RAVENNA

Sucy indah ramadhani
Chapter #28

Chapter 28

Malam itu juga setelah di rumah sakit mereka bertiga kembali ke markas. Ketiganya justru berkumpul di kamar Kael yang sempit dan remang. Ruangan itu dipenuhi cahaya kebiruan dari beberapa monitor yang menyala, sementara suara ketukan papan ketik terdengar tanpa henti memecah hening.

Jari-jari Kael bergerak cepat melintasi keyboard. Matanya tidak pernah lepas dari layar yang dipenuhi baris kode dan arsip digital. Venna berdiri di sebelah kanannya, sementara Sera berdiri menyilangkan tangan di sebelah kiri.

"Kael," panggil Venna datar.

"Ya?"

"Cari produk apa saja yang paling laku dari perusahaan itu."

Kael mengangguk cepat. "Baik, beri aku waktu sebentar."

Ia mengetik beberapa kata spesifik pada pencari internal yang terhubung dengan basis data perusahaan tersebut. Tidak sampai satu menit, berbagai macam hasil dan dokumen komersial muncul berturut-turut di layar. Kosmetik, krim wajah, serum vitamin, sabun pembersih, dan beberapa produk perawatan kulit lainnya.

"Perusahaan ini sebenarnya sudah cukup lama berdiri."

Venna menyilangkan tangan di depan dada, matanya menatap tajam ke arah diagram. "Berapa tahun mereka mengeluarkan produk-produk itu?"

"Sudah lebih dari sepuluh tahun." Kael membuka salah satu arsip pendaftaran entitas bisnis lama. "Awalnya mereka memproduksi berbagai jenis make-up standar."

Sera mendekat, mencondongkan badannya ke layar. "Make-up, lalu kenapa di sini hanya ada sejenis produk pencerahan?"

"Karena mereka gagal," Kael mengeklik beberapa dokumen keuangan masa lalu. "Produk mereka tidak terlalu diminati pasar. Penjualan terus menurun dari tahun ke tahun sampai akhirnya perusahaan mengalami kebangkrutan total."

Venna mengerutkan kening. "Kalau begitu bagaimana mereka bisa kembali naik dan memiliki modal sebesar sekarang?"

Kael tersenyum tipis, sebuah senyuman sarat misteri. "Nah, itu bagian paling menariknya.” Tangannya kembali bergerak menari di atas papan ketik. "Lihat ini."

Sebuah gambar promosi lama muncul di tengah layar monitor utama. Satu kotak produk berwarna putih bersih dengan desain yang sangat sederhana tanpa banyak ornamen.

Sera membaca tulisan kecil yang tertera pada kemasan visual tersebut. "Produk pemutih kulit?"

"Benar." Kael mengangguk. "Perusahaan ini kembali berdiri sekitar dua tahun setelah kebangkrutan mereka. Mereka merilis ulang identitas bisnis dan mendistribusikan produk ini." Ia menunjuk grafik penjualan yang melonjak vertikal pada layar. "Dan sejak saat itu, angka penjualan mereka langsung meningkat drastis hingga puluhan kali lipat."

Venna memperhatikan gambar kotak putih tersebut dengan tatapan menyelidik. "Kenapa?"

Kael bersandar sejenak ke kursi rodanya, memutar tubuhnya sedikit. "Tren."

"Tren?" ulangi Venna.

"Beberapa tahun terakhir, banyak anak muda di kota ini mulai terobsesi dengan kulit putih instan. Produk semacam ini akhirnya menjadi sangat populer dan dicari di mana-mana."

Sera menghela napas berat. "Jadi mereka memanfaatkan obsesi dan tren itu untuk keuntungan besar."

"Kurang lebih begitu."

Venna menatap layar beberapa saat dalam keheningan yang tegang. Kemudian ia bertanya dengan suara dingin, "Siapa yang membuat produk itu?"

Kael kembali menghadap monitor dan mengetik perintah pencarian, beberapa dokumen legal yang terpindai muncul. Ia membaca baris demi baris nama penemu yang tertera di sana.

"Di sini ada nama dua orang ilmuwan utama."

Sera ikut mendekat. "Siapa mereka?"

Kael membuka sebuah arsip dokumen penemuan yang sudah buram dan terenkripsi lama. Layar monitor berkedip tajam sebelum berganti tampilan. Dua foto berukuran pas foto muncul berdampingan di atas layar. Seorang wanita dengan senyum hangat dan seorang pria berkacamata dengan tatapan bijak.

Venna yang sejak tadi berdiri tenang mendadak membeku di tempatnya.

Matanya melebar sempurna. Napasnya tertahan di tenggorokan, seolah seluruh pasokan udara di ruangan itu habis dalam sekejap. Tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari mulutnya.

Sera yang menyadari perubahan atmosfer mendadak menoleh ke samping. "Venna?"

Venna tidak menjawab. Ia bahkan tidak berkedip. Tatapannya terkunci rapat, terpaku penuh luka pada layar monitor. Jantung Venna berdegup sangat keras, menghantam rongga dadanya.

“Mario dan Bella.” Kael melanjutkan penjelasannya. "Mereka adalah ilmuwan yang cukup terkenal di bidang kimia dan biologi molekuler pada masanya." Ia membuka berkas pendukung lainnya. "Keduanya yang pertama kali meracik dan menguji coba formula awal produk ini."

Sera mengangguk pelan. "Lalu kenapa perusahaan tidak lagi menggunakan nama atau resep asli mereka?"

Kael menggeleng heran. "Itu yang aneh." Ia memperbesar dokumen pencabutan hak paten. "Setelah produk ini sukses besar di pasaran, formulasi dasarnya mulai mengalami perubahan drastis dari tahun ke tahun. Banyak pihak internal yang mencoba meniru dan memodifikasi komposisinya."


Venna masih diam membisu. Kedua tangannya yang berada di samping tubuh perlahan mengepal sangat erat, hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan.

Sera kembali berpaling menatap Venna dengan cemas. "Venna? Kau tahu sesuatu tentang mereka?"

Kali ini Venna berkedip, memutus hipnosis visual dari layar. "A-apa?"

"Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali."

Venna perlahan mengalihkan pandangannya dari layar monitor, menatap lurus ke dinding kosong. "Ya." Namun suaranya terdengar jauh lebih rendah, parau, dan dingin dari biasanya.

Bertahun-tahun yang lalu.

Malam itu sangat sunyi di kediaman keluarga kecilnya. Venna terbangun di tengah malam dari tidurnya yang lelap. Ia mengucek kedua matanya sambil perlahan turun dari tempat tidur. Rasa haus dan keinginan pergi ke kamar mandi membuatnya melangkah keluar dari kamar.

Dengan langkah-langkah tanpa suara, ia berjalan menyusuri koridor rumah yang remang. Namun ketika ia hendak kembali ke kamarnya—langkah kakinya terhenti seketika.

Pintu kamar orang tuanya terbuka sedikit, menyisakan celah sempit. Cahaya temaram dari lampu meja di dalam ruangan menyelinap keluar, membelah kegelapan koridor.

Venna mengerutkan keningnya. Ia mendekat secara perlahan. Tangannya sudah terangkat, hampir menyentuh gagang pintu besi tersebut. Namun sebelum ia sempat mendorongnya masuk, suara ibunya terdengar dari balik celah pintu.

"Sayang..."

Venna membeku di tempatnya.

"Bagaimana ini? Mereka terus meletakkan bahan tersebut ke dalam produk yang kita buat." suara Bella terdengar sangat berat dan gemetar. "Mereka akan menjadikannya racun."

Suara helaan napas berat ayahnya, Mario, terdengar menyusul. "Aku tahu, Bella. Aku tahu."

Lihat selengkapnya