Sepatu bot penjaga bergema berat di atas lantai beton yang lembap, tubuh Sera diseret menyusuri lorong gedung yang gelap. Kedua tangannya terikat kuat di belakang punggung menggunakan kabel plastik. Pergelangan tangannya mulai memerah hingga berdarah akibat ikatan terlalu erat.
Darah mengalir dari pelipisnya, sudut bibirnya robek, mata kirinya mulai membengkak karena menerima pukulan bertubi-tubi. Setiap tarikan napas membuat dadanya terasa nyeri, namun kesadarannya belum sepenuhnya hilang, Sera masih memaksa matanya tetap terbuka. Meski pandangannya mulai kabur naluri yang di tempa Veynor selama bertahun-tahun masih bekerja.
“Cepat jalan!” bentak salah seorang penjaga sambil mendorong punggungnya dengan kasar.
Sera kehilangan keseimbangan, lututnya membentur lantai, rasa nyeri menjalar hingga ke tulang.
“Agh…” Ia menggertakkan giginya.
“Dasar menyusahkan,” ejek salah satu pria.
Mereka kembali menarik tubuhnya, berhenti di depan sebuah pintu besi besar. Salah seorang penjaga memasukkan kunci, pintu perlahan terbuka tanpa basa-basi Sera didorong masuk. Tubuhnya jatuh berguling di atas lantai dingin.
Belum sempat ia bangkit pintu besi di belakangnya telah ditutup kembali, suara benturannya memenuhi seluruh ruangan disusul bunyi kunci diputar dari luar.
Sera mengerang pelan, ia memiringkan tubuh memaksa dirinya duduk, napasnya masih memburu. Beberapa helai rambut yang lepas menutupi wajahnya. Perlahan ia mengangkat kepala, tatapannya menyapu seluruh ruangan.
Ruangan itu cukup luas, dindingnya dari beton tanpa jendela hanya ada satu lampu redup di atas langit-langit, udara terasa pengap bercampur bau lembap dan aroma karat yang memenuhi ruangan. Napas Sera tercekat ketika melihat belasan siswi SMA yang duduk berhimpitan di sudut ruangan, sekitar lima belas orang.
Wajah-wajah muda yang seharusnya dipenuhi tawa kini hanya menyisakan ketakutan, mata mereka sembab, pipi mereka dipenuhi bekas air mata. Ruangan itu begitu sunyi hingga suara isak tangis pelan terdengar sangat jelas, begitu melihat Sera beberapa siswi langsung menundukkan kepala.
Sera memandangi mereka satu per satu, dadanya terasa sesak. Mereka masih anak-anak, seharusnya memikirkan ujian sekolah bukan duduk terikat di tempat seperti ini. perlahan sudut bibir Sera terangkat meski terasa perih karena luka.
“Hei… Jangan takut.” Suaranya lirih.
Tidak ada jawaban hanya keheningan. Seorang siswi yang duduk paling dekat perlahan mengangkat wajah, usianya mungkin baru enam belas atau tujuh belas tahun.
“Mereka… mereka akan menjual kami.” Suara gadis itu bergetar, kalimat itu keluar hampir seperti bisikan.
Sera memejamkan matanya sesaat lalu menggeleng pelan.
“Tidak.”
Gadis itu menatapnya dengan mata merah.
“Mereka bilang… kami sudah tidak bisa pulang.”
Sera menghela napas, kemudian berkata setenang mungkin.
“Hei, itu tidak akan terjadi. Percayalah padaku… aku memiliki seorang teman di luar sana, dia pasti akan datang.”
Seorang siswi lain langsung menggeleng kuat-kuat.
“Tapi… kakak juga ditangkap, kalau kakak saja kalah. Bagaimana dengan teman kakak di sana?”
Sera terdiam sesaat, lalu ia tersenyum lagi.
“Kalian tahu… aku memiliki teman yang menyebalkan. Satunya sangat dingin, satunya lagi sangat cerewet.”
Beberapa siswi berkedip bingung, Sera tertawa pelan meski wajahnya meringis karena rasa sakit.
“Temanku yang cerewet, ia akan mengomel jika aku telat lima menit saja. Mungkin sekarang ia juga sedang mengomel sendiri karena aku terlambat setengah jam. Bukankah itu menyebalkan?”
Beberapa siswi saling berpandangan.
“Temanku yang satu lagi, dia sangat dingin tapi sebenarnya ia juga sangat keras kepala. Ia jarang berbicara dan jarang menunjukkan emosinya.”
Sera menatap mereka satu per satu.
“Kalau mereka tahu aku di sini, percayalah… mereka akan datang. Entah datang dengan mobil atau menghancurkan tembok jika perlu.”
Ucapan itu membuat salah seorang siswi tanpa sadar terkekeh kecil di sela tangisnya, Sera ikut tersenyum. Kemudian, siswi yang tadi berbicara kembali menunduk.
“Tapi… bagaimana jika mereka tidak datang dan menemukan kita?”
Sera memandang pintu besi di depan, tatapannya perlahan berubah meski tubuhnya dipenuhi luka, sorot matanya tetap menyala.
“Kalau begitu… aku tidak akan membiarkan mereka membawa kalian sampai napas terakhir.” Ucapan itu terdengar pelan, setiap katanya dipenuhi keyakinan.
Sera kemudian menggeser tubuhnya mendekati mereka, ia duduk bersandar di dinding.
“Siapa nama kalian?”
Beberapa detik tidak ada jawaban, lalu gadis pertama menjawab lirih.
“Hana…”
Siswi lain ikut bersuara.
“Aku… Yuna.”
“Viena...”
“Eunseo…”
Sera mengangguk sambil mengingat semuanya ketika satu per satu dari mereka mulai menyebutkan nama.
“Bagus, kalau begitu… kalian juga harus ingat namaku.”
Beberapa gadis memandangnya.
“Aku Sera, dan aku berjanji akan membawa kalian keluar dari sini.”
Beberapa siswi tersenyum seolah harapan mereka telah tiba untuk keluar dari ruangan itu selama berhari-hari. Salah seorang siswi menyeret tubuhnya lebih dekat dengan Sera.
“Kak, bisakah kamu memberitahu kami tentang temanmu yang dingin itu?”
Sera memandangnya, namun sebelum ia dapat menjawab siswi lain juga bersuara.
“Apa dia juga kuat dan pandai berkelahi? Apa dia tampan?”
Sera menghela napas lalu senyum kecil terbentuk di bibirnya.
“Haah… aku sangat iri karena kalian bertanya tentangnya bukan tentangku. Tapi baiklah aku akan memberitahu kalian.”
Di sisi lain kota, malam telah turun sepenuhnya. Cahaya lampu apartemen bertingkat menyala satu per satu. Di lantai tujuh sebuah apartemen Claire berbaring santai di atas tempat tidurnya memakai kaos longgar putih dan celana pendek hitam.
Sebungkus keripik kentang terbuka di atas pangkuannya, sesekali ia mengambil satu keping memasukkannya ke mulut sambil terus menggulir layar ponselnya. Video demi video pendek berganti. Ketukan pelan terdengar dari balik pintu apartemen, Claire bahkan tidak mengangkat kepala, pasti kurir atau tetangga. Ia memilih untuk mengabaikannya.
Ketukan kedua terdengar lebih keras, Claire mendecakkan lidah.
“Tch, siapa sih malam-malam begini…”
Ia meletakkan ponselnya di atas kasur, berjalan malas menuju pintu. tanpa membuka ia bersandar pada kusen.
“Siapa di luar?”
Suara perempuan terdengar dari luar
“Aku Sheva.”
Claire mengernyit.
“Sheva, ada apa?”