RAVENNA

Sucy indah ramadhani
Chapter #17

Chapter 17. Pertemuan yang tidak sengaja

Udara terasa hangat, klakson sesekali terdengar bersahutan dengan para siswa yang keluar dari gerbang sekolah. Tidak jauh dari sana sebuah van hitam terparkir rapi di bawah rindangnya perpohonan, di dalam Kael duduk di kursi depan dengan sebuah laptop di pangkuanya. Jemarinya menari cepat di atas keyboard, layar laptop dipenuhi berbagai jendela informasi beserta data siswa.

Sesekali ia mendorong bingkai kacamatanya ke atas pangkal hidung sebelum kembali mengetik tanpa henti, ia sedikit menggigit bibir bawahnya.

“Sulit sekali, tidak ada jejak kriminal di antara semua data siswi di sini,” gumamnya pelan.

Di sisi lain, sebuah minimarket kecil tampak cukup ramai oleh beberapa pelanggan, di area makan yang berada tepat di depan dinding kaca Sera duduk santai dengan semangkuk ramyeon yang baru saja disajikan, uap panas mengepul dari kuah merah cukup pekat dengn irisan cabai, Sera menghirup pelan permukaan kuahnya.

“Hah… ini baru namanya hidup.”

Sumpit kayu terangkat, mie panjang masuk ke dalam mulutnya. Baru satu suapan mata Sera langsung membulat lebar.

“Pedas!”

Wajahnya memerah seketika, ia buru-buru meraih segelas air di samping mangkuk. Setelah itu Sera terkekeh sendiri.

“Enak sekali, pedas begini baru terasa.”

Ia kembali mengambil sumpitnya dengan semangat untuk menerima suapan berikutnya. Ia bahkan menggumamkan kata-kata sambil menikmati ramyeon pedas itu.

“Mmh… enak banget! Sayang sekali Venna harus melewati ini,” gumamnya, mulutnya masih mengunyah mi.

Tepat saat itu, tatapan Sera menangkap sesuatu di balik kaca minimarket, seorang siswi memakai seragam sekolah berlari kencang di sepanjang trotoar. Rambutnya cukup berantakan, keringat membasahi pelipisnya, napasnya memburu.

Beberapa meter jauhnya, tiga remaja laki-laki mengejar dengan seringai di bibir mereka.

“Hei, berhenti!”

“Jangan lari!”

“Kembali ke sini!”

Tanpa memperlambat langkah, mereka belok memasuki gang sempit. Gang yang sama tempat siswi itu lari sebelumnya. Senyum di wajah Sera seketika menghilang, tatapannya berubah menjadi tajam, sumpit di tangannya terjatuh ke dalam mangkok.

Tanpa pikir panjang ia langsung bangkit dari kursinya, bel pintu berbunyi ketika Sera menerobos keluar. Pada saat bersamaan Kael keluar dari dalam van sambil memegang laptop di tangannya, ia sempat mengernyit ketika melihat Sera berlari melewatinya dengan tergesa-gesa.

“Sera! kamu mau ke mana?”

Tidak ada jawaban, Sera bahkan tidak menoleh sedikitpun hingga membuat Kael meninggikan suaranya saat memanggil sekali lagi.

“Sera! Woi!”

Namun Sera tetap berlari menuju gang sempit itu tanpa mengurangi kecepatannya, Kael menggeleng pelan sambil memenjamkan matanya sesaat lalu menghembuskan napas panjang.

Sementara itu jam istirahat masih berlanjut, Agnar masih memegang bola basket di tangannya ia melihat rekan timnya yang masih di lapangan sebelum kembali menatap Sheva (Venna).

“Kalau begitu aku harus kembali ke lapangan untuk kembali bermain.”

Venna hanya hanya tersenyum sambil mengangguk.

“Ya, sampai jumpa untuk makan siang besok.”

Lihat selengkapnya