RAVENNA

Sucy indah ramadhani
Chapter #30

Chapter 30

Pagi itu, Kael berdiri tepat di depan gedung perusahaan yang selama beberapa hari terakhir hanya ia lihat melalui layar dan dokumen. Kini, ia berdiri di sana sebagai seorang karyawan.

Kael menarik napas panjang sebelum melangkah menuju pintu masuk. Tangannya memasukkan kartu identitas baru ke dalam mesin pemeriksaan.

Layar kecil di samping mesin menyala.

CARL AKFRAJA

ADMINISTRASI DIREKSI

LANTAI 18

Petugas keamanan memeriksa wajah Kael selama beberapa detik sebelum mengembalikan kartu identitasnya.

"Silakan masuk."

Kael mengangguk.

"Terima kasih."

Ia berjalan melewati pintu keamanan, setiap langkahnya terasa biasa. Namun pikirannya tidak, ia tahu satu kesalahan kecil saja bisa membuat penyamarannya berakhir. Kael masuk ke dalam lift menunggu pintu tertutup, beberapa menit kemudian pintu lift terbuka.

Lantai delapan belas.

Kael keluar, berbeda dengan lantai bawah yang dipenuhi aktivitas karyawan, lantai ini terasa jauh lebih tenang. Tidak banyak orang yang berlalu-lalang, Hanya beberapa karyawan yang berjalan cepat sambil membawa dokumen. Di ujung lorong terdapat sebuah tulisan:

ADMINISTRASI DIREKSi

Kael berjalan menuju ruangan tersebut, ia mengetuk pintu dua kali.

"Masuk."

Kael membuka pintu.

Seorang pria yang duduk di belakang meja mengangkat wajahnya.

Pria itu berusia sekitar akhir tiga puluhan. Rambutnya tertata rapi, kemejanya tanpa kusut, Sean Zaitves. Manajer yang namanya tercantum dalam data perusahaan.

Kael berdiri di depan meja.

"Pak Sean?"

Pria itu mengangguk.

"Kau Carl Akfraja?"

"Ya."

Sean mengamati Kael dari ujung kepala hingga kaki. "Ya..." Sean menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kau memang cukup beruntung bisa masuk ke sini."

Kael tersenyum tipis.

"Saya akan berusaha membuktikan bahwa saya pantas berada di sini."

Sean tertawa kecil.

"Kita lihat saja."

Ia mengambil sebuah folder berwarna biru dari sisi mejanya, folder itu diletakkan di hadapan Kael.

"Ini pekerjaan pertamamu."

Kael mengambilnya.

"Data penjualan?"

"Benar."

Sean menunjuk beberapa halaman.

"Pelajari semuanya. Penjualan, distribusi, laporan produksi, dan beberapa transaksi yang tercatat di dalamnya."

Kael membuka halaman pertama, angka-angka memenuhi lembaran. Namun hanya sekilas.

"Berapa lama saya harus menyelesaikannya?"

"Sore."

Sean berdiri, sebelum pergi, ia berhenti di samping Kael.

"Dan satu lagi."

Kael menoleh.

"Jangan membuat kesalahan."

Tatapan Sean menjadi lebih tajam.

"Atasan tidak suka kesalahan."

Kael tersenyum sopan.

"Saya mengerti."

Sean berjalan keluar.

Pintu tertutup, Kael menunggu beberapa detik. Kemudian ia kembali menatap folder biru itu. Ia membalik halaman demi halaman yang terlihat tersusun dengan sangat rapi. Kael mengambil ponselnya, ia mulai mencocokkan angka penjualan dengan jumlah produksi.

Beberapa menit kemudian, dahinya berkerut. Namun sebelum ia sempat melanjutkan pikirannya, terdengar suara langkah dari luar. Kael segera membuka folder biru itu kembali.

Pintu terbuka, seorang perempuan masuk membawa beberapa dokumen.

"Pak Sean minta ini diletakkan di meja Anda."

Kael menoleh.

"Baik. Terima kasih."

Perempuan itu hendak pergi.

"Permisi, tunggu."

Perempuan itu berhenti.

Kael mengangkat salah satu dokumen.

"Maaf, saya masih baru. Saya ingin memastikan sesuatu."

"Apa?"

"Untuk data distribusi ini..." Kael menunjuk sebuah tabel. "Apakah semua laporan dari gudang pusat masuk melalui bagian administrasi?"

Perempuan itu terdiam, namun Kael menangkapnya.

"Seharusnya iya."

Kael mengangguk.

"Oh, baiklah."

Ia kembali melihat dokumen.

Lihat selengkapnya