RAVENNA

Sucy indah ramadhani
Chapter #23

Chapter 23. Penyelamatan.

Malam telah larut membungkus kota Veridia dalam kegelapan dingin. Namun, di dalam markas latihan Veynor—sebuah bangunan bawah tanah bertembok beton—keheningan sama sekali tidak mendapatkan tempat.

Suara benturan keras bergemuruh, membelah udara yang sarat akan bau keringat, besi tua, dan gesekan kulit sintetis. Beberapa meter dari sana, dua anggota Veynor bertubuh kekar tengah sibuk bertukar serangan di atas ring ringkas, suara engsel ring dan ringkikan napas mereka berpadu riuh. Namun di tengah ruangan, seorang pria yang terus menghantam heavy bag tanpa henti.

Keringat mengucur deras dari dahi, membasahi kaos hitam tanpa lengan yang melekat kencang di tubuh kekar berototnya. Napasnya terdengar berat dan memburu.

Satu pukulan pamungkas dengan putaran pinggul sempurna menghantam bagian tengah heavy bag, Pria itu perlahan menurunkan kedua tangannya yang dibalut handwrap hitam.

"Berlatih larut malam lagi?" Suara seorang perempuan yang familiar berhembus dingin dari arah belakangnya.

Zevion menghentikan gerakan menyapu pelipisnya. Ia mengenali nada datar namun tegas itu tanpa perlu berbalik. Perlahan, pria itu menoleh.

Venna berdiri di sana, beberapa meter dari batas matras. Zevion menghela napas panjang, membiarkan dadanya yang kencang berangsur naik turun dengan teratur. Ia berjalan santai menepi, mengambil handuk putih yang tergantung di sandaran kursi kayu, lalu meraih botol air mineralnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Zevion dingin seraya memutar tutup botolnya. Ia melemparkan tatapan selintas. "Bukankah kau sedang menjalankan misi terpisah?"

Zevion meneguk air itu cukup banyak, membiarkan cairan dingin membasahi tenggorokannya yang kering.

"Mr. Romanov akan sangat marah kalau mengetahui kau menunda misi demi datang ke tempat latihan ini," lanjut Zevion, meletakkan botolnya kembali.

Venna tidak bergeming sedikitpun dari posisinya. "Aku tidak peduli pada Mr. Romanov."

Zevion berhenti mengusap lehernya, menatap Venna penuh selidik.

Venna melanjutkan kata-katanya dengan nada yang amat datar namun berbobot. "Aku datang ke sini khusus untuk menemuimu."

Alis sebelah kanan Zevion terangkat. "Untuk apa?"

Venna menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang terasa berat di dadanya. "Sera ditangkap."

Seketika, gerakan Zevion membeku total. Tangan yang memegang handuk berhenti di udara. Untuk sesaat, ia hanya diam menatap Venna.

"Ditangkap?" bisik Zevion dengan suara yang mendadak merendah.

"Ya."

"Di mana?"

"Aku tidak tahu pasti," ucap Venna jujur. Ia mengepalkan tangannya di samping tubuh. "Tapi aku tahu dia masih hidup. Dan dia ditahan di markas perdagangan mereka."

Zevion meletakkan botol airnya perlahan ke atas meja. "Lalu?"

"Aku membutuhkan bantuanmu."

Zevion menghembuskan napas keras lewat hidung, lalu tertawa kecil. "Dan kau datang kepadaku? Kalau begitu kau salah orang, Venna.”

Venna mengerutkan keningnya tajam, ia mendekat dengan satu langkah.. "Ini bukan urusanmu, aku tahu—"

Zevion menyela, meraih handuk kecilnya lagi dan mengusap sisa keringat di leher dan wajahnya tanpa memandang Venna. "Bagus kalau kau tahu."

"Sera adalah bagian dari timku!" tegas Venna, suaranya sedikit menaik sebelum merendah penuh beban guilt. "Dan kau juga bagian dari kita dulu."

Langkah Zevion mendadak terhenti.

Venna menatap punggung pria itu. "Aku yang membiarkan dia pergi sendirian malam itu. Aku terlalu sibuk dengan urusanku... Kalau saja aku ikut dengannya, mungkin dia tidak akan tertangkap."

Zevion membalikkan badan, menatap Venna dalam keheningan yang mencekam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Aku tidak peduli apa yang akan terjadi padaku setelah ini," lanjut Venna, menatap lurus ke dalam mata Zevion. "Mr. Romanov mau menghukumku atau membuangku, terserah. Aku hanya ingin membawanya pulang."

Zevion terdiam sejenak, lalu perlahan memalingkan wajahnya ke arah lain. "Aku tidak ingin ikut campur dalam masalah teledormu."

Pria itu berbalik dan melangkah pergi menuju pintu keluar area latihan.

Venna tidak mengejarnya. Ia tidak menahan lengan pria itu. Ia hanya berdiri mematung di tengah ruangan, lalu berucap dengan suara pelan.

"Aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk dimintai bantuan, Zevion."

Langkah sepatu Zevion terhenti seketika, keheningan yang mencekam merayapi ruangan di antara mereka.

Venna akhirnya menghela napas panjang. "Kalau kau tidak mau... tidak apa-apa." Ia berbalik perlahan. "Aku tidak akan memaksamu."

Dengan langkah teratur, Venna berjalan meninggalkan ruangan menuju pintu keluar yang remang.

Pintu tertutup rapat.

Zevion masih berdiri mematung di tempatnya. Keheningan merayap di benaknya saat bayangan masa lalu dan rasa solidaritas yang tertimbun kembali mencuat.

Ia menghela napas panjang dan berat.

"Tch... selalu saja masalah," gumamnya gusar.

Tangannya terulur meraih botol air, meneguknya sekali lagi sebelum melemparkannya tepat ke dalam tong sampah. Kemudian, Zevion menolehkan kepalanya ke sudut ruangan yang agak gelap—ke arah seorang pria bertubuh jangkung yang sejak tadi duduk bersandar santai di atas tumpukan matras sambil mengamati.

"Nox," panggil Zevion singkat.

Nox menghentikan kegiatannya memutar pisau lipat di jemarinya. Ia mengangkat kepala. "Apa?"

"Mau berolahraga sedikit?" tanya Zevion dengan raut wajah yang berubah total—dingin, tajam.

Nox terdiam sejenak. Perlahan, ia menegakkan tubuhnya dan melihat kedua telapak tangannya sendiri

"Sudah lama sekali aku tidak menggunakan tanganku untuk kekacauan yang sesungguhnya," kekeh Nox pelan.

Zevion menyunggingkan senyum tipis—senyum berbahaya seorang predator yang terbangun dari tidurnya. "Kalau begitu gunakan malam ini."

Nox langsung memahami arah pembicaraan itu. Tatapannya berkilat jenaka dan senyum lebar terukir di wajahnya. “Ah- aku mengerti.”

Tanpa membuang waktu, Nox melangkah maju dan menepuk bahu salah satu anggota Veynor bertubuh kekar di dekatnya dengan keras.

"Kalian dengar itu, Lads?!" seru Nox dengan suara lantang yang menggelegar di seluruh penjuru ruang latihan.

Seketika, seluruh aktivitas fisik di ruangan itu terhenti. Beberapa kepala menoleh serentak, menatap Nox dan Zevion dengan pandangan penuh kesiapan.

Nox menyeringai lebar, meremukkan buku-buku jarinya hingga berbunyi nyaring. "Kita punya pekerjaan malam ini.”

Venna melangkah membelah kegelapan malam menuju van hitam yang terparkir di sudut gang yang remang. Pintu geser kendaraan itu terbuka sedikit, memancarkan pendar cahaya kebiruan dari dalam.

Kael sudah berada di sana, duduk bersandar di antara deretan kabel dan peralatan komunikasi dengan sebuah laptop yang menyala terang di pangkuannya. Jemarinya menari lincah di atas papan ketik.

Begitu mendengar pijakan sepatu Venna yang masuk dan merapatkan pintu geser, Kael langsung menoleh dengan binar mata tegang namun penuh determinasi.

"Aku menemukan sesuatu," ucap Kael tanpa basa-basi.

Venna mengambil tempat duduk tepat di sampingnya.

Lihat selengkapnya