk membaca buku. Suasanaya begitu normal dan damai, seolah tidak ada sesuatu pun yang salah.

Sera menyilangkan kedua tangannya sambil terus memperhatikan gerbang sekolah.

“Kalau bukan karena informasi dari Mr. Romanov,” Ia menggeleng pelan. “aku tidak akan percaya ada peredaran narkotika di tempat seperti ini.”

Kael yang duduk di kursi belakang ikut mengangguk.

“Semua terlihat baik-baik saja dari sini.”

Berbeda dengan mereka berdua, Venna tidak mengatakan apapun. Tatapannya terus bergerak mengamati setiap sudut sekolah. Jemari Kael menari di atas keyboard laptop yang berada di pangkuannya. Beberapa jendela data memenuhi layar, setelah beberapa detik ia mengangguk puas.

“Lencana penyadap sudah aktif.”

Ia mengambil sebuah perangkat komunikasi berukuran sangat kecil dari kotak di samping laptop, Kael menyerahkannya pada Venna. Venna menerima alat tersebut lalu memasangkannya di telinga dengan gerakan terlatih.

Kael memeriksa kembali koneksi melalui laptopnya.

“Suaranya sudah jelas,” Ia mengangkat pandangan ke arah Venna. “Kalau terjadi sesuatu kamu bisa lapor.”

Venna mengangguk singkat.

“Aku mulai.”

Ia membuka pintu Van, udara pagi langsung menyambut wajahnya. Venna melangkah turun, merapikan seragam sekolah yang ia kenakan lalu menyampirkan ransel di bahunya. Dari dalam van, Sera memeperhatikan punggung Venna yang semakin menjauh.

“Jaga diri dengan baik, murid baru.”

Bibir Venna terangkat menjadi senyuman tipis, ia menutup pintu mobil van kembali lalu berjalan pergi mendekati gerbang dengan satu tangan terangkat tanpa menoleh ke belakang. Sementara itu, di seberang jalan gerbang sekolah terbuka lebar menyambut para siswa yang berdatangan.

Beberapa menit kemudian, pintu kelas XII-A terbuka. Percakapan para siswa yang semula memenuhi ruangan perlahan memudar ketika wali kelas melangkah masuk sambil membawa map tipis di tangannya.

Beliau berdiri di depan meja guru lalu mengedarkan pandangan ke seluruh kelas

“Selamat pagi, semuanya.”

“Pagi, Bu.”

“Sebelum pelajaran dimulai, ada satu pengumuman.”

Guru itu tersenyum tipis.

“Hari ini kita kedatangan murid pindahan.”

Seketika perhatian seluruh kelas tertuju ke arah pintu, sesosok gadis melangkah masuk dengan tenang. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai rapi hingga melewati bahu, seragam sekolahnya di kenakan dengan sempurna, sementara ranselnya tergantung santai di salah satu bahu.

Venna melangkah hingga berdiri di samping guru, ia menatap seluruh kelas lalu membungkukkan tubuh sedikit.

“Halo…” Suaranya terdengar ringan.

“Aku Sheva Arlena.”

Ia kembali mengangkat kepalanya, senyum tipis menghiasi wajahnya.

“Tolong bantu aku beradaptasi, ya.”

Beberapa siswa langsung saling berbisik.

“Cantik…”

“Pindahan dari mana, ya?”

“Kayaknya belum pernah lihat.”

“Semoga nanti duduk di dekat sini.”

Guru menepuk tangan pelan agar kelas kembali tenang.

“Baik, Sheva akan belajar bersama kalian mulai hari ini. silakan duduk di kursi kosong itu.” Guru menunjuk ke kursi yang dekat dengan jendela.

Venna mengangguk sopan, senyumnya tidak pernah lepas. Saat melangkah melewati deretan meja tatapannya kembali menyapu seluruh isi kelas. Terdengar suara lirih melalui alat komunikasi yang masih tersembunyi di telinganya.

Lihat selengkapnya