RAVENNA

Sucy indah ramadhani
Chapter #24

Chapter 24. Organisasi Gagak

Langkah kaki itu semakin mendekat, suara sol sepatu kulit yang menghantam lantai bergema di sepanjang lorong. Sera, yang berdiri beberapa langkah di belakang Venna, menatap lurus ke dalam kegelapan koridor dengan napas tertahan. Dadanya naik turun tidak teratur, jemarinya yang memar meremas kain baju seragamnya sendiri.

Di sudut ruangan, beberapa siswi yang baru saja dibebaskan saling merapat rapat. Wajah mereka yang masih pucat, dan tubuh mereka berguncang hebat karena rasa takut yang kembali menggerogoti.

Venna tidak bergerak sedikitpun. Posisi berdirinya tegak, hanya matanya yang memicing tajam, sementara jemari tangannya perlahan mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Sosok seorang pria akhirnya muncul dari balik tikungan lorong yang remang, langkahnya begitu tenang. Tatapannya yang tajam dan mengintimidasi langsung terkunci tepat pada Venna. Lampu neon lorong mengenai garis wajahnya— Venna seketika mengenali siapa dia.

Pria yang sama.

Pria misterius yang pernah muncul dalam misi perebutan flashdisk berdarah beberapa bulan lalu. Sosok licik dan berbahaya yang berhasil lolos dari genggaman Venna sebelum ia sempat mengorek nama ataupun identitas aslinya.

Pria itu menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Venna, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi.

"Kita bertemu lagi… Putri Alexanderia," sapanya halus, suaranya mengalun seperti bisikan penuh racun.

Sera tersentak pelan, memajukan tubuhnya sedikit lalu menatap samping wajah Venna. "Kau mengenalnya?"

Venna tidak menjawab. Katup bibirnya tertutup rapat dan matanya tidak pernah terlepas sedikit pun dari pergerakan pria tersebut, Kemudian, tanpa menolehkan kepalanya, Venna berbicara singkat.

"Sera, Bawa mereka keluar sekarang.”

"Apa?"

Sera langsung menggelengkan kepalanya keras-keras. "Tidak! Aku masih bisa bertarung!" tegas Sera, memasang kuda-kuda meski kedua pergelangan tangannya masih membiru bekas ikatan tali. "Aku tidak akan-”

"Aku tahu kau bisa," potong Venna dingin. Tatapannya bergulir perlahan, menyapu bekas luka dan goresan darah di wajah serta leher Sera. "Tapi kau juga harus menyelamatkan mereka."

Sera menoleh sekilas ke belakang, melihat jajaran siswi yang meratap ketakutan. "M-mereka bisa berjalan sendiri menuju keluar-"

"Sebagian dari mereka bahkan hampir tidak bisa berdiri, Sera!" potong Venna lagi, suaranya tertahan namun penuh penekanan mendalam.

Sera terdiam kaku. Bibirnya terkunci, tak mampu membantah kenyataan pahit itu.

Venna kembali mengalihkan pandangannya lurus ke depan, menatap pria misterius yang masih berdiri menanti di depannya. "Dia datang untukku."

Pria itu tersenyum makin lebar, terkekeh pelan seolah menikmati drama di hadapannya. "Benar. Cerdas seperti biasanya."

Kedua sahabat itu berdebat sesaat, Sera masih tidak meninggalkan tempatnya untuk pergi dan membiarkan Venna melawan pria yang berbahaya ini bahkan tidak ia kenali juga.

"Pergi, Sera!" Nada suara Venna kali ini lebih tegas dan tak terbantahkan.

“Tch, kau sangat keras kepala. Jangan mati,” desis Sera

Tanpa membuang waktu lagi, Sera berbalik cepat dan merangkul dua siswi terdekat. "Ayo! Ikuti aku, cepat!" serunya seraya memimpin rombongan anak sekolah itu berlari menyusuri lorong menuju pintu keluar.

Pria di ujung lorong itu sama sekali tidak berusaha mengejar atau menghentikan mereka. Ia hanya berdiri santai, memperhatikan kepergian Sera dan para korban dengan tatapan jenaka.

Lihat selengkapnya