Ray
Apa yang akan kau lakukan jika waktumu tak lama lagi?
Pikiran ini tiba-tiba merasuk ke dalam kepalaku, saat aku duduk setengah melamun di atas tempat tidur sambil menggenggam surat dari Mentari. Kupejamkan mataku dengan erat, mencoba mengenyahkan pikiran konyol itu.
Ah! Sialan! Aku benar-benar lupa!
Aku sudah berjanji untuk kembali menemui Mbah Rati seusai perjalananku tempo hari. Bagaimana aku bisa benar-benar melupakan janji itu?
Dadaku rasanya sesak, aku pingin muntah. Segera aku berlari ke kamar mandi, membasahi wajahku, dan memandanginya lewat cermin di hadapanku. Kukepalkan tanganku erat-erat, pikiranku begitu penuh hingga di titik rasanya benar-benar kosong.
Seolah ada dorongan tak kasat mata, segera kuraih jaket dan backpackku, memasukkan apa pun yang kurasa penting, dan langsung bergegas ke pintu depan sambil menggenggam tali penuntun Rocco.
Aku akan kembali.
Baru saja kubuka pintu, aku dikejutkan oleh sosok Mbak Rara yang dari postur tangannya seperti hendak mengentuk pintuku.
“Mbak Rara?” tanyaku heran.
“Eh, Ray!” balas Mbak Rara yang tampaknya juga sama terkejut.
“Kenapa Mbak?” aku membuka pintu lebar dan mempersilahkan Mbak Rara masuk. Dengan tatapan agak bingung, ia memandangiku dari atas ke bawah berulang kali.
“Kamu mau pergi lagi?” tanyanya kemudian setelah duduk di sofa. Aku mengangguk.
“Serius?! Mau ke mana lagi?”
“Aku lupa satu janji yang belum kutepati buat mengunjungi seseorang, Mbak. Dan setelah itu mungkin ke mana aja lah, tergantung suasana hati,” jawabku sekenanya. Mbak Rara menggelengkan kepalanya.
“Rocco kamu bawa?”
“Aku titipin di rumah ayahku. Gak mungkin lah aku bawa-bawa anjing. Atau Mbak Rara mau ngerawat?” tanyaku iseng yang malah mendapat respons di luar dugaan.
“Boleh? Mau deh! Aku pengen punya anjing dari dulu. Rocco juga udah akrab kan sama aku, hehe,” ujarnya sembari mengelus kepala Rocco. Aku tersenyum
“Ya, kalau Mbak Rara gak keberatan, aku akan jauh lebih tenang sih kalau Rocco bareng sama Mbak, dibanding sama ayahku, haha. Ngomong-ngomong, Mbak ada keperluan apa pagi-pagi begini?”
“Oh iya! Aku hampir lupa. Sebelum kamu pergi … tadi subuh, ayahnya Wisnu meninggal. Aku udah telpon kamu dari tadi, tapi gak ada jawaban,” jelas Mbak Rara.
“Inalillahi, Pak Imam?” Aku sedikit membelalakkan mata, terkejut. Mbak Rara mengangguk.
“Tunda dulu ya, urusan kamu? Kita ngelayat dulu … .”
Aku mengangguk dan meletakkan kembali backpackku di atas sofa. “Mbak tadi ke sini gimana?” tanyaku, mengingat Mbak Rara—yang kini statusnya masih tunangan Mas Wisnu—gak bisa bawa kendaraan sama sekali.
“Naik ojol, hehe,” aku menggelengkan kepala. “Kamu sih, diteleponin gak ngangkat,” lanjutnya sambil memukul pundakku dan ikut berjalan keluar.
“Ya maaf, HP-ku ternyata mode silent,” jawabku sambil mengunci pintu dan meraih helm motor di rak sepatu.
Setelah memacu motor dan meninggalkan rumah, Mbak Rara memintaku untuk mampir dulu ke pasar untuk membeli beberapa keperluan pemakaman. Setelah sekitar satu jam kami berkeliling, kami bergegas langsung menuju rumah Mas Wisnu.
Di sana sudah cukup ramai dengan para tetangga yang melayat dan mempersiapkan pemakaman. Setelah menyampaikan bela sungkawa kepada ibu dan keluarga Mas Wisnu di dalam rumah—di mana mereka semua nampaknya masih sangat terpukul—aku menghampiri Mas Wisnu yang sedang duduk sendirian di dekat tempat memandikan jenazah sambil merokok.
“Mas, aku turut berduka ya,” kutepuk pundaknya lembut dari belakang. Ia menoleh ke arahku, mengangguk, lalu menyiratkanku untuk duduk di sebelahnya. Di kejauhan, kulihat Bang Adi sedang sibuk memasang tenda.
Aku hanya duduk di sebelahnya, diam, tanpa mengatakan apa pun lagi.
“Terlalu mendadak,” Mas Wisnu akhirnya bersuara. “Padahal satu bulan lagi aku nikah. Tapi dia pergi begitu aja,” lanjutnya. Aku hanya diam dan menghela napas.