Re: 2

Avarreon
Chapter #3

Dongeng 2 - Pesan dari Masa Lalu


Re:

Banyak manusia mengharapkan keabadian. Tapi mereka lupa … sejak awal mereka sudah menjadi makhluk abadi … .

Mungkin ada yang belum menyadarinya, mungkin juga ada yang sudah. Di sini, saya akan mulai membawa Anda berjalan-jalan menuju keabadian. Tapi sebelum itu … kita semua harus mati.



Ray

Setelah beberapa saat, akhirnya kereta yang kutunggu tiba. Tanpa menunggu lama, aku segera masuk dan mencari tempat dudukku, menyandarkan punggung, lalu mengeluarkan laptopku. Sudah lama aku tidak menulis.

Ah! Aku baru sadar, suara Re sudah tidak pernah muncul di kepalaku (tapi astaga … rasanya masih saja tetap aneh menyebut namanya).

“Re? Kamu di sana?” Batinku, dan sontak kugelengkan kepalaku, menyadari betapa aku seperti orang yang sudah benar-benar gila. Seharusnya sebelum ini, aku pergi ke psikiater dulu. Ah, sialan. Nanti saja deh, setelah dari rumah Mbah Rati.

“Aku di sini,”  jawaban itu mengagetkanku. Aku memperhatikan sekeliling, berharap tidak ada orang yang akan menganggapku aneh—dan memang tidak ada. Syukurlah.

Sialan! Ingin sekali rasanya aku memukul-mukul kepalaku, mengenyahkan suara menyebalkan itu. Aku kenapa??!

“Kamu tidak apa-apa, kok,” balas Re.

“Gak! Mari perjelas ini. Kamu bukan diriku! Apa kamu hantu?” tanpa sadar, aku mengucapkan kalimat itu dengan keras. Reflek, aku meraih ponselku dan menempelkannya di telinga, pura-pura sedang menelepon. Entah kenapa, aku merasa seperti mendengar suara seseorang terkekeh. Entah itu Re, atau orang yang duduk di belakangku, aku tidak yakin. Tapi bodo amat.

“Baik jika itu memang mau kamu. Kalau begitu aku bukan dirimu. Puas?” jawab Re kemudian. Hmm … itu lebih baik.

“Kalau begitu siapa kamu?” tanyaku kemudian.

“Anggap saja aku hantu dari masa lalumu. Aku di sini untuk membantumu mengingat. Bukankah itu alasanmu melakukan perjalanan ini?”

“Hantu masa lalu … ya? Nenek moyang? Khodam?” kudengar lagi suara tawa, kali ini terbahak. Sudah kuduga. Itu memang dia.

“Bukan. Sudah kubilang aku adalah dirimu. Tapi kamu menolaknya. Jadi anggap saja aku hanya serpihan memori dari kehidupanmu yang dulu, juga kehidupanmu di masa depan.”

“Dari masa depan juga? Jadi kau tahu masa depanku?” aku tertarik dengan kata-kata terakhirnya.

“Yah, bisa dibilang. Karena konsep waktu itu tidak berubah. Dia tetap. Masa lalu, masa kini, masa depan, semuanya adalah bagian dari satu kesatuan.”

“Kalau begitu beritahu aku masa depanku! Buktikan bahwa aku tidak sedang berhalusinasi!”

“Tidak bisa. Aku di sini hanya untuk membimbingmu, bukan membocorkan rahasia alam semesta kepadamu.”

“Ah, tai! Ngomong-ngomong, aku ingin menulis. Tapi ini rasanya aneh. Aku tidak bisa menulis lagi … menggunakan nama “Re”. Kau sudah mencuri nama itu dariku!” keluhku sambil menatap layar laptopku, merasa sedikit sebal.

Lihat selengkapnya