MATAHARI telah terbenam di ufuk barat, meninggalkan rantai-rantai keserakahan mahluk bumi. Angin malam yang sejuk mulai berhembus, membawa aroma kepedihan makhluk bumi yang tertindas. Sementara itu, dari ufuk timur, bulan purnama yang bercahaya lembut mulai naik, menerangi langit dan menghidupkan kembali cahaya di bumi. Di bawah sinar rembulan yang lembut, di atas Bukit Cipariuk Sodonghilir, tampak seorang pemuda tanggung sekitar umur tujuh belas tahunan sedang duduk bersila, si pemuda itu berkulit kuning Langsat, berambut hitam mengkilat dengan panjang sebahu dan menggunakan pakaian pangsi berwarna hitam dan ikat kepala berwarna hitam pula. Mata si pemuda tampak terpejam dan bibirnya komat-kamit, sepertinya ia sedang merapal mantra, walau pelan tapi mantra yang dirapalkan si pemuda bisa terdengar jelas.
“Hurung nangtung ngadeg cahaya, ari diuk ngumbar cahaya, nyangigir nalinga Malik disamak cahaya dikampuh bayu, sungkelang naga wangkelang dibaju ratu kateguhan, batuk isun jadi gugur awak aing jadi gelap, iket-iket naga mulut nakiceup jadi sabumi, ari cicing Indung gunung ombakna barat sajagat, moal aing teu sirna dikurung ku langit dikandang ku jagat, les ngiles."
Si pemuda terus mengulang-ngulang rapalan mantranya, dan anehnya pada rapalan terakhir yang kesekian kali dibacanya itu, tubuh si pemuda mendadak menghilang seperti ditelan bumi.
“Rawa! Rawaa!!” terdengar suara parau seperti suara kakek-kakek memanggil.
*Iya Kek!” sahut si pemuda yang sedang merapal mantra, ternyata walau sekarang tubuhnya tidak terlihat, tapi sebenarnya dia masih berada di tempat duduknya dan masih terus merapal matra. Si pemuda yang ternyata bernama Rawa itu tampak merapal sesuatu yang berbeda dari yang tadi dia rapal, aneh, seketika itu juga tubuhnya bisa terlihat kembali, dia lalu berdiri dan segera melesat ke arah suara, yang ternyata dari sebuah gubuk kayu di tengah-tengah bukit.
Rawa masuk ke dalam gubuk, tampak di dalam gubuk di depan api obor yang menyala oleh minyak dari bahan buah kelapa, yang tertancap pada sebongkah kayu, duduk seorang kakek-kakek yang masih terlihat segar dan sehat. Si kakek menggunakan pakaian dengan model dan warna yang sama dengan Rawa. Hanya saja, si kakek menggunakan blangkon berwarna hitam untuk menutupi rambutnya yang sudah mulai memutih dan jarang. Rawa segera duduk sila di depan si kakek.
“Rawa … kamu sudah lulus menguasai semua jurus silat dan ilmu-ilmuku yang lainnya, termasuk ilmu bahasa binatang, kamu juga sudah mahir membuat senjata dan mendulang emas dari sungai dan gunung dan dibentuk kepingan, itu penting untuk keperluan hidup seperti membeli baju dan celana supaya kamu tidak bau si oa teman kamu itu,” kata si kakek sambil menunjuk ke arah kera jenis oa yang sedang tidur di pojok gubuk.
“Keping emas juga penting buat bekal ketika kamu di kota, memang kalau di hutan seperti ini kamu tidak butuh emas karena hampir semua buah-buahan, akar-akaran dan daun-daunan bisa kamu makan dan bisa membuat pakaian dari kulit pohon atau kulit hewan, tapi di kota kamu akan membutuhkan emas itu. Oh iya Rawa, ada satu binatang yang belum kamu kuasai, karena binatang itu sangat sulit!” lanjut si kakek yang ternyata adalah Gurunya Rawa.
“Binatang apa itu Kek?” tanya Rawa penasaran.
“Tawon! Kamu harus membaca mantra ini sambil bersemedi di atas sarang tawon selama empat puluh satu hari, kamu hanya boleh turun satu kali sehari dan itupun tidak boleh lama-lama. Setiap kamu selesai membaca mantranya, kamu suruh si tawon terbang memutari tubuh kamu, atau berbaris di depan kamu, baca terus matra ini sampai si tawon menuruti perintah kamu. Ini namanya Aji Selaksa Tawon,” kata si kakek sambil memberikan selembar kulit binatang yang bertuliskan mantra.
“Kok mantranya aneh kek?!”
“Sudah jangan banyak tanya, lakukan saja apa yang aku perintahkan. Jangan lupa sampaikan salamku kepada para tawon hekhekhek ….”
“Siap Kek, pasti nanti saya sampaikan Kek, apa perlu saya carikan calon istri buat Kakek supaya salamnya tidak kepada tawon Kek? Hehehe.”
“Halah kau sok perhatian saja Rawa! Aku bisa cari sendiri tapi nanti kalau kau sudah turun gunung, supaya tidak ada yang mengganggu hekhekhek … sudah sekarang kamu istirahat sana! Besok pagi kamu harus mulai bersemedi di sarang tawon!”