Seorang pria berjalan dengan kepala tertunduk menyusuri trotoar kota, langkahnya tidak teratur—menyeret kakinya yang berat. Wajahnya terlihat begitu lelah, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin malam. Sementara kedua tangannya menggenggam erat tali tas ransel yang tersampir di bahunya.
Ia berhenti tepat di pinggir trotoar, di depan sebuah garis penyeberangan membelah jalan raya yang masih dipenuhi arus kendaraan yang ganas. Truk besar melintas, menggetarkan aspal di bawah pijakannya. Namun pria itu tidak bereaksi sedikit pun.
Pikirannya justru melayang kembali pada makian dan bentakan yang beberapa jam lalu.
"Dasar bodoh!"
"Kalau tidak bisa bekerja sesuai perintah, lebih baik keluar saja dari sini!"
"Jangan sok pintar dengan ijazah luar negerimu itu!"
"Kau pikir perusahaan sebesar ini membutuhkan orang sepertimu?"
Lalu, bisikan suara lain berputar di kepalanya. Suara dari pria berjas rapi yang tadi siang menatapnya dingin—suara yang jauh lebih pelan, tetapi justru paling menakutkan hingga meremukkan tulangnya.
"Kami tahu nenekmu masih dirawat di rumah sakit. Biayanya mahal, bukan? Jadi tutup mulutmu dan kerjakan tugasmu."
Pria itu memejamkan mata rapat-rapat. Dadanya terasa begitu sesak, air mata perlahan mengalir, membasahi pipinya yang pucat. Ia mengusapnya dengan kasar menggunakan lengan kemeja.
"Aku hanya bekerja..." gumamnya dengan suara bergetar. "Aku mau menyelamatkan Nenek..." Ia membuka mata kembali, menatap jalanan di hadapannya.
Satu langkah kakinya yang gemetar turun dari tepian trotoar yang tinggi, satu langkah lagi mulai menyeberang dengan tubuh yang sempoyongan. Ia tidak lagi melihat ke kiri atau ke kanan. .
Sebuah mobil sedan melintas hanya beberapa meter di depan badannya. Klakson panjang meraung memecah malam. Pria itu tetap berjalan lurus. Sebuah truk kontainer melewati belakang tubuhnya, membawa terpaan angin kencang yang mengibarkan kemeja dan mengacak rambutnya. Namun ia tidak menoleh sama sekali. Pandangannya hanya terkunci pada kegelapan di ujung jalan.
Sampai—
"Hei!" Suara jeritan seorang wanita terdengar melengking dan keras dari kejauhan. "Minggir!"
Pria itu mendadak berhenti di tengah jalur penyeberangan. Ia menoleh perlahan dengan gerakan kaku, lehernya terasa begitu berat. Di sisi lain jalan, seorang wanita berdiri dengan wajah penuh kepanikan, melambaikan tangan ke arahnya.
"Minggir dari sana!"
Pria itu mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia sempat memahami apa yang terjadi, cahaya putih terang menyapu wajah pucatnya. Sebuah kendaraan besar melaju kencang tepat mengarah ke posisinya. Klakson meraung hebat memekakkan telinga. Pria itu membeku di tempat, matanya memantulkan sorot cahaya yang kian mendekat.
Tiga bulan sebelumnya.
Pagi yang cerah di Veridia. Seorang pria muda berdiri anggun di depan sebuah gedung pencakar langit. Ia mendongakkan kepala, menatap gedung perusahaan itu. Logo perusahaan bertinta emas terpampang besar di bagian depan.
Ia menarik napas panjang, menetralkan rasa gugup yang melanda dadanya. “Oke, tenang. Kamu pasti bisa Rian, bisa dan bisa!"
Beberapa jam kemudian, di dalam area kantor yang megah.
"Selamat bergabung di tim kami," ujar seorang pria paruh berjas gelap sambil tersenyum ramah.
Rian tersenyum lebar, membungkukkan badan penuh hormat. "Terima kasih banyak, Pak. Saya sangat berterima kasih atas kesempatan ini."
Sang manajer menyerahkan sebuah kartu identitas berikat tali biru kepadanya. "Namamu mulai hari ini resmi terdaftar sebagai staf ahli laboratorium produksi."
Rian menerima kartu tersebut dan mengangguk. "Baik, Pak. Saya siap bekerja dengan keras."
"Bagianmu adalah divisi formulasi produksi," Manajer itu berbalik dan menunjuk ke arah koridor panjang berlapis kaca tebal di belakang mereka. "Kami sedang mengembangkan dan memproduksi secara masif produk kecantikan yang sedang sangat populer dan laris manis di pasaran tahun ini."
Rian memperhatikan seluruh proses dengan mata berbinar-binar penuh antusiasme. "Jadi aku akan ikut serta meracik formulasi produk populer tersebut, Pak?"
"Benar." Manajer itu berhenti melangkah, lalu menyerahkannya sebuah binder tebal berisi dokumen formulasi rahasia. "Ini resep dasarnya. Ikuti persis seperti apa yang tertulis di dalam panduan ini."
Rian membuka lembaran tersebut dan membacanya sekilas. "Baik, Pak. Akan saya pelajari detailnya."
Manajer itu menatap Rian tajam, matanya menyipit penuh penekanan. "Jangan pernah mengubah apa pun dari takaran tersebut. Tanpa keahlian improvisasi."
Rian mengangguk tanpa rasa curiga. "Saya mengerti, Pak. Saya akan ikuti instruksi perusahaan."
Manajer itu menatap Rian selama beberapa detik lebih lama, mengamati ketulusan di wajah anak muda tersebut, sebelum akhirnya mengangguk tipis dan pergi meninggalkannya sendirian di koridor.
Rian menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Senyum bangga kembali mengembang di wajahnya saat ia memeluk binder formulasi itu ke dadanya.
Tiga minggu berlalu.
Semuanya berjalan lancar, bahkan lebih dari apa yang Rian harapkan. Ia bekerja dengan giat dari pagi hingga malam. Tidak pernah datang terlambat, tidak pernah sekalipun mengeluh tentang panjangnya jam kerja.