“Rawa sekarang kamu sudah lulus dan semua binatang sudah menjadi sahabat kamu. Besok kamu boleh turun gunung untuk menumpas segala kejahatan dan membela orang-orang yang lemah, tapi sebelum kamu benar-benar terjun ke dunia yang berlumuran darah itu, kamu harus mengunjungi orang tua dan kakak kamu dan meminta doanya, nanti kamu tidak sendirian, kamu bakal bertemu dengan pendekar-pendekar lain. Bersikaplah rendah hati dan tetap waspada, selalu gunakan ilmu terawangan dan ilmu membaca pikiran, karena banyak orang-orang jahat berpura-pura baik,” kata kakek Somandinata sambil menatap Rawa dengan tajam, seperti sedang memasukan kata-kata nasihatnya kedalam hati Rawa.
“Benarkah Kek saya besok boleh turun gunung?” tanya Rawa, tampak raut sedih di wajahnya, karena harus berpisah dengan Gurunya yang telah merawat dan membesarkan dirinya, juga telah mendidiknya dengan berbagai macam ilmu pengetahuan dan berbagai macam ilmu Kanuragan.
“Iya Rawa, besok pagi kamu harus segera turun gunung, karena kejahatan sudah semakin merajalela … kakek punya sesuatu untuk bekal kamu,” jawab kakek Somandinata sambil berdiri dan berjalan ke kamarnya. Tidak lama dia keluar dengan membawa sebuah benda bulat panjang berwarna putih perak, yang ternyata itu adalah sebuah seruling.
“Rawa, karena kau pintar meniup suling, terutama suling Sunda, ini kakek buatkan suling yang unik untuk kamu, suling ini kakek buat dari bahan logam yang langka, yaitu dari logam pilihan dari batu yang jatuh dari langit, suling ini sangat kuat Rawa! Di dalam suling ini ada pisau panjang dan sangat tajam, yang kakek buat dari bahan logam yang langka juga, yaitu dari campuran berbagai logam terkeras dari batu yang jatuh dari langit. Kalau kau gunakan dengan disertai tenaga dalam, pisaunya bisa untuk membelah batu karang,” papar kakek Somandinata sambil memberikan seruling kepada Rawa.
Rawa segera menerima seruling tersebut dengan kedua tangannya. Seruling itu berukuran sebesar ibu jari kaki orang dewasa, dengan panjang sekitar tiga jengkal tangan orang dewasa, berwarna putih perak, terbuat dari logam yang paling keras dan langka yang terdapat pada batu meteor. Di dalam seruling terdapat pisau yang sangat tajam, dan terbuat dari campuran logam langka dari batu meteor, berwarna hitam mengkilap, dengan punggungnya yang tebal sehingga pisau itu hampir berbentuk segi tiga. Pisau di dalam seruling itu bisa dikuarkan dengan cara memutar sambil menarik ujung serulingnya yang berpungsi sebagai gagangnya.
“Kakek, saya mengucapkan beribu-ribu terimakasih, Kakek sudah mengorbankan segalanya buat saya Kek,” kata Rawa sambil mencium seruling yang diterimanya dari kakek Somandinata.
“Rawa, selain kau punya tugas untuk memberantas segala kejahatan dan membela orang-orang yang lemah, kakek akan memberi dua tugas untuk kamu! Apakah kau sanggup?”
“Sanggup Kek, saya siap berkorban nyawa demi tugas-tugas yang kakek embankan kepada saya,” jawab Rawa tegas.
“Baiklah! Pertama kamu harus cari orang yang mencuri kitab pancasona dari gua tempat guru kakek, kalau dia dari golongan hitam, maka kamu harus menghentikan kejahatannya bagaimanapun caranya, karena kalau dia sudah berhasil menguasai ilmu pancasona dan menggunakannya untuk kejahatan, maka dunia persilatan akan mengalami bencana besar, terutama bagi dunia persilatan golongan putih. Sekali lagi hentikan kejahatannya bagaimanapun caranya! Lalu kamu ambil kitabnya dan hancurkan.”
“Kenapa kitabnya harus dihancurkan kek?” tanya Rawa heran.
“Kan semua isi kitab itu sudah ada pada dirimu, dan kamu bisa mengajarkannya kepada anak kamu atau murid kamu!”
“Oh gitu ya Kek, berarti saya bakal nikah dan punya anak ya kek hehehehe … tugas kedua apa Kek?”
“Hekhekhek … suatu saat nanti kamu harus nikah, jangan kaya kakek …!
Tugas yang kedua adalah kalau kamu bertemu dengan seorang nenek kepandaian tinggi, tanya dia apakah dia bernama Jagathi, kalau dia bernama Jagathi tolong sampaikan salamku padanya.”
“Wah itu pasti pacar Kakek ya? Hehehe….”