Pintu besi ganda rumah sakit itu terhempas terbuka dengan keras, membelah keheningan koridor steril yang mendadak terasa mencekam. Suara engsel yang berderit keras berpadu dengan derap langkah kaki Venna dan Kael yang berpacu liar. Udara dingin bercampur aroma menyengat antiseptik dan obat-obatan langsung menyergap penciuman mereka.
Setiap hentakan sepatu mereka di atas lantai keramik putih bergema, menciptakan ritme panik yang tak beraturan.
"Ruang rawat nomor berapa?" tanya Venna tanpa menghentikan langkahnya sedikit pun, matanya menyapu deretan pintu kayu bernomor di sisi kiri dan kanan.
"Di ujung lorong!" sahut Kael cepat, tangannya terangkat menunjuk lurus ke depan.
Venna makin mempercepat langkahnya, mengabaikan tatapan heran beberapa perawat yang lalu lalang. Hanya dalam hitungan detik, mereka berdua telah sampai dan berhenti tepat di depan sebuah pintu dengan kenop perak.
Kael tidak membuang waktu untuk mengetuk. Ia langsung mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.
Di atas ranjang bernoda putih bersih, seorang siswi duduk menyendiri. Tubuhnya yang kurus tampak condong menghadap jendela kaca besar. Wajahnya masih sangat pucat,. Beberapa goresan luka kecil yang mengering menghiasi jemari tangan dan betisnya.
Venna menghela napas pelan sebelum melangkah masuk, Kael mengekor dari belakang. Mereka berhenti tepat beberapa langkah di samping ranjang, menjaga jarak agar tidak mengejutkan gadis itu.
Kehadiran dua bayangan itu akhirnya menyadarkan sang siswi. Perlahan, kepalanya berputar. Tatapan matanya yang redup kini tertuju tepat pada Venna dan Kael.
"Siapa... kalian?" bisiknya halus, hampir tenggelam dalam kesunyian.
Venna menarik napas panjang, memasang ekspresi selembut mungkin agar tidak menakutinya. "Aku Sheva," jawabnya tenang, lalu menunjuk singkat ke arah pemuda di sampingnya. "Dan dia Kael. Temanku."
Siswi itu mengalihkan pandangannya, menatap Kael selama beberapa detik. Setelah merasa tak ada ancaman, matanya kembali bergulir menatap Venna.
"Kaulah yang membawaku ke sini?" tanya siswi itu lagi, suaranya terdengar serak.
Venna mengangguk pelan. "Ya. Kau pingsan saat jam istirahat di kantin sekolah."
Mendengar hal itu, siswi tersebut perlahan menundukkan kepala. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya yang membiru. Keheningan kembali merayap di antara mereka.
Pintu kembali terbuka, seorang pria berjas putih dengan stetoskop menggantung di lehernya masuk sambil memegang map berkas warna putih.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Venna spontan, melangkah mendekat.
Dokter itu membuka map, menatap sekilas catatan medis di tangannya sebelum beralih menatap mereka bertiga. "Untuk sekarang kondisinya cukup stabil. Dehidrasi dan penurunan tekanan darah secara mendadak. Tapi dia masih membutuhkan banyak istirahat dan evaluasi lebih lanjut."
Dokter itu menghentikan kalimatnya, lalu memalingkan pandangan tepat ke arah Kael. "Aku perlu berbicara dengan salah satu dari kalian secara pribadi. Ada beberapa hal terkait catatan medisnya yang harus didiskusikan."
Venna dan Kael saling memandang sejenak, bertukar isyarat lewat tatapan mata. Kael akhirnya menganggukkan kepala mantap. "Biar aku saja, Dok."
Dokter mengangguk setuju dan memberi isyarat agar Kael mengikutinya. Mereka berdua melangkah keluar, dan pintu kayu tebal itu kembali tertutup rapat, menyisakan Venna dan siswi itu dalam ruang yang hening.
Venna menarik kursi besi di dekat meja, lalu duduk tepat di samping ranjang. Selama beberapa detik, Venna hanya diam. Ia menatap siswi di depannya yang masih memandangi selimut rumah sakit.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Venna pelan, menembus kesunyian tanpa kesan menuntut.
Siswi itu gemetar tipis. Bibirnya terkunci rapat, tak ada sepatah kata pun yang keluar.
Melihat reaksi itu, Venna mengulas senyum tipis. "Kalau kau belum siap untuk cerita, tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa."
Venna mengalihkan pandangannya, menatap jauh ke luar jendela.
"Tapi..." lanjut Venna, "aku tidak bisa membantumu kalau aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi padamu."
Siswi itu perlahan mendongak. Ia memperhatikan profil wajah Venna.
Venna masih menatap keluar jendela, larut dalam ingatan masa lalunya sendiri. "Aku juga punya seorang teman," tuturnya perlahan. "Dia... cukup menyebalkan. Suka berbuat nekat dan keras kepala."
Siswi itu terus memperhatikan Venna tanpa menyela, mendengarkan tiap petikan kalimat yang terdengar.
"Sekarang..." Venna mengepalkan jemarinya perlahan, "aku bahkan tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak."
Senyum tipis yang getir terukir di bibir Venna. "Kalau aku bisa mengulang waktu..." Ia berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. "Aku ingin berada di sana. Berdiri tepat di sisinya ketika dia membutuhkan bantuanku."
Gadis di atas ranjang itu menatap Venna dengan mata berbinar redup.
“Apa yang terjadi pada temanmu? Apa dia ditangkap seseorang?"
Pertanyaan sederhana itu seketika memukul dada Venna. Ia terdiam cukup lama.
“Ya, aku meninggalkannya karena memilih untuk menyelesaikan urusanku sendirian tanpa menyadari bahwa ia memerlukan bantuanku.”
Siswi itu tertunduk lagi, dengan nada goyah, ia bertanya lagi, "Apa… kau akan menyelamatkannya?"
Venna menoleh, dengan dorongan tekad yang tak tergoyahkan.
"Aku akan menukarkan nyawaku jika itu diperlukan."
Kata-kata itu terpatri kuat di udara. Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Siswi itu menarik napas panjang dan perlahan…