“Aku akan mengambil bagianku,” gumamnya pelan.
Setelah itu tanpa benar-benar berniat melihat isi dompet lebih jauh, ia hendak menutupnya kembali. Namun, sesuatu menarik perhatiannya di balik kantong kecil yang sedikit terbuka terselip sebuah foto, jari Venna perlahan menarik foto itu keluar, dalam sekejap, napasnya tertahan.
“Claudia…”
Bel pulang berbunyi nyaring menandai berakhirnya kegiatan belajar hari itu, ratusan siswa memenuhi lorong sambil bercakap-cakap, tertawa atau mengeluhkan tugas yang di berikan guru. Di tengah keramaian itu, Venna melangkah keluar dari ruang kelas tas sekolah tergantung santai di bahu kirinya beberapa siswa yang lewat menyapanya.
“Dadah, Sheva!”
“Sampai jumpa besok!”
Semua sapaan itu Venna balas dengan senyum kecil dan lambaian kecil sebelum melanjutkan langkahnya, wajahnya tetap tenang tanpa menunjukkan emosi berlebihan.
Begitu melewati gerbang sekolah, matahari mulai turun perlahan di balik deretan gedung tinggi, Venna berjalan sendirian. Namun, matanya tidak pernah benar-benar istirahat. Setiap bangunan dan gang sempit yang ia lewati masuk ke dalam pengamatannya.
Beberapa menit kemudian, ia berbelok memasuki sebuah gang yang menjadi jalan pintas menuju apartemen. Gang itu cukup sempit karena di kanan dan kirinya berdiri tembok beton yang mulai dipenuhi dengan lumut. Baru beberapa langkah ia memasuki gang itu suasananya jauh lebih sepi dibanding jalan utama.
Venna menghentikan langkahnya saat melihat beberapa motor yang terparkir sembarangan di depannya. Tujuh remaja laki-laki tampak bersandar santai di motor mereka, sebagian mengisap rokok dengan asap putih yang mengepul ke udara. Posisi mereka sengaja menyebar hingga menutupi jalan keluar.
Venna menatap mereka selama beberapa detik dengan datar, setelah itu ia melanjutkan langkahnya seolah mereka hanya orang-orang yang kebetulan berkumpul.
“Hei.”
Suara berat itu menghentikan langkahnya.
Venna berhenti, perlahan ia menoleh ke sumber suara. Tujuh remaja itu mulai bergerak hingga membentu lingkaran, pelan dan teratur. Kini seluruh jalan keluar benar-benar tertutup membuat Venna berdiri di tengah kepungan mereka.
Seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut cepak melangkah maju, senyum miring menghiasi wajahnya.
“Aku tidak pernah melihatmu di sini, apa kamu murid baru di sekolah itu?”
Venna mengangguk kecil.
“Iya.”
Pria itu memasukkan kedua tangan ke saku celananya.
“Apa kamu tahu apa yang terjadi ketika seorang siswi lewat sini?”
Venna menggeleng pelan.
“Tidak, aku tidak tahu.”
Pria itu mendecak pelan, ia melirik ke teman-temannya sebelum kembali menatap siswi di depannya.
“Berapa uang yang kamu bawa?”
Venna menghela napas sebelum menjawab tanpa ragu.
“Tiga puluh dolar.”
Jawaban itu langsung memancing tawa pria tersebut dengan teman-temannya, jari telunjuknya menoyol kepala Venna berkali-kali.
“Hei, Cuma itu saja? Dasar siswi miskin, kenapa kamu masuk ke sekolah elite jika miskin, hah?”
Venna tidak menjawab, kepalanya tetap diam ketika jari pria itu terus menoyolnya sampai itu membuatnya mundur sedikit ketika pria itu berhenti.
Tangan pria itu terulur ke depan.
“Serahkan itu.”
Venna menatap tangan pria itu sebelum mengangkat wajahnya hingga tatapan mereka bertemu.
“Tidak, uang ini untuk makan malamku.”
Pria itu menarik tangannya kembali lalu dimasukkan ke dalam saku dengan seringai mengejek terukir di bibirnya.
“Tch, siswi keras kepala. Kamu tahu semua yang lewat di gang ini harus bayar padaku. Apa kamu mengerti?”
Venna mengangkat bahu dengan gerakan kecil, sorot matanya tetap tenang.