Beberapa tahun lalu…
Hujan turun perlahan di luar apartemen kecil mereka, rintik-rintiknya mengetuk kaca jendela tanpa henti, di dapur sempit air dalam panci kecil mendidih pelan, uap hangat mengepul memenuhi ruangan, membawa aroma kaldu ramyeon yang sederhana.
Claudia mematikan kompor. Dengan gerakan hati-hati ia membagi ramyeon itu ke dalam dua mangkok, ia juga menambahkan sebutir telur pada mangkok milik kakaknya. Ia memandang kedua mangkok itu beberapa saat, lalu tersenyum.
“Akhirnya siap,” gumamnya pelan.
“Kak Venna, ayo makan.” Panggilnya.
Venna yang duduk di sofa hanya mengangguk pelan lalu berjalan ke meja makan, ia menarik kursi untuk duduk. Matanya tidak pernah benar-benar meninggalkan layar ponsel, jarinya terus menggulir berita lama, foto garis polisi, mobil ambulans.
Claudia membawa kedua mangkuk itu ke meja makan kayu di dekat dapur, ia meletakkan mangkuk Venna terlebih dahulu.
“Ini untuk Kak Venna, hati-hati masih panas.”
“Iya, terima kasih,” jawab Venna terdengar pelan, ia mengambil sumpit dengan tangan kirinya, sementara tangan kananya masih menggenggam ponsel.
Claudia duduk di seberangnya, ia beberapa kali mencuri pandang ke arah Venna, matanya melihat lingkar hitam yang mulai muncul di wajahnya.
“Kak Venna.”
“Hm?”
“Apa aku boleh cerita sesuatu?”
“Tentu, apa itu?”
Claudia menggenggam sumpitnya lebih erat.
“Belakangan ini… teman-teman di sekolah...”
Kalimat itu menggantung saat ponsel Venna menyala, seseorang mungkin telah mengiriminya pesan. Mata Venna langsung membesar.
“Apa tadi?” tanyanya refleks
Pertanyaan itu bukan karena mendengarkan Claudia melainkan karena pikirannya masih tertinggal pada pesan di layar ponselnya, Claudia mengangkat wajah hingga tatapan mereka bertemu sesaat, tapi Venna kembali menatap ponselnya, Claudia tersenyum tipis menyembunyikan rasa kecewa
“Tidak, aku hanya mengatakan bahwa nilai ujianku akan keluar sebentar lagi.”
Venna mengangguk.
“Oke.’
Claudia menatap ramyeonnya yang perlahan mulai mengembang, ia mengangkat lengan bajunya sedikit menunjukkan memar kebiruan di dekat siku. Beberapa menit kemudian, Venna berdiri dari kursinya, Claudia pun ikut berdiri.
“Kak?”
“Aku harus kembali bekerja, ada pesanan yang harus diantar.”
“Sekarang? Tapi… hujan belum reda.”
Venna meraih jaket tipisnya yang tergantung di dekat pintu, tangannya bergerak cepat mengenakannya. Sebelum membuka pintu, suara Claudia menghentikannya.
“Kak Venna.”
Venna menoleh.
“Apa?”
Claudia menggenggam ujung bajunya sendiri dengan sedikit gemetar.
“Jika suatu hari nanti… terjadi sesuatu padaku, apa Kak Venna akan datang?”
Pertanyaan itu membuat Venna tersenyum, ia melangkah mendekat untuk mengusap kepala adiknya.
“Tentu saja, aku akan datang padamu. Hubungi saja aku, bahkan jika jarak memisahkan kita itu bukan masalah bagiku.”
Claudia menatapnya dan tersenyum tipis.
“Kau berjanji?”
Venna mengangguk dengan keyakinan.