RAVENNA

Sucy indah ramadhani
Chapter #26

Chapter 26. Saatnya pembalasan.

Sudah tiga hari Kael hampir tidak meninggalkan kursinya, membiarkan dirinya tenggelam dalam kode dan deretan sistem keamanan yang memusingkan. Cahaya dari layar laptop menjadi satu-satunya penerangan di dalam kamar yang tirainya tertutup rapat, Jari-jarinya terus bergerak liar tanpa henti di atas keyboard.

Tiba-tiba layar berkedip merah. Gagal. Kael membuang napas kasar dan langsung mencoba jalur retasan lain melalui cadangan. Namun selang beberapa detik, pesan kesalahan yang sama kembali muncul. Gagal lagi. Ia menggertakkan gigi, mengetik ulang baris skrip baru untuk menembus sistem berbeda. Tetap gagal.

"Come on..." gumamnya serak. Matanya memerah dan berair akibat kurang tidur dan terlalu lama menatap layar.

Kael menyandarkan tubuhnya yang kaku ke sandaran kursi. Untuk sesaat, ia memejamkan mata, membiarkan rasa pening menghantam kepalanya. Ia kembali membuka mata, menolak untuk menyerah, mencoba sekali lagi. Tangannya bergerak cepat mengetik beberapa perintah pemutus firewall. Layar berkedip tajam sebelum menampilkan tulisan tebal berbingkai merah:

ACCESS DENIED

Kael menghela napas panjang dan melepaskan tangannya dari keyboard. “Sialan…”

Pintu kamar terbuka dengan decitan pelan. Kael menoleh melihat Sera berdiri di ambang pintu sambil membawa beberapa bungkus makanan ringan yang baru dan segelas kopi panas yang asapnya masih mengepul.

"Bagaimana? Dapat masuk atau nggak?" tanya Sera pelan.

Kael tidak menjawab. Ia hanya menatap hampa ke arah layar.

Sera berjalan mendekat, menyibak beberapa kertas koran di meja, lalu meletakkan makanan dan kopi segar itu tepat di samping laptop. "Kamu harus istirahat, sudah tiga hari kamu mengerjakan ini."

"Aku tahu," sahut Kael pendek.

Sera berdiri di sisinya, menatap mata Kael yang dihiasi lingkaran hitam tebal dan jelas-jelas menandakan kelelahan. “Bagaimana dengan Darkweb? Apa kamu sudah coba?”

Kael hanya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Aku sudah mencoba semuanya, Sera. Setiap protokol peretasan, semuanya."

Sera menarik kursi kayu di samping Kael lalu mendudukinya. "Lalu?"

"Tetap sama." Kael menunjuk layar laptopnya yang dipenuhi log kegagalan sistem. "Data korban terkunci rapat. Bahkan jalur belakangnya juga tidak bisa ditembus tanpa memicu alarm penghancuran data otomatis."

Sera terdiam. Ia mengambil satu bungkus makanan ringan dari atas meja lalu membukanya perlahan, menimbulkan suara kresek halus. "Andai aja ada sedikit kode yang tidak biasa, mungkin itu bisa jadi petunjuk."

Kael terdiam, jemarinya terkepal di atas paha, ia kembali menatap layar monitor dengan tatapan penuh tekad yang tersisa. Tangannya kembali bergerak menekan tombol-tombol keyboard. Kael mengerutkan kening, memajukan tubuhnya ke arah layar. "Sebentar…”

Beberapa menit berlalu dalam keheningan hanya dihiasi suara ketikan yang monoton. Kael hampir mematikan programnya dan menyerah ketika matanya menangkap sebuah keanehan di pojok kanan sebuah halaman situs lama yang sudah tidak aktif muncul di layar, menampilkan foto bangunan lama sebuah perusahaan.

Ia memperbesar gambar tersebut hingga tingkat terendah. Sebuah deretan angka kecil bernoda terlihat tersembunyi di bawah cetakan foto perusahaan. Kael menyipitkan matanya. "Apa ini?"

Penasaran, ia membuka halaman yang sama dari arsip yang ditangkap pada dokumen semalam. Angka di bawah foto itu ternyata berbeda. Kael terdiam, dadanya mulai berdegup lebih kencang. Ia mencoba membuka data dari arsip hari-hari sebelumnya.. Angkanya berubah lagi.

Keningnya semakin berkerut tajam. "Kenapa angkanya berubah setiap hari?"

Sera yang menyadari perubahan intonasi suara Kael ikut mendekatkan wajahnya ke layar. "Mungkin itu hanya tanggal umum, kamu tahu kan kalau perusahaan besar selalu memiliki update."

"Bukan." Kael menggeleng cepat. "Formatnya acak, tidak cocok dengan struktur tanggal maupun waktu publikasi." Dengan jemari yang mendadak lincah kembali, Kael membuka beberapa berkas arsip lainnya dari server yang sama. Angka tersebut selalu berubah secara dinamis setiap 24 jam, tetapi pola algoritma perubahannya tetap sama.

Kael menatap layar selama beberapa detik tanpa berkedip, matanya bergerak cepat menganalisis pola numerik tersebut. Kemudian perlahan, matanya melebar sempurna. "...Password," bisiknya tak percaya.

Sementara itu, Venna masih menjalani penyamarannya sebagai Sheva. Di balik seragam sekolah yang rapi dan senyum tipis yang terukur, matanya yang tajam tak pernah berhenti mengamati setiap sudut SMA Veridia.

Hari itu berjalan seperti biasa, tidak ada yang terlihat mencurigakan. Semuanya tampak normal untuk sekolah yang menyimpan rahasia kelam di balik dinding-dindingnya.

Namun, ketika bel kepulangan berbunyi dan Venna melewati salah satu koridor belakang yang sepi menuju gerbang, langkah kaki pelannya mendadak berhenti.

Beberapa siswa laki-laki berdiri berkumpul di sudut koridor dekat tangga darurat. Mereka berdiri sangat rapat, berbincang dengan suara rendah sambil sesekali memantau area sekitar dengan cemas.

Venna refleks menarik langkahnya kembali dan bersembunyi di balik lekukan dinding beton. Ia menempelkan punggungnya, menahan napas seraya menajamkan pendengarannya.

"...tempatnya di sana," bisik salah satu siswa, nadanya sarat akan ketegangan.

"Jangan sampai ketahuan. Kau tahu kan akibatnya?" sahut yang lain, suaranya terdengar gemetar.

"Kalau mereka sampai tahu kita memegang ini—"

Venna mencoba menggeser posisinya sedikit lebih dekat, berniat mendengarkan lebih jelas atau mencatat wajah para siswa tersebut. Namun tiba-tiba—Alat komunikasi mikro yang terpasang di dalam lubang telinganya bergetar lembut dan aktif.

Lihat selengkapnya