RAVENNA

Sucy indah ramadhani
Chapter #29

Chapter 29

Darah menetes perlahan dari pelipis Kael, menyerap ke dalam serat kain bajunya yang kusam. Rasa pening yang memukul kepala bagian belakangnya masih menyisakan denyut tajam tiap kali detak jantungnya terpacu.


Logam dingin itu kini menekan dahi Kael. Sentuhan esnya mengirimkan sensasi menggigil yang menjalar hingga ke tulang belakang.

"Kau pikir dengan melenyapkanku, semua kotoran yang kau simpan di dalam flashdisk itu akan menguap begitu saja? Aku tidak akan memberikannya padamu." suara Kael terdengar parau, terbatuk kecil saat udara dingin memenuhi paru-parunya.

Pria berjas rapi itu tidak menanggapi gertakan tersebut. Wajahnya tetap tenang, Ia menelengkan kepala sedikit, membiarkan cahaya lampu remang mempertegas garis rahangnya yang keras.

"Kau terlalu naif, Kael," ujar pria itu. Suaranya berat, halus, namun menyimpan bahaya yang nyata. "Anak muda sepertimu selalu berpikir bahwa membongkar kebenaran adalah tugas suci. Kau merasa menjadi pahlawan hanya karena berhasil mencuri sebuah benda kecil dari ruang server?"

Pria berjas itu kembali mengarahkan pistolnya tepat di antara kedua mata Kael. Jarinya menegang di atas pelatuk. "Tapi Sayangnya… kamu juga akan tersimpan dalam kebenaran itu, ucapkan selamat tinggal untuk kedua temanmu di sana.”

Dor!

***

Aroma wangi kopi espresso dan pendingin udara yang dingin menusuk langsung menyambut Kael saat ia melangkah menyusuri lorong berlantai marmer putih.

Sembari berjalan menuju lift, Kael mengeluarkan ponsel khususnya. Tanpa menarik perhatian orang-orang yang lalu lalang, jarinya bergerak cepat mengetik pesan singkat berkode.

Akses diterima. Posisi bergeser: Administrasi Direksi (Lantai 18). Manajer langsung: Sean Zaitves.

Sementara itu, jauh di ujung lorong lantai dua, pria yang berdiri di balik kaca tembus pandang masih menatap ke arah tempat Kael baru saja melintas. Pria itu mengenakan kemeja abu-abu gelap yang tergulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan melingkar di pergelangan tangannya.

Pintu ruangan HR dibelakang pria itu terbuka. Salah satu pewawancara keluar dengan wajah sedikit tegang, memegang dokumen fisik milik Kael.

"Pak Sean," panggil pewawancara itu dengan suara agak tertahan. "Semua dokumen sesuai petunjuk Anda. Carl Akfraja—atau siapa pun nama aslinya sudah ditempatkan di tim Anda."

Lihat selengkapnya