Mentari mulai tenggelam di balik deretan gedung tinggi perlahan digantikan oleh bayangan malam yang mulai merambat. Di sebuah gang sempit yang jauh dari keramaian terdengar suara napas yang memburu.
“Haah… haah…”
Seorang siswi berseragam sekolah berlari sekuat tenaga, rambutnya berantakan, air mata terus mengalir hingga mengaburkan pandangannya. Tas sekolah di punggungnya menghantam pinggang setiap kali ia melangkah, di belakangnya tiga remaja laki-laki masih terus mengejar sambil tertawa.
“Hei! Berhenti!”
“Jangan biarkan dia lolos!”
Gadis itu menggigit bibirnya, tubuhnya gemetar, napasnya semakin tidak beraturan saat ia berbelok di ujung gang, tubuhnya menabrak seseorang.
“Awhh…”
Ia kehilangan keseimbangan dan hampir membenturkan kepalanya ke aspal, namun saat itu juga sebuah tangan sigap menahan bahunya.
“Hei, tenanglah.”
Sera sedikit menundukkan tubuhnya agar siswi itu tidak terjatuh lebih keras, setelah memastikan gadis itu baik-baik saja. Ia perlahan mengangkat kepalanya, tatapannya langsung bertemu dengan tiga remaja yang kini berhenti beberapa meter di depan mereka.
Salah seorang melangkah maju.
“Serahkan gadis itu pada kami.” Jemarinya menunjuk ke arah siswi yang berdiri di belakang Sera.
Sera hanya menghembuskan napas pelan, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku sweater miliknya.
“Serahkan dia? Bagaimana jika aku menolak?” Tatapannya bergantian menilai wajah ketiga remaja itu.
Ketiganya saling berpandangan sebelum salah seorang menyeringai.
“Hei, kami tidak ingin memukul seorang gadis. Serahkan saja dia maka kami akan membiarkanmu.”
Perlahan sudut bibir Sera terangkat membentuk senyum tipis, ia melirik ke belakang melihat siswi yang gemetar di punggungnya sebelum mengalihkan pandangannya ke arah tiga remaja tersebut.
“Hm… itu terlalu mudah, bagaimana jika kita membuat kesepakatan? Jika kalian menang gadis ini milikku tapi jika aku menang gadis ini milikku.” Ia berbicara cukup cepat hingga tidak ada waktu untuk mereka cerna dengan baik.
Keheningan menyelimuti gang, ketiga remaja itu saling melirik lalu salah seorang terkekeh pelan.
“Haha! Boleh juga!”
“Jangan berikan dia kesempatan!”
Di belakang Sera, siswi itu berkedip bingung. Setelah beberapa saat ia menyadari apa yang baru saja diucapakan oleh wanita di depannya.
Sera hanya menahan senyum kecil, ia melangkah maju tanpa ragu untuk mendekati ketiga remaja tersebut. Ketiga remaja itu mengambil posisi mereka, mengepalkan tangan dengan senyum percaya diri.
Beberapa menit kemudian, gang sempit itu kembali sunyi hanya terdengar embusan angin sore yang melewati lorong sempit tersebut. Tiga remaja tadi berlari tunggang-langgang, wajah mereka dipenuhi memar, salah seorang memegangi rahangnya dan yang lain berjalan terpincang-pincang sambil terus menoleh ke belakang seolah takut wanita itu mengejar mereka lagi.
Sera menepuk-nepuk sweaternya mengibaskan debu yang menempel di lengan.
“Sialan, aku baru saja mencuci ini semalam,” gumamnya pelan.
Ia kemudian menoleh ke belakang, siswi yang tadi masih berdiri dengan mulut sedikit terbuka dan melihat Sera tanpa berkedip. Tangisnya mulai mereda, Sera berjalan mendekatinya.
“Jangan khawatir, kamu aman sekarang.” Suaranya lebih lembut dibanding beberapa menit sebelumnya.
Tangannya terulur untuk menyentuh bahu siswi itu, namun gadis itu sedikit mundur hingga membuat Sera menarik tangannya kembali.
“Terima… kasih karena menolongku,” ucap siswi itu nyaris tak terdengar.
Sera hanya mengamati wajah gadis itu sejenak yang masih ketakutan dengan jelas di matanya.
“Kenapa mereka mengejarmu? Apa kamu bolos sekolah?”
Pertanyaan itu membuat siswi tersebut langsung menundukkan kepalanya, jemarinya mencengkeram erat tali tas sekolah dengan bibir bergetar pelan.
“Aku…”
Kata-katanya berhenti, beberapa detik kemudian ia justru membungkukkan badan dalam-dalam air matanya kembali jatuh.
“Maafkan aku… terima kasih sekali lagi.”
Tanpa menunggu jawaban, gadis itu berbalik dan berlari keluar dari gang.
“Hei!”
Sera refleks mengejarnya beberapa langkah, namun ketika ia tiba di mulut gang siswi itu telah menghilang, larut di antara keramaian pejalan kaki. Sera menyapu pandangannya ke segala arah ia menggaruk pelipisnya sambil menghembuskan napas pelan.
“Aneh sekali, seharusnya aku memintanya untuk traktir makan malam,” gumamnya.
Di dalam van, cahaya layar laptop menjadi satu-satunya penerangan yang cukup tenang, Kael duduk di kursi depan, jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, sesekali ia akan memperbaiki posisi kacamatanya tanpa menghentikan pekerjaannya.
Di sampingnya Venna duduk sambil bersandar dengan memejamkan matanya, kedua tangannya terlipat di depan dada. Pintu van terbuka Sera masuk sambil membawa satu kaleng minuman dingin, saat ia membukanya kaleng itu mengeluarkan suara yang memecahkan keheningan. Venna perlahan membuka matanya perlahan, tatapannya beralih pada Sera.
“Apa kamu hanya membeli satu? Temanmu ada dua.”
Sera mengangkat bahunya sambil meneguk minumannya sendiri sebelum ia bisa menjawab, Venna sudah berbicara lagi.
“Bagaimana hari ini, Kael?”
Kael menghela napas, ia menoleh ke arah Venna dengan sekilas sebelum kembali menatap layar laptopnya.
“Tidak ada yang mencurigakan, identitas siswa atau siswi di sini sangatlah rapi dan berprestasi.”