RAVENNA

Sucy indah ramadhani
Chapter #25

Chapter 25. Pencarian Organisasi Gagak

Tangan Venna membeku. Satu kata yang baru saja keluar dari mulut pria di bawahnya seakan menghentikan seluruh pikirannya, Gagak. Tatapan Venna berubah. Untuk beberapa detik, ia tidak lagi melihat pria yang terengah-engah di bawahnya. Pikirannya justru melayang kembali pada beberapa waktu lalu.

Beberapa waktu sebelumnya.

Malam telah menyelimuti kota Veridia. Setelah misi selesai, Venna berdiri sendirian di balkon gedung markas. Angin malam berembus dingin melewati wajahnya, menerbangkan beberapa helai rambut yang berantakan.

Venna bersandar pada pagar besi balkon. Luka-luka kecil di tubuhnya masih terasa nyeri, menyengat setiap kali ia menggeser posisi berdirinya. Namun ia tidak memperdulikannya.

"Sendirian?"

Suara itu terdengar dari belakang. Venna menoleh perlahan. Sera berjalan mendekat sambil membawa dua botol minuman dingin. Satu diberikan kepada Venna.

Venna menerimanya, merasakan dingin menempel di telapak tangannya. "Terima kasih."

Sera berdiri di sampingnya, meletakkan kedua siku pada pagar balkon dan menatap lurus ke arah cakrawala kota. Mereka tidak langsung berbicara. Untuk beberapa saat, keduanya hanya menikmati angin malam

"Kau tahu," kata Sera tiba-tiba, memecah hening.

Venna menoleh tanpa mengubah posisi badannya. "Apa?"

Sera memasukkan tangannya ke dalam saku jaket taktisnya. "Aku menemukan sesuatu sebelum gedung itu meledak."

Ia mengeluarkan sebuah benda kecil berukuran seukuran kartu kredit, lalu menggenggamnya sebentar sebelum menunjukkannya. Sebuah kartu logam tipis berwarna hitam pekat.

Venna mengernyitkan dahi. "Kartu? Kartu apa itu?

Sera menyerahkannya. Venna menerimanya dengan hati-hati. Di permukaannya yang mengkilat, hanya terdapat satu simbol yang diukir seekor burung gagak dengan sayap terbuka lebar.

Venna mengamati kartu tersebut di bawah cahaya lampu balkon. "Apa ini?"

"Aku tidak tahu." Sera menggeleng tipis. "Tapi aku menemukannya saat berlari di lorong sebelum menemui di ruang penyimpanan, aku rasa orang yang menggagalkan misi kita berasal dari organisasi ini.”

Venna membalik kartu itu. Permukaannya licin. Tidak ada nama. Tidak ada alamat. Tidak ada tulisan atau deretan angka apa pun. Hanya simbol gagak.

Sera menatap simbol tersebut dengan dahi berkerut. "Aku rasa… mereka mencoba untuk menyembunyikan apa yang tersimpan di dalam flashdisk itu.”

Dunia kembali menghantam Venna. Ia menatap pria yang tergeletak terdesak di lantai. Tangannya perlahan turun, melepaskan cengkeramannya dari kerah baju pria itu.

Tubuh pria itu jatuh ke lantai dengan suara berat, tak berdaya.

Pria tersebut terbatuk keras, memuntahkan sedikit darah, namun wajahnya yang memar justru mengembang membentuk senyuman miring. Melihat perubahan ekspresi dan keraguan sekilas di mata Venna, ia justru tertawa kecil—suara serak yang menggema menakutkan di ruangan sempit itu.

"Akhirnya..." Pria itu mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. "Kau tahu juga tentang mereka."

Venna tidak menjawab. Ia tetap berdiri tegak, memandang dingin bagaikan patung batu.

"Percuma." Pria itu tertawa lagi, meski dadanya naik turun menahan sakit. "Kau tidak akan pernah menemukan organisasi itu. Kau hanya serangga yang kebetulan menginjak ekor naga."

Tatapan Venna semakin dingin, menusuk hingga ke tulang. "Organisasi Gagak..."

Pria itu tersenyum lebar, memamerkan giginya yang ternoda merah. "Mereka tidak meninggalkan jejak. Dan siapapun yang mendengar nama itu... tidak akan pernah hidup cukup lama untuk menceritakannya."

Venna menatapnya beberapa detik tanpa mengedipkan mata. Tidak ada ketakutan di wajahnya, hanya kepastian yang mutlak.

Kemudian

Gerakannya begitu cepat dan tanpa peringatan. Kakinya menyambar kuat, menghantam sisi kepala pria tersebut dengani mematikan. Tubuh pria itu terpelanting keras dan membentur lantai beton. Ia tidak bergerak lagi, pingsan seketika.

Venna menarik napas panjang, merapikan sarung tangannya yang sedikit bergeser. Kemudian ia berbalik membelakangi tubuh yang membisu itu.

Ia tidak punya waktu untuk mencari jawaban dari orang yang sudah tidak sadarkan diri. Venna berlari keluar dari gedung yang remang dan berdebu itu, membiarkan derap langkah kaki menggema di sepanjang koridor luar. Di area parkir yang terpencil, beberapa kendaraan milik para pelaku masih terparkir rapi di bawah lampu jalanan yang berkedip-kedip.

Matanya yang tajam menyapu tempat tersebut, tatapannya kemudian berhenti pada sebuah motor sport hitam pekat yang terparkir membelakangi dinding.

Tanpa berpikir panjang, Venna menghampirinya. Ia menaiki motor tersebut, memeriksa kuncinya yang ternyata masih menempel, lalu memutar stop kontak tanpa ragu. Mesinnya langsung meliuk tajam, merespons sentuhan tangannya.

Suara raungan mesin memecah heningnya malam. Venna langsung melaju menembus kegelapan, meninggalkan lokasi pertarungan dengan kecepatan tinggi.

Tidak lama kemudian, desis statis terdengar diikuti suara Kael dari alat komunikasi kecil yang terpasang rapat di telinganya.

"Venna, kau di mana?" Kael bertanya dengan nada cemas namun tertahan.

Venna tidak menjawab selama beberapa detik. Ia fokus menembus belokan tajam, membiarkan angin malam menghantam sweater merah di tubuhnya.

"Venna? Kau mendengar suaraku?" Kael mengulanginya.

"Aku akan menyusul," jawab Venna singkat.

"Ke mana?"

"Markas."

Beberapa saat kemudian.

Sebuah van hitam berhenti perlahan di sebuah kawasan permukiman yang cukup tenang. Pintu geser bagian belakang terbuka otomatis.

Para siswa yang sebelumnya disekap mulai turun satu per satu dengan langkah gemetar. Di tepi jalan, beberapa keluarga yang sudah menunggu dengan cemas langsung berlari menyambut mereka.

Seorang ibu merengkuh putrinya yang ketakutan sambil menangis histeris. "Ya Tuhan..." Tangannya gemetar hebat saat memeluk erat tubuh anaknya yang gemetar. "Kamu masih hidup... Kamu selamat..."

Di sisi lain, seorang ayah hanya mampu memeluk erat putranya tanpa mampu berkata-kata, menepuk-nepuk punggung sang anak dengan mata yang berkaca-kaca.

Sera berdiri beberapa meter dari mereka, bersandar pada van. Ia tersenyum kecil, membiarkan rasa haru mengalir di dadanya. Melihat anak-anak itu akhirnya kembali ke pelukan keluarga mereka membuat rasa lelah dan pegal di seluruh tubuhnya sedikit berkurang.

Lihat selengkapnya